
Ratna mengangguk saat bertatapan mata dengan Andra dan memperlihatkan senyum di bibirnya, namun sikap ramahnya itu tidak mendapat balasan dari Andra!
Andra malah melihatnya dengan tatapan jutek, karena tahu jika Ratna adalah ibu kandung dari Raka, Andra jadi ilfil padanya karena kejadian tempo lalu dan kejadian hari ini yang sudah melibatkan Shasa! membuat Andra jadi membenci Raka, dan menganggap jika Raka itu adalah musuhnya, dan melampiaskan amarahnya itu untuk mendiami Ratna
"Tuan,," tiba-tiba David bersama dengan dokter Dafa berjalan masuk menghampiri mereka
Saat dokter Dafa sudah mendekat pada Shasa dokter Dafa menyempatkan diri untuk menyapa Shasa
"Nona Shasa" ucap dokter Dafa dan Tersenyum padanya! Dan dengan cepat melihat dan memeriksa kaki Shasa yang terluka
Dokter Dafa terlihat membersikan darah yang sudah kering yang menempel pada kulit kaki Shasa, yang membuat Shasa harus meringis kesakitan.
Melihat adik kesayangannya itu, berusaha untuk menahan sakit, membuat Andra yang tidak tega untuk melihatnya menegur Dokter Dafa
"Apa tidak bisa kamu melakukannya tanpa menimbulkan rasa sakit?" Ucap Andra
"Tuan,, ini terlalu dalam, Bagaimana jika Sebaiknya nona Shasa di bawah ke rumah sakit" ucap dokter Dafa yang tengah memberi saran pada Andra, sambil melihat Andra yang berdiri sampingnya
"Tidak,, aku tidak ingin ke rumah sakit," jawab Shasa dengan cepat menolak saran dari dokter Dafa
"Tapi nona.." Sebelum Dokter Dafa menyelesaikan ucapannya. Shasa melihat Andra sambil menggelengkan kepalanya, dan memperlihatkan raut wajah dengan tatapan yang menandakan jika dia tidak ingin di bawah ke rumah sakit. Dengan isyarat dari shasa pun langsung mendapat tanggapan dari Andra.
Andra sudah tahu betul jika Shasa tidak suka dengan rumah sakit, jadi dia akan memenuhi Semua permintaan dari saudarinya itu
"Dokter Dafa.. jika anda tidak bisa mengobati luka Shasa , aku bisa mencari dokter lain," jelas Andra meski dia terlihat tenang, namun dokter Dafa mengerti dengan maksud dari ucapannya itu. dengan tatapan yang mengancam membuat dokter Dafa menelan ludah dan kembali untuk memeriksa luka shasa
"Bisa,, bisa,, aku bisa melakukannya! Tuan Andra jangan khawatir" jelas dokter Dafa dengan cepat memberi balasan pada ucapan Andra yang seakan-akan ingin membuatnya susah jika dia mundur dari tugasnya itu
"Shasa,, Tante harus pergi sekarang! Ada hal yang perlu Tante kerjakan." Ucap Ratna yang dari tadi hanya terdiam dan melihat apa yang mereka lakukan
Shasa mengangguk, dan merasa tidak enak pada Ratna, karena sikap Andra padanya tidak terlalu baik
__ADS_1
"Tante maaf jika tidak meladeni Tante dengan baik," tutur Shasa sambil tersenyum pada Ratna
"Tidak apa-apa, itu wajar karena kamu sedang sakit. Jangan banyak berfikir! Tante sekarang pamit" jelas Ratna dan memperlihatkan senyum di bibirnya sambil melangkahkan kakinya berjalan keluar dari kediaman andra
***
Disisi lain di kediaman Santoso, pagi itu Veri terlihat datang dan langsung menemui Santoso di ruang kerjanya, Veri terlihat berbisik kepada Santoso, yang membuat Santoso membelalakkan matanya dan memperlihatkan ekspresi wajah yang sangat marah
Santoso berdiri dan dengan marah dia menghantam meja dengan tinju dari jemari tangannya dengan sangat keras
"Benar-benar wanita tak tahu diri, tak tahu di untung, aku sudah memberinya waktu untuk menyesali perbuatannya, tapi dia malah memilih untuk kabur!" Ucap Santoso sambil tersenyum
