
Sesampai di ruangannya, Raka yang merasa gerah akibat api cemburu yang telah membakar di tubuhnya,
Membuatnya membuka jasnya dan menggantungnya di kursi besarnya.
Raka duduk dan memegangi dahinya, mengingat akan kejadian pagi ini di kediamannya,
mengingat bagaimana Rendi memperlakukan Shasa dengan sangat begitu mesra di depannya, Raka merasa cemburu dengan kedekatan mereka berdua,
dengan tiba-tiba Raka yang merasa marah, menghentakkan tangannya di atas meja dengan keras, suara keras akibat hantaman meja membuat Romi dan lola jadi kaget saat hendak masuk ke dalam ruangannya itu.
Mereka berdua tiba-tiba berhenti untuk melangkah, mengetahui bos direkturnya sedang marah.
Keduanya saling bertatapan dan melontarkan tanda tanya melalui mata mereka.
Raka yang sedang dalam suasana hati yang buruk, melihatnya dan menegur Romi dan Lola
"Apa yang kalian lakukan di sana?" Tanya Raka, saat melihat mereka tengah mematung
Romi dan Lola, saling memberi isyarat untuk menghadap pada atasannya itu, Namun mereka berdua tidak ada yang berani untuk maju.
Raka menatap mereka dengan mengerutkan keningnya.
"Apa yang kalian lakukan?" Tanya Raka lagi dengan pertanyaan yang sama dengan suara yang lebih keras lagi.
Lola dengan perasaan takut, memberanikan diri untuk maju
"Bos,, ini laporan yang anda minta" Lola dengan cepat melangkahkan kakinya membawa berkas laporan yang ada di tangannya itu dan menyimpannya di atas meja kerja raka. Dan setelah itu dengan segera Lola menundukkan kepalanya dan pamit untuk keluar.
Melihat Lola membuka pintu untuk keluar dari ruangan Raka, Romi pun tak tinggal diam, ia pun melangkahkan kakinya mengikuti langkahnya Lola untuk keluar.
"Kamu mau kemana?" tanya Raka dengan suara yang seakan ingin menerkanya
"Ha... Itu bos,, itu aku ada hal yang penting untuk aku bicarakan dengan Lola," jawab romi dengan terbata-bata mencari alasan agar bisa pergi dari ruangan yang sudah hampir membeku itu.
Raka menaikkan satu alisnya dan berdiam sesaat.
"Hal penting? Apa kalian memiliki hubungan pribadi?"tanya Raka dengan tatapan yang sinis
"Jangan menggabungkan urusan pribadi kamu di dalam pekerjaanmu" jelas Raka untuk memberi peringatan pada romi
"Tidak bos,, itu tidak benar" jelas Romi dengan cepat
"Ini menyangkut dengan pekerjaan, benar.. kalau begitu aku permisi dulu" dengan cepat Romi berjalan keluar Tampa menunggu persetujuan dari Raka.
Setelah romi berlalu, Raka bersandar di kursi, sambil melihat langit-langit ruangan kantornya itu dan kemudian menutup mata,
__ADS_1
Menarik nafas dalam-dalam
"Hheemmm.. dan menghembuskannya dengan kasar
mencoba untuk melupakan dan menghilangkan rasa marah dalam hatinya, dengan cara mengingat kenangan bersama Shasa semalam, bagaimana dia memeluk dan mengecup keningnya, dan bagaimana dia mengerjainya pagi ini,
Dengan ingatan itu, Raka mulai menampakkan senyum di bibirnya. Namun itu tidak berlanjut lama
Tok.. tok.. tok..
Tiba-tiba ketukan pintu dari luar terdengar, Raka tersadar dari lamunannya dan memberi respon dari seseorang yang telah mengetuk pintu dari luar.
"Masuk" jawabnya tegas
Tidak menunggu lama
Kleek...
Pintu terbuka dan Lola terlihat sudah berdiri di ambang pintu
"Bos ada seorang wanita, yang ingin bertemu dengan anda" ucapnya dan menundukkan kepalanya
Sebelum Raka menjawab Lola,
"Nona tunggu,,," panggil Romi yang terlihat mengejar wanita itu untuk menghentikannya, namun wanita itu terlanjur masuk kedalam ruang kantor Raka.
Raka memandang wanita yang baru masuk Tampa mengatakan apapun, dan Tampa menyambut kedatangannya.
