Antara Cinta Dan Kasih

Antara Cinta Dan Kasih
Itu tidak perlu


__ADS_3

Di sisi lain, raka duduk di kursi besarnya menatapi kotak kemasan yang masih ada di atas meja. Sesekali dia tersenyum seketika mengingat akan diri Shasa yang begitu polos dan menggemaskan itu.


Romi yang berdiri, melihat atasannya begitu aneh menjadi tidak sabar untuk mempertanyakan pertanyaan-pertanyaan yang sudah memenuhi pikirannya.


"Bos, anda dan gadis pengantar ayam Kentucky itu saling kenal? Aku lihat bos begitu mempedulikannya, Dan aku rasa bos direktur sangat berbeda di saat bersamanya" Tanya Romi dan melihat kearah atasannya itu


Raka melihat Romi yang berdiri, di hadapannya dengan tatapan yang sinis


"Apa perlu aku menjawab pertanyaan mu itu?" Balas raka singkat dengan nada dinginnya


Mendengar jawaban dari pertanyaannya yang tidak di harapkan, membuat Romi menjadi tidak berani untuk menatap ke arah atasannya itu lagi


Romi menggelengkan kepalanya dan hanya melihat ke lantai


"Tidak,, Itu tidak perlu," Ucap Romi dengan gugup


"Maaf bos jika aku lancang." Ucap Romi dan terus menundukkan kepalannya


Romi yang merasa hampir membeku, dengan suasana dingin di dalam ruangan itu, Memberanikan diri untuk izin keluar


"Bos aku pamit untuk keluar jika tidak ada tugas untukku" Ucap Romi dengan sedikit memberanikan diri


Raka hanya menganggukkan kepalanya, Tampa melihat kearah Romi.


Melihat anggukan kepala dari atasannya, Romi pun dengan cepat, melangkahkan kakinya berjalan keluar dari ruangan itu


Sesampai di luar ruangan kantor Raka, Romi memegang dadanya, dan menghembuskan nafasnya dengan rasa lega. Melihat tingkah Romi, Lola yang tengah mengerjakan tugasnya, menjadi kepo lagi. dia meletakkan pena dan berdiri dari duduknya,


"Ada apa?" Tanya Lola penasaran pada Romi yang tengah berjalan menuju kursi kerjanya.


Romi menaikkan kedua bahunya, Dan menggelengkan kepalanya, membuat Lola semakin penasaran dengan apa yang terjadi, Lola kembali duduk dan kembali mengambil pena mengerjakan tugasnya, Sesekali menatap kecewa pada Romi, karena tidak mendapatkan jawaban dari pertanyaannya.


Saat Romi sudah keluar ruangan.nRaka mengusap wajahnya dengan kedua tangannya, Dia menggelengkan kepalanya

__ADS_1


"Apa yang terjadi padaku, kenapa aku selalu memikirkan gadis kecil itu. Shasa kamu sudah membuatku gelisah seperti ini, Apa yang sudah kamu lakukan padaku?" Ucap Raka dalam hatinya, dan tersenyum lagi saat seakan melihat wajah polos Shasa yang seakan ada di hadapannya.


***


Sedangkan Shasa yang sudah tertidur dengan waktu yang lama, membuka matanya dengan Pelan! Dia terus mengucek-ngucek matanya yang masih terasa berat. Shasa membuka mata dan melihat seisi ruangan dan bergegas bangun saat dia sadar bahwa, dia masih ada di klinik Antoni.


Dengan cepat Shasa melihat jam di dinding ruangan.


"Ini sudah sore, bibi saat ini pasti sedang mengkuatirkan ku. Aku harus cepat pulang"


Ucap Shasa pada diri sendiri


Shasa melihat didalam ruangan, tidak seorang pun di sana, dia turun dari tempat iya tertidur dan bergegas berjalan menuju pintu. Saat hendak membuka pintu, pintu itu sudah terbuka dari luar


Kleek.. Pintu terbuka dan terlihat dokter antoni tengah berdiri di depannya


"Shasa kamu sudah bangun?" Tanya dokter antoni


Shasa mengangguk dan memberi jalan pada dokter Antoni, agar bisa masuk ke dalam ruangan. Dokter Antoni pun masuk sambil membawa peralatan medis di tangannya


"Om terimakasih untuk hari ini, Dan Shasa mau pamit, Shasa harus cepat pulang, bibi Rita pasti sedang kuatir sekarang, aku tidak memberinya kabar sampai sore ini." Jelas Shasa


Dokter Antoni tersenyum, dan duduk di kursinya


"Jangan kuatir, om sudah menghubunginya, dan mengatakan kamu ada disini untuk membantuku." Balas dokter Antoni


" Bagaimana dengan perasaanmu sekarang?" Tanya dokter antoni lagi dan menyimpan peralatan medis itu di atas meja


"Ini sudah jauh lebih baik om," Jawab Shasa


Antoni menatap dalam pada Shasa, rasa kasihan dan ibah terdapat dalam hatinya. Shasa mendengarnya menghembuskan nafasnya dengan kasar.


