
Setelah dua hari telah berlalu, Laura yang ada di dalam kamarnya, menangis tersedu-sedu. Matanya memerah dan membengkak, karena Setelah dua hari itu.. dia belum juga bisa untuk melupakan, tamparan yang di terima dari papanya sendiri
Selama dua hari, dia terus mengunci diri di dalam kamar dan tidak ingin menemui siapapun! dan dari itu karena tidak ingin menemui siapapun, Laura menahan lapar dan hausnya, dia sekarang mulai lemas dan tidak bertenaga, karena dia hanya memakan makanan ringan yang terdapat di dalam kamarnya dan meminum minuman yang kini tinggal seteguk lagi.
Debi yang tidak tega melihat putrinya mengurung diri didalam kamar! terus menerus mencoba untuk membujuknya agar dia mau keluar, dan terus berusaha membuat Laura agar mau makan dan minum
"Sayang jangan begini terus, itu tidak akan membuat masalah selesai jika kamu, terus-terusan didalam kamar! Keluarlah dan makan sesuatu, kamu akan sakit jika tidak makan" ucap Debi dari luar pintu
"Laura dengarkan mama sayang, tolong buka pintunya dan keluar
Laura hanya mendengarkan perkataan dari mamanya namun tidak menghiraukannya, Laura berdiri dan berjalan mengambil makanan ringan yang ada di dalam lemari kecilnya yang khusus untuk menyimpan Snack dan beberapa minuman kaleng.
Laura membuka dan memakan Snack yang ada di tangannya, dia tidak peduli dengan apa yang di ucapkan pada Debi yang terus mengetuk pintu dan menyuruhnya untuk keluar
Irawan yang mendengar suara istrinya terus menerus mengetuk pintu dan memanggil-manggil Laura, berjalan dan menaiki anak tangga menghampiri Debi yang berdiri di luar pintu kamar Laura.
"Ma,, apa kamu tidak bosan setiap hari berteriak dan mengetuk pintu itu" Irawan yang melihat istrinya dengan raut wajah yang gelisah dan cemas menegurnya
"Pa,, apa kamu sama sekali tidak peduli dengan putri kita? Ini sudah dua hari dia mengurung diri di dalam kamar, dia tidak makan dan minum! Bagaimana jika terjadi sesuatu padanya?" Tutur Debi pada Irawan yang tengah berdiri di sampingnya
" sudahlah ma,,! Biarkan dia sadar diri dengan apa yang telah dia lakukan, kita melakukan semuanya hanya untuk dirinya semata, hanya untuk kebahagiaannya sendiri! tapi apa yang iya lakukan? Dia menghancurkannya begitu saja hanya dengan sekejap" Irawan yang tidak peduli padanya Membuat Laura merasa lebih sakit hati, dia yang mendengar perdebatan kedua orangtuanya di luar pintu kamarnya, menaruh Snack yang ada di tangannya dan berbaring di tempat tidurnya meraih bantal dan menutupi kepalanya
"Pa,, apa papa yakin ini untuk kebahagiaan putri kita? Tapi kenyataannya sekarang apa? Dia sama sekali tidak bahagian. Jadi untuk apa kita melanjutkan lagi? Pa,, tolong sadarlah, Laura tidak menginginkan pertunangan ini! Biarkan dia memilih kebahagiaannya sendiri, kasian dia pa.." Debi berusaha untuk membujuk suaminya itu, namun Semuanya hanya sia-sia. Keras Kepala Irawan tidak bisa di hancurkannya dan tetap pada pendiriannya
"Sudahlah, papa capek. Sekarang mama tidak perlu membujuknya, papa yakin setelah dia tidak tahan, dia akan keluar sendiri Tampa di minta" tutur Iran sambil berjalan menuruni anak tangga
"Pa,, papa benar-benar tidak punya rasa kasihan? Ingat dia itu putri kita satu-satunya, kenapa papa terlalu keras padanya?" Teriak Debi pada Irawan yang sudah menuruni anak tangga
Laura meski sudah menutupi kepalanya dengan bantal, namun dia tetap bisa mendengar jelas perkataan dari orang tuanya. setelah tidak mendengar lagi perdebatan dari mereka di luar kamar, Laura bangun dan mengambil ponselnya dan menghubungi Dilan kekasihnya.
