
"Shasa apa kamu baik-baik saja?" Tanya Andra saat melihat Shasa yang sudah begitu kesakitan.
"Kak,," Shasa menggelengkan kepalanya dengan air mata yang mengalir
"kak Andra.. Shasa kesakitan! ini sangat menyakitkan, Shasa sudah tidak kuat! Shasa tidak bisa menahan rasa sakit ini, ini sangat menyiksa Shasa" jelas Shasa sambil memegang atas dadanya, dan bersandar di lengan Andra
"Shasa beritahu kakak, apa yang harus kak Andra lakukan?"tanya Andra
"Tuan,, mungkin saja nona Shasa membawa obat untuk meredahkan rasa sakitnya," jelas David, yang juga merasa tidak tega Mendengar keluhan dari Shasa
"Benar.. Shasa obat, obat kamu di mana?" Tanya Andra yang sudah panik melihat keadaan saudarinya itu
Shasa menggelengkan kepalanya
"Shasa tidak membawanya" jawab Shasa
"Percepat mobilnya dan cepat hubungi dokter Dafa" perintah andra setelah mendengar jawaban dari Shasa
"Biak tuan" jawab David mengangguk dan setelah itu menambah kecepatan laju mobilnya dan menghubungi dokter Dafa seperti apa yang di perintahkan oleh majikannya
Karena Sesak nafas Shasa yang membuatnya sulit untuk bernafas, menjadikan Shasa terlihat begitu menderita, hingga membuat Andra jadi cemas, dan tidak tahu harus berbuat apa
"Shasa tetaplah untuk bertahan, sebentar lagi kita akan sampai di rumah, dan dokter Dafa sudah di sana untuk menunggu kita" jelas Andra
Shasa tidak bisa lagi memberi balasan dari ucapan Andra, dia dengan sekuat tenaga, melawan rasa sakit di hati yang menyerangnya dan melawan sesak di dadanya.
Air mata Shasa begitu deras mengalir hingga berjatuhan di lengan Andra, membuat lengan Jaz yang di kenakan Andra menjadi basah
"Shasa jangan membuat kakak takut, bertahanlah, kakak yakin kamu bisa"
__ADS_1
"Kak,, Shasa ingin istirahat! Shasa ingin meminjam lengan kak Andra sebentar, Shasa merasa capek dan mengantuk ini sangat sakit, begitu menyakitkan! Shasa butuh sandaran, agar shasa bisa tertidur, agar rasa sakit ini bisa hilang, dan agar Shasa.." belum melanjutkan perkataannya Shasa sudah tertidur seperti yang Iya katakan, matanya tertutup dan bersandar di lengan Andra.
"Tuan.." David yang selalu memerhatikan majikannya melalui cermin, menyebut namanya saat melihat Shasa tak sadarkan diri.
Namun Andra tetap diam, iya hanya ingin berpikir positif, dan menganggap jika Shasa hanya tertidur seperti yang iya katakan.
Meski air matanya mengalir deras, tapi Andra tetap mencoba untuk tenang, dia tidak bergerak dari duduknya agar Shasa merasa tidak terganggu, dan membiarkan Shasa bersandar di lengannya Tampa menyentuhnya, ataupun mencoba untuk membangunkannya.
"Tuan kita su.." ucapan David terhenti saat melihat Andra mendekatkan jari telunjuk di bibirnya, isyarat itu mengartikan jika David dilarang untuk membuat suara.
David mengangguk dan mematikan mesin mobil, dan tetap duduk di dalam mobil. David mengambil ponsel dan menginformasikan tentang apa yang terjadi, dan memberitahu dokter Dafa, jika dia akan tetap di dalam mobil sampai Shasa terbangun.
Karena Andra tidak membiarkan siapapun Membuat suara yang bisa saja mengganggu istirahat Shasa, David menemani Andra untuk tinggal di dalam mobil, dan para bawahan ataupun ART di kediamannya tidak bisa melakukan apa-apa, sebelum Andra sendiri yang memberi mereka perintah.
