Antara Cinta Dan Kasih

Antara Cinta Dan Kasih
Itu tidak apa-apa


__ADS_3

Shasa yang mulai sadar membuka mata dan mendapati dirinya sudah berbaring di ranjang pasien rumah sakit, Shasa membuka alat bantu pernafasan (Nebulizer) yang menutupi hidung dan mulutnya! Shasa melihat sekelilingnya dan dengan cepat bangun dari tempat dia terbaring


Shasa mencoba untuk mencabut jarum infus yang terpasang di pergelangan tangannya, namun itu semua disaksikan oleh Andra yang tengah duduk di sofa


"Shasa apa yang kamu lakukan?" Dengan cepat Andra yang ada dalam ruangan itu, menegur dan menghentikannya saat melihat tingkahnya


Shasa yang tidak sadar akan keberadaan Andra yang ada di dalam ruangan itu, tercengang, untuk sesaat Shasa terdiam dan berteriak saat mulai tersadar sepenuhnya


"Kak Andra,," ucapnya sambil menangis histeris seperti anak kecil dan melihat Andra yang tengah berjalan menghampirinya


Shasa yang merasa sedih karena Raka! membuatnya tidak bisa lagi menyembunyikan kesedihannya itu


Andra berjalan mendekat pada Shasa, dan memeluknya, Saat melihat adik kesayangannya itu menangis tersedu-sedu


"Kak Andra,, Shasa sudah menyakitinya! Shasa sudah melakukan kesalahan padanya" ucapnya


"Tidak,, kakak tahu kamu melakukan itu pasti punya alasan sendiri! dan apapun alasannya kakak akan selalu mendukung mu dan percaya padamu." Jelas Andra sambil mengelus rambut Shasa mencoba untuk menenangkannya


"Tenanglah,, semuanya akan baik-baik saja! Sekarang kamu istirahat, dokter menyarankan agar kamu banyak-banyak istirahat, jangan banyak pikiran" jelas Andra sambil melepaskan pelukannya pada Shasa menghapus air matanya dan membantu Shasa untuk kembali berbaring


"Kak,, Shasa ingin pulang, Shasa tidak suka tinggal di rumah sakit, tolong bawah Shasa pulang" ucap Shasa sambil merengek dan memegang tangan Andra dengan manja


"Baik,, Kakak akan bicara pada dokter," jelas Andra lagi


Tok.. tok.. tok.. Suara ketukan pintu Dari luar terdengar, Andra menoleh melihat pintu


"Masuk" ucapnya


Dokter yang menangani shasa, terlihat membuka pintu dan berjalan masuk kedalam ruang kamar pasien yang di tempati oleh Shasa.


Dokter berjalan di dampingi oleh dua perawat wanita di belakangnya, sambil membawa alat medis di tangannya, dokter yang tak lain adalah dokter Dafa Tersenyum saat melihat Shasa tengah menatap dirinya

__ADS_1


"Hai,,, nona Shasa kita bertemu lagi!" Ucap dokter Dafa sambil tersenyum dan menyuruh perawat yang bersamanya untuk melepas infus yang ada di pergelangan tangan Shasa, karena dia tahu, Shasa tidak menyukai itu


Shasa menganggukkan kepalanya sebagai balasan dari sapaan dokter Dafa dan memerhatikan sang perawat yang tengah melepas jarum infusnya


"Dokter,, sekarang bagaimana dengan ke adaannya," tanya Andra dan melihat dokter yang sedang menatapnya


"Apa dia sudah bisa keluar?" Tanya Andra lagi


Dokter Dafa Tersenyum dan melihat Shasa dengan mata yang terlihat memerah karena habis menangis dan mendekat pada andra


"Tuan Andra,, apa kita bisa bicara di ruangan ku? Ada hal yang perlu aku jelaskan kepada Anda, jelas dokter Dafa dengan suara yang renda, sehingga Shasa pun tidak bisa mendengarnya dengan jelas


Melihat keseriusan dari dokter Dafa, Andra jadi merasa cemas, dan dia melihat Shasa, sambil mengangguk


"Shasa,, kakak ada perlu dengan dokter Dafa kamu sebaiknya beristirahat, mereka akan menemanimu disini" ucap Andra sambil melihat kedua perawat yang sudah selesai mencabut jarum infus di pergelangan tangan Shasa


