
"Tidak.. itu tidak akan terjadi, yang kamu pikirkan tidak akan terjadi" Raka menggelengkan kepalanya dan terus menggelengkan kepalanya
"Jangan sampai berpikir kesitu, sebaiknya kamu istirahat sekarang, hilangkan semua pikiran yang mengganggu pikiranmu" Raka menghapus air mata yang mulai menetes, mencoba untuk tidak memperlihatkannya pada Shasa
Hhiiik... Hhiiik... Hhiiik.. Shasa menangis terisak, membuat Raka tidak tenang.
Raka mencoba untuk tersenyum, dan melepaskan pelukannya pada Shasa, dia memegang lengan Shasa dan membuatnya untuk melihat dirinya
"Hei.. kenapa menangis? Kamu Jangan takut, jangan takut,, aku akan selalu ada di sisimu, aku akan selalu ada di dekatmu, aku tidak akan meninggalkanmu sedikitpun," ucap Raka dan kembali untuk mencium kening shasa
"Aku berjanji tidak akan meninggalkanmu" ucap Raka lagi
"Sekarang waktunya untuk makan siang, kamu mau makan apa? Biar Surti memasak untukmu" ucap Raka lagi
"Sekarang jangan menangis lagi, aku akan ikut sedih jika kamu bersedih" ucap Raka dengan senyum manis di bibirnya sambil mengusap air mata Shasa, mencoba untuk membuat Shasa Tersenyum dan melupakan hal-hal yang mengganggu pikirannya
"Tersenyumlah,, itu akan jauh lebih baik"
Shasa berusaha untuk menunjukkan senyumnya pada Raka, meski masih terisak seperti anak kecil. Dan kembali untuk menyandarkan kepalanya pada dada Raka
Raka memeluknya dengan erat, ini pertama kalinya iya melihat Shasa seperti itu, Membuat hatinya begitu sakit, namu Raka tetap mencoba untuk terlihat tegar. Dia tidak ingin memperlihatkan kesedihannya pada Shasa, karena itu bisa saja membuat Shasa Makin bersedih
Hari cepat berlalu kini malam telah tiba, Shasa yang duduk bersandar di tempat tidurnya, makin terlihat memperihatinkan.
Seluruh tubuhnya terasa lemas, dan dalam hatinya sedang menerka-nerka! Jika mungkin hidupnya tinggal beberapa hari lagi atau mungkin dia akan segera mati
"Tuhan,, aku mohon beri aku sedikit waktu, aku mohon Padamu" dalam hatinya memohon dengan harapan yang sangat iya harapkan
Shasa menghela nafas, mendongakkan kepalanya, melihat langit-langit kamarnya! rasa takut yang membuatnya gelisah Membuatnya menangis, namun itupun sudah tidak terlihat, air matanya sudah mengering, Membuatnya tidak bisa lagi meneteskan air mata.
"Hidup benar-benar sudah mempermainkan ku, aku di beri kebahagiaan, dengan beberapa orang yang sangat baik padaku, mereka semua menyayangi dan mencintai ku, tapi untuk apa itu semua? Untuk apa aku merasakan kebahagiaan itu jika hanya sementara saja? Aku ingin hidup, aku ingin hidup bahagia, sebagaimana orang-orang di luaran sana merasakan kebahagiaan yang iya inginkan" Shasa bergumam pada diri sendiri, mengeluh atas hidupnya sendiri yang iya rasa begitu mempermainkannya.
Shasa tercengang, secara tiba-tiba Raka mengecup keningnya, tanpa iya duga dan tanpa iya sadari Raka sudah duduk di depannya
"Kamu.. sejak kapan kamu masuk?" Tanya Shasa
Raka mengelus pipi Shasa dengan manja dan menatapnya
"Sedang melamun kan apa? sampai-sampai aku masuk kamu tidak menyadarinya? Bahakan aku duduk di hadapanmu pun kamu tidak sadar?"
Shasa Tersenyum, menyentuh wajah Raka dengan kedua tangannya, dan mengecup bibir Raka
"Aku sedang memikirkan sesuatu yang ingin aku makan malam ini, siang tadi masakan Surti semuanya hambar, tidak ada rasanya, jadi sebelum Surti masak aku memikirkan menu yang perlu iya masak, dan mengingatkannya agar dia menambahkan garam pada setiap masakannya" jelas Shasa
__ADS_1
"Bagaimana jika malam ini aku yang masak untukmu? Aku akan memasak menu masakan yang enak untukmu" Ucap Raka
"Apa kamu bisa?" Tanya shasa
"Tentu saja bisa, aku jago masak loh.." ucap Raka menyombongkan diri
"Kalau begitu aku mau kamu yang masak" tutur Shasa
" baik tuan putri... Sekarang aku tinggal sebentar, aku akan masak untukmu, memasak masakan yang lezat" ucap raka
Shasa Tersenyum dan mengangguk
"Aku akan menunggu dan mencicipi masakan mu".ucap Shasa
Setelah Raka berjalan keluar, Shasa kembali untuk bersandar dan termenung.