Laura mencoba untuk menghubungi Dilan namun tidak ada jawaban darinya,
__ADS_1
Tet.. tet.. tet. Panggilannya terus saja terputus, Membuat Laura yang merasa kesal tambah jadi kesal
"Kamu dimana sekarang? Sekarang aku membutuhkanmu tapi kamu malah mematikan ponselmu" gerutu Laura
"Apa kamu sedang bekerja? Atau jangan-jangan.." Laura menggelengkan kepalanya
"Tidak,, tidak mungkin! Aku percaya padanya, Laura apa yang kamu pikirkan?" Laura yang berdalih dari ucapanya sendiri memukul kepalanya dan terus menggeleng.
Laura melempar ponsel yang ada di tangannya dan kembali untuk berbaring, laura berbaring terlentang melihat langit-langit kamarnya mencari sebuah ide, yang dapat dia gunakan untuk dapat mengelabuhi orang tuannya, agar mau membatalkan pertunangan itu.
Laura bangun dan duduk, dia menghela nafas panjang, merasa putus asa dengan masalah yang tengah iya hadapi
***
Setelah dua hari Andra duduk terdiam di dalam ruang kantornya, memikirkan Shasa yang selama dua hari ini mengurung diri di dalam kamar.
"Apa yang terjadi padanya? Apa dia tahu soal pertunangan Raka? Apa karena itu dia mengunci diri dari dalam kamar?" Andra bertanya-tanya sendiri pada dirinya sendiri
Tok.. tok.. tok.. suara ketukan pintu terdengar
"Masuk.." Andra melihat kearah pintu yang di buka dari luar dan melihat Leo tengah melangkahkan kakinya berjalan masuk
"Tuan anda memanggilku?" Tanya Leo sambil menundukkan kepalanya dengan hormat
Andra mengangguk dan terdiam sesaat menatap Leo yang berdiri di hadapannya, Sebelum bertanya. dia mencoba mencari tahu sendiri jawaban yang dia inginkan, dari ekspresi wajah Leo, namun untuk saat itu Leo berdiri dengan santai di hadapannya, membuatnya sulit untuk mendapatkan jawaban itu
"Dua hari yang lalu kamu bertugas untuk menjaga Shasa," tanya Andra
" benar tuan" jawab Leo dengan cepat dan santai
"Selama dia kembali dia terus mengurung diri dikamar, meski dia mengatakan tidak ada apa-apa tapi aku yakin, ada sesuatu yang dia sembunyikan, apa kamu merasa ada yang aneh? Atau kamu tahu sesuatu yang membuat dia seperti itu?" Tanya Andra pada Leo
__ADS_1
"Aku tidak tahu apa-apa tuan!" Leo menggelengkan kepalanya
"Tapi Setelah nona Shasa keluar dari klinik antoni, dia memang sudah menangis tuan! Tapi dia tidak mengatakan apapun" jelas Leo
Mendengar penjelasan Leo, Andra kembali berpikir dan menerka-nerka
"Apa itu tidak ada hubungannya dengan Raka? Melainkan dokter Antoni? Atau putranya?" Ucap Andra dalam hatinya
"Baik sekarang kamu pergi!" Ucap Andra
"Baik tuan" Leo kembali menundukkan kepalanya dan berbalik berjalan menuju pintu untuk keluar
"Sebentar,," Andra tiba-tiba menghentikan Leo yang sudah membuka pintu untuk keluar dari ruangan itu
" aku ingin mengundang dokter Antoni dan putranya dokter Rendi, dan jangan lupa undang juga rita" tutur Andra
"Baik tua" ucap Leo dengan patuh dan berjalan meninggalkan ruangan itu.
Belum lama Leo keluar, terdengar pintu ruangan itu terketuk lagi
Tok.. tok.. tok..
"Masuk" ucap Andra
David pun masuk dan menundukkan kepalanya pada Andra yang tengah duduk di hadapannya
"Tuan,, nona Dona terlihat sangat lemas! Beberapa hari ini dia tidak mau makan dan minum, apa yang harus kita lakukan? Dan sedangkan nona Susi sedang sakit"
"Biarkan saja seperti itu, setelah dia mati buang mayatnya dan rekayasa soal kematiannya, itu sangat mudah untuk kalian" jelas Andra
"Tapi tuan,," ucapan David terhenti saat Andra menatapnya dengan tajam. Andra berdiri dan menghampiri David
__ADS_1