Sedangkan wanita yang baru masuk hanya berdiri dan menatap sinis pada Raka, yang duduk dan tidak berkata apa-apa, ataupun menanyainya
Wanita yang kini berdiri di depannya, melihat di sekelilingnya, mengamati setiap sudut dari ruangan itu, melihat bagaimana ruangan itu yang terlihat sangat bersih dan rapi.
Wanita itu berjalan mendekat pada meja kerja Raka dan menaruh tas yang ia bawa Tampa mengatakan apapun.
Romi dan Lola saling menatap, merasa bingung dengan sikap kedua orang yang ada di dalam ruangan itu.
"Siapa wanita itu? Tanya Lola penasaran, sambil berbisik pada Romi.
Sebagai jawaban Romi hanya menaikkan kedua bahunya, dan di ikuti kedua alisnya.
Raka yang memandangi wanita itu sejak dia masuk ke dalam ruangannya, menarik nafas dalam-dalam dan membuangnya.
"Apa yang membuatmu kemari?" Raka yang tidak bisa tinggal diam lebih lama lagi, akhir membuka mulut dan menanyai wanita itu.
Sedangkan Wanita itu tersenyum karena telah mendengar Raka sudah mulai buka mulut untuknya.
__ADS_1
"Kenapa? Apa tidak
Boleh mengunjungi kantor tunangan sendiri?" Jawab wanita itu, yang tak lain adalah Laura
Romi dan Lola yang berdiri di ambang pintu tidak sengaja membuka lebar mulutnya, mendengar apa yang di ucapkan pada wanita itu.
Mereka berdua dengan cepat menundukkan kepalanya dan berjalan mundur untuk keluar dari ruangan dan tidak lupa untuk menutup pintu
"Apa kamu mendengarnya? Wanita itu adalah tunangan bos direktur, " ucap Lola merasa tidak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya
Romi menggelengkan kepalanya.
"Aku sebagai asisten pribadi direktur sudah cukup lama, tapi,,, dalam waktu dekat ini banyak hal yang tidak aku ketahui, apa bos sudah tidak mempercayaiku lagi?" Ucap Romi dan mendengus kecewa
"Hheemm..." Raka membuang kasar hembusan nafasnya,
"Sejak kapan aku mengatakan setuju untuk bertunangan denganmu? Aku sama sekali tidak tertarik untuk menjadikanmu sebagai tunangan," jelas Raka sambil tersenyum.
"Tuan Raka,, orang tua kita sudah pada setuju..
"Tapi aku tidak" Raka dengan cepat memotong pembicaraan laura.
"Nona Laura jujur Aku tidak menyukaimu dan di hatiku kini sudah terisi dengan orang lain, jadi aku sarankan agar kamu menolak perjodohan ini" ucap Raka Tampa berbasah basi mengeluarkan apa yang harus di katakan nya.
Laura terdiam, tidak menyangka Raka dengan santainya mengatakan tidak menyukai dirinya.
"Kenapa? Apa aku kurang mempesona untukmu? tanya Laura dengan raut wajah yang terlihat kecewa
Raka tersenyum
"Kamu sama sekali tidak menarik perhatianku" ucapnya dengan jujur dan sangat jelas.
Laura tersenyum mendengar kejujuran dari Raka.
"Tuan Raka kamu memang sangat pandai membuat wanita sakit hati, tapi tidak denganku.
Kedatanganku kemari, ingin menyampaikan pesan dari om Santoso, hari ini kedua keluarga kita akan mengadakan pertemuan lagi, untuk membahas tentang kelanjutan acara pertunangan kita.
Tuan Raka kamu melakukan kesalahan , dengan tidak menjenguknya di rumah sakit, sekarang om Santoso marah akan sikapmu itu, jadi ingin menikahkan mu dengan cepat agar ada yang bisa membimbingmu." Ucap Laura, sambil berjalan mendekat pada Raka, dan memegang kedua bahunya.
"Dan aku sama sekali tidak keberatan untuk menjadi pendamping mu" ucapnya lagi dan tersenyum.
"Benarkah?" Raka melangkah maju, meski jarak dia dan Laura sudah cukup dekat, tapi itu tidak menghentikan Raka untuk terus melangkahkan kakinya.
Laura tidak begitu percaya diri, dia mundur saat Raka melangkah maju, hingga akhirnya punggung Laura sudah membentur dinding ruangan itu, dia tidak bisa lagi untuk mundur, atau pun menghindar dari tatapan Raka yang seakan-akan ingin menerkanya hidup-hidup
__ADS_1