"Hemmm.. Baik.. kita lihat sekarang aku tidak perlu untuk segang kepadanya, dia yang memilih jadi untuk apa aku mempertahankannya."tegas Santoso
"Sekarang kamu lapor polisi, aku ingin lihat, dengan cara apa lagi dia memohon kepadaku untuk membela diri" perintah Santoso pada Veri asistennya
"Baik tuan" jawab Veri dengan patuh
***
"Cepat.. tidak lama lagi jam penerbangan kita, jangan sampai kita telat dan ketinggalan pesawat" triak Dara pada Dila yang masih ada di dalam rumah
"Dara,, apa menurutmu kita bisa berhasil lolos dari pengawasan Santoso?" Tanya Erik yang merasa ragu dengan apa yang sekarang iya lakukan
" Kenapa? Apa kamu mulai meragukan ku? Ini sudah tiga belas tahun lamanya, aku selalu membodohinya! Tapi dia tidak pernah tahu tentang hal itu. Jangan banyak berfikir, cepak naik ke mobil." Jelas dara, yang membuat Erik hanya bisa patuh dan menurutinya
Dila yang keluar dari dalam rumah, membawa barang yang cukup banyak dia dengan cepat memasukkan barang-barangnya itu ke bagasi mobil
"Apa yang kamu lakukan? Untuk apa membawa barang sebanyak itu?" Tanya dara
"Ma,, semua itu adalah barang kesukaan Dila."
__ADS_1
"Tidak,, kamu tidak perlu membawa Semuanya, mama bisa membelikannya untukmu, mama janji akan menggantikannya. Tinggalkan semua itu dan cepat naik ke mobil" tegas Dara
Dila mengangguk dan menurut apa yang di katakan oleh mamanya, dia meninggalkan barang-barang yang sudah susah payah iya kemas , dan naik ke mobil. Tapi sebelum mobil Mereka melaju untuk meninggalkan tempat itu, mobil Santoso menghadangnya dari depan.
Veri yang mengemudi mobil Santoso, dengan cepat turun dari mobil dan membukakan pintu mobil untuk Santoso
Santoso turun dan dengan santai berjalan menghampiri mobil Dara, yang ada di depan mobilnya sambil Tersenyum.
Dara, Erik serta Dila, memasang wajah cemas melihat kehadiran Santoso yang begitu tiba-tiba muncul di hadapan mereka.
"Sial.. bagaimana dia bisa tahu tempat ini?" Ucap dara sambil memukul stir mobilnya
"Ma,,, Bagaimana ini?" Tanya Dila yang sudah terlihat panik dan takut sambil terus melihat Santoso yang sudah berdiri di samping mobilnya dan di dampingi oleh Veri yang ada di dekatnya
Tidak menunggu lama saat Santoso sudah sampai, dua mobil polisi pun datang dan tiga anggota polisi terlihat keluar dari dalam mobil itu dan berjalan menghampiri Santoso yang tengah berdiri di samping mobil Dara yang masih tertutup rapat.
"Tuan Santoso" sapa salah satu dari anggota polisi yang kini sudah berdiri di depannya sambil mengangkat tangannya hormat di depan Santoso.
Santoso mengangguk membalas sapaan itu, dan memerintahkan mereka untuk menangkap Dara, suami dan anaknya.
Sala satu anggota polisi itu melangkahkan kakinya, mengetuk jendela kaca mobil Dara, mengharap agar dara mau bekerja sama dan membuka pintu mobilnya.
"Ma,, apa kita akan di masukkan dalam penjarah" tanya Dila saat melihat polisi yang terus mengetuk kaca jendela pintu mobilnya
"Diam jangan banyak bicara" bentak Dara, yang sedang mencari akal agar dia bisa pergi dari tempat itu
Tok.. tok.. tok..
"Nyonya Dara,, harap kerja sama dari anda, cepat buka pintu mobil anda" kata dari polisi itu, namun tidak ada respon dari dalam mobil
"Dara,, ada baiknya jika kita turun dan menyerahkan diri. Kita tidak akan bisa lari lagi dari sini!" Ucap Erik
__ADS_1
"Benar apa yang dikatakan oleh papa, ma..! Sebaiknya kita turun agar Santoso tidak tambah marah lagi, dan memberi kita sedikit kemudahan." Jelas Dila yang mencoba untuk membujuk Dara (mamanya)