Malam itu di dalam mobil begitu sunyi, tanpa ada suara dari mereka bertiga
Andra bersandar dan tetap tenang mencoba untuk menutup mata dan akhirnya pun tertidur, begitupun dengan David
Di sisi lain,, Raka yang sudah setengah mabuk, mengambil ponselnya saat mendengarnya berdering
Dan di Saat itu pula Laura yang dari tadi memperhatikan Raka, berjalan ke arahnya, menghampirinya, dan mengambil botol yang ada di tangannya
"Hei.. apa yang ku lakukan?" Tegur Raka saat Laura mengambil botol minuman yang ada di tangannya dan kemudian memutuskan panggilan yang selalu membuat ponselnya berdering
"Raka,, kamu sudah minum terlalu banyak, sudah jangan minum lagi" ucap Laura sambil menyimpan botol minuman di atas meja yang sudah dia rebut dari tangan Raka
"Kenapa tidak? Malam ini aku merasa sangat bahagia, apa salahnya jika aku merayakan malam pertunangan kita" Jelas Raka
"Sudah.. Jangan mengomentari ku sekarang, sebaiknya kamu duduk dan menemaniku untuk minum" balas Raka sambil berdiri dan meletakkan tangannya di atas bahu Laura, Raka menekan bahu laura dan membuatnya untuk terduduk di kursi
__ADS_1
Ponsel yang ada di tangan Raka kembali berdering. Dengan mata yang sayup, dan karena mabuk Raka yang masih berdiri mencoba untuk berpegangan pada meja yang ada di sampingnya agar bisa menyeimbangkan tubuhnya agar tidak terjatuh! Raka melihat pada layar ponselnya, mencoba untuk melihat siapa yang tengah menghubunginya! Raka melihatnya lebih dekat dan membaca nama yang tertera di dalam layar.
Dan Raka mendengus saat melihat nama yang tertera
"huuu,... Untuk apa dia menghubungiku? Sekarang aku tidak membutuhkannya, dan tidak punya waktu untuk menjawab panggilannya" ucap Raka dan memutuskan panggilan yang belum iya jawab
Dan kemudian menatap Laura yang sudah menatap kesal padanya
"Raka sekarang kamu sudah mabuk, kamu sudah minum terlalu banyak, berhentilah untuk minum lagi," nasehat Laura
"Dan iya om Santoso memintamu untuk menyapa tamu yang ada" ucap Laura
Ucapan itu tidak membuat Raka untuk berhenti minum, Raka kembali mengambil botol yang sudah Laura simpan di atas meja dan meneguknya sampai isi dalam botol habis dan tak bersisa, kemudian Raka menunjukkannya pada Laura dan menuang botol yang ada di tangannya untuk memperlihatkannya pada Laura
Merasa karena Raka sengaja untuk mempermainkannya, Laura jadi marah
"Raka.. kamu.." Laura menegur Raka dengan suara keras, membuat Raka yang mendengarnya sedikit mengelakkan kepalanya dan menutup satu telinganya
"Apa masalahmu? Sudah jangan memerintah ku" ucap Raka dengan nada yang keras pula, membuat Laura jadi kaget
"Laura Jangan pikir karena kita sudah bertunangan, kamu bisa mengaturku sesuka hatimu!" Tutur Raka sambil membukukan tubuhnya dan membuat wajahnya mendekat pada wajah Laura dan menatapnya sambil tersenyum
"Heemm.. Laura aku tahu kenapa kamu ingin melanjutkan pertunangan ini, dan jujur.. begitupun denganku, kita sama-sama memiliki motif tersendiri jadi bersikaplah seperti biasanya, jangan sok begitu akrab denganku" tegas Raka sambil berdiri dan membelakangi Laura
Malam itu dimana di kediaman Irawan begitu ramai dengan tamu undangan yang hadir, dan tak lepas dari sekian banyaknya tamu! namun di antara mereka yang tidak pernah dipikirkan oleh Raka akan melihatnya di acara itu, melangkahkan kakinya dan berjalan menghampiri raka.
"Kak Raka,," fiona yang sekian lama tidak bertemu dengan Raka, tanpa berpikir panjang langsung memeluknya di hadapan Laura, dan karena mabuk Raka pun membalas pelukannya itu
Fiona menangis di dalam pelukan Raka, dan terus memukul-mukul dada bidang Raka
__ADS_1
"Kak Raka,, kak Raka menolak ku, karena kakak mengatakan, kakak mencintai Shasa, tapi apa yang sedang kak Raka lakukan? Kak Raka malah bertunangan dengan Wanita lain!" Ucap Fiona tanpa berbasa-basi
"Fiona,,, apa itu kamu?" Raka melepas pelukannya dan memegang bahu Fiona, mendorongnya dengan Pelang agar bisa mundur, dan membuatnya berdiri di hadapannya.