"Om ada apa?" Tanya Shasa ingin tahu dan membalas tatapan dokter antoni

__ADS_1


"Shasa ini yang kesekian kalinya om memperingatkan mu, Sebelum obatmu habis kamu harus beritahu om, Apa kamu suka dengan rasa sakit yang selalu menyerang mu secara tiba-tiba?" Ucap Antoni dan berdiri menghadap pada shasa dan memegang kedua bahu Shasa dengan kedua tangannya.


"Shasa,, om sarangkan ada baiknya kalau kamu melakukan operasi, kanker dalam hatimu semakin ganas, rasa sakit itu akan menyerang mu kapan saja, meskipun kamu meminum obat anti sakit" Ucap Antoni lagi


Shasa menggelengkan kepala dan melepas tangan Antoni dari bahunya. Shasa membalikkan Badan membelakangi dokter antoni, Shasa mencoba menahan air mata yang kini membendung di kelopak matanya, Saat Mendengar perkataan dari dokter antoni


"Om penyakit ini sudah lama menjalar di dalam tubuhku, dan aku sudah terbiasa dengan rasa sakit itu. Melakukan operasi itu tingkat keberhasilannya sangat rendah, aku tidak ingin menyia-nyiakan hidupku begitu saja, Dan aku juga tidak ingin jika bibi Rita dan kak Rendi tahu soal penyakitmu ini, Aku harap Om Antoni bisa untuk tetap menjaga rahasia ini." Ucap Shasa dengan suara yang mulai serak


"Tapi Shasa cepat atau lambat mereka akan tahu, jika cara kamu mengobati diri sendiri seperti ini. Kamu sendiri yang akan membongkarnya. Sebaiknya kita beritahu mereka" Ucap dokter antoni


"Tidak" Dengan cepat Shasa memotong ucapan dokter Antoni dan berbalik menghadapnya


"Om jangan beritahu mereka, Bibi dan kak Rendi akan merasa sedih, Shasa tidak ingin itu terjadi." Ucap Shasa dan memegang tangan dokter Antoni


Air mata Shasa pun tak bisa di bendung lagi, dan berhasil keluar dari kelopak mata Shasa dan jatuh menetes membasahi pipinya.


Antoni melihat mata Shasa mulai meneteskan air mata, dengan hal itupun dia tidak tega melihatnya. Meski Shasa bukan siapa-siapa dokter Antoni, namun kasih sayangnya pada Shasa sama dengan Rendi putra kandungnya. Antoni tidak pernah membedakan Shasa dan Rendi, dia menganggap Shasa sebagai anak kandungnya sendiri, Meski tidak tahu asal usul Shasa tapi dia tetap menyayanginya.


Dokter Antoni mengelus rambut Shasa dan memeluknya.


"Sudah jangan menangis, Om janji tidak akan memberitahu mereka," Ucap Antoni


"Bener? Om tidak akan memberitahunya," Tanya Shasa dalam tangisnya dan melepas pelukan dari dokter Antoni"


Dokter Antoni mengangguk dan menghapus air mata Shasa


"Jangan menangis lagi, air matamu itu sangat berharga" Ucap dokter Antoni dengan senyum di bibirnya


"Om terimakasih" Ucap Shasa dan tersenyum


"Untuk apa" Tanya Antoni dan melangkah ke kursi dan duduk, Antoni terlihat mengambil selembar kertas dan mengamati setiap tulisan yang tertulis di dalam lembaran kertas itu


"Selama ini om sangat baik pada Shasa,

__ADS_1


Om selalu merawat Shasa saat sakit seperti ini," Ucap Shasa dan menarik kursi dan duduk di depan dokter Antoni


"Shasa sangat bersyukur bertemu dengan kalian, Kalian yang memberiku hidup sampai saat ini, dari itu Shasa janji tidak akan menyusahkan kalian lagi dan akan membalas semua jasa-jasa om, bibi dan kak rendi" Jelas Shasa dengan panjang lebar


__ADS_2