"Hhheeemmm...." Shasa sesekali menghela nafasnya, mencoba untuk menenangkan hatinya
Raka berdiri terdiam di dapur, dengan kepala tertunduk
Raka menarik nafas dan menghembuskannya
"Hhhh ffuuuuhhh..." Raka mendongakkan kepalanya, dan menghapus air mata yang menetes di pipinya
Raka mengambil wajan dan mulai untuk memasak
"Tuan ini pekerjaan Surti, biar aku yang mengerjakannya,. Sebaiknya anda menemani nyonya Shasa" ucap Surti
"Tidak Surti.. Shasa ingin memakan masakanku" ucap Raka
"Katanya,, masakanmu siang tadi hambar Membuatnya tidak berselera untuk makan" ucap Raka lagi
"Tidak mungkin,, aku masak seperti biasa tuan, aku tidak mengurangi apapun dalam masakan itu" ucap Surti
"Aku tahu," ucap Raka
"Lalu nyonya Shasa?" Tanya Surti penasaran
Raka menggelengkan kepalanya, raut wajahnya terlihat begitu sangat menyedihkan, air matanya menetes tanpa henti, namun iya tetap memasak untuk Shasa
Raka memasak beberapa hidangan dan menyuruh Surti untuk menyiapkannya di atas meja, sementara itu Raka ke kamarnya untuk memanggil Shasa
Kleek... Raka membuka pintu dan Tersenyum saat melihat Shasa duduk di sisi ranjang dan melihatnya
__ADS_1
"Raka kamu sangat lama, aku sudah kelaparan karena menunggumu" ucap Shasa sambil tersenyum
"Maaf karena sudah membuatmu menunggu lama, sekarang Surti sudah menyiapkannya makanannya, kita kesana yuk.. selagi makanannya masih hangat" ucap Raka
Shasa mengangguk
Raka memegang lengan Shasa membantunya untuk berdiri, dan menggandeng tangan Shasa keluar dari dalam kamar
Surti dengan cepat menarik kursi saat melihat kedua majikannya, sudah datang dan kini berjalan ke arahnya
"Tuan.. nyonya.. silahkan" ucap Surti
Raka membantu Shasa untuk duduk, dan iya pun duduk di samping Shasa
"Ini,, aku masak hanya untukmu! silahkan di cicipi" ucap Raka
"Wah... Kelihatannya enak dan lezat" Shasa Tersenyum
Raka memberi makanan ke piring Shasa
"Silahkan di cicipi" ucap Raka sambil menyuapi Shasa
"Shasa membuka mulutnya dan membiarkan Raka untuk menyuapinya.
Raut wajah Shasa seketika berubah hingga mengerutkan keningnya
"Ini sama saja dengan yang kemarin, ini hambar, Raka aku ingin menambahnya dengan garam" ucap Shasa
Raka tidak merespon permintaan Shasa, Raka terdiam dengan raut wajah sedihnya, dia tahu jika masakannya sama sekali tidak bermasalah, hanya saja Shasa yang tidak merasakannya. Kini Indra pengecap nya hilang itu yang membuat Raka begitu khawatir
Shasa terus menaburi garam pada masakan Raka dan sesekali mencicipinya tapi itu tetap saja hambar Membuatnya jadi parno
"Sudah,, jangan menaburinya lagi" ucap raka
"Tapi Raka,, aku tidak merasakan apa pun sebanyak apapun aku menaburi garam"
Raka berdiri dan memeluk Shasa yang masih duduk
"Aku tahu.." Raka mengelus punggung Shasa
"Raka,, aku tidak merasakan apa-apa, apa sekarang Indra pengecapku hilang? Kenapa? Kenapa aku sangat tidak beruntung?" Shasa melepas sendok yang ada di tangannya
"Penyakit pada diriku, sudah begitu menyiksaku. Tapi kenapa? Apa itu belum cukup sehingga Indra perasa aku pun kamu hilangkan?" Shasa merasa kesal dan mengeluh pada Tuhannya
__ADS_1
"Raka.."
Shasa membalas pelukan Raka dan menangis dengan keras