"Tidak perlu, Shasa ingin keluar untuk mencari udara segar, Shasa merasa pengap disini" jelasnya


Andra melihat dokter Dafa saat mendengar perkataan dari Shasa


Shasa yang duduk, menurungkan kakinya dan turun dari ranjang, dan dia melangkahkan kakinya dan berjalan keluar sendiri dari dalam kamar pasien! dan menuju taman yang terdapat di halaman belakang rumah sakit itu


Sedangkan Andra mengikuti Dokter Dafa berjalan menuju ruangannya


"Tuan silahkan," Ucap dokter Dafa mempersilahkan Andra masuk kedalam ruangannya saat mereka sudah sampai di depan pintu dan membukanya


Andra masuk dan duduk di kursi yang sudah tersedia di depan meja dokter Dafa, dan begitupun dokter Dafa! dia melangkahkan kakinya berjalan dan duduk


"Tuan mengenai pemeriksaan yang kami lakukan terhadap nona Shasa! Hasilnya baru bisa keluar setelah tiga hari, tapi selain dari pemeriksaan dari Sempel dara yang kami ambil, kami juga menemukan, jika sebenarnya nona Shasa juga mengidap trauma dalam dirinya! Nona Shasa tidak bisa melihat kekerasan langsung di hadapannya, itu bisa membuatnya ketakutan" jelas dokter Dafa


Disisi lain Shasa duduk termenung di bangku taman sambil melihat para pasien dan perawat yang berlalu-lalang di hadapannya.

__ADS_1


Shasa menghela nafas panjang, dan mengingat akan wajah Raka yang terlihat menyedihkan, di saat dia memutuskan hubungan dengannya, mata shasa mulai berkaca-kaca lagi! perasaan menyesal dalam diri Shasa menyakitinya, namun Shasa pun merasa hanya itu yang bisa iya lakukan agar Raka bisa menerima keputusannya dan bisa membenci dirinya


"Raka maafkan aku! Aku mohon maafkan aku" Ucap shasa


" Hanya itu yang bisa aku lakukan agar kamu membenciku, agar kepergianku kelak tidak akan membuatmu sakit


Shasa yang tenggelam dalam lamunannya, tercengang saat seorang lelaki paru baya tiba-tiba duduk di sampingnya


Shasa melihat lelaki paru baya itu, yang menatap dirinya sambil tersenyum padanya


"Nona,, apa yang sedang kamu lamunkan?" Tanya lelaki paruh baya itu


"Dari tadi aku memperhatikanmu, kamu terlihat gelisah, apa kamu merasa sulit untuk menerima kenyataan? apa kamu salah satu pasien di rumah sakit ini?" Tanyanya lagi


Shasa tidak menjawab pertanyaannya, dia hanya terus menatap lelaki paru baya yang duduk di sampingnya tanpa ijin darinya


"Hheemmm... Helaan nafas lelaki itu terdengar,


"Nona,,, hidup itu memang kadang sangat sulit! Tapi jangan pernah berputus asah untuk menjalaninya, lambat laung kamu akan menemukan Titik kebahagiaan dari semua yang sudah kamu lalui." Ucap lelaki paruh baya itu, sambil bersandar di sandaran bangku


Shasa yang mendengar perkataan dari lelaki itu tersenyum dan memalingkan wajahnya


"Apa paman percaya dengan kata-kata paman sendiri?" Tanya Shasa dan kembali melihat lelaki paruh baya itu


"Nona semuanya sudah ditentukan, tergantung dari diri kita sendiri, apa bisa menghadapinya atau tidak" jawabnya


"Mungkin paman telah keliru," tutur Shasa lagi dan menghela nafasnya


"Hheemmm.. Dimana letak titik kebahagiaan yang paman maksud? Bahkan Sekarang pun aku tidak tahu, apa besok aku masih hidup atau tidak, bagaimana mungkin aku akan mendapatkannya" jelas Shasa


Lelaki paruh baya itu memperbaiki duduknya saat mendengar pernyataan dari Shasa

__ADS_1


"Apa kamu sedang sakit keras?" Tanya lelaki paruh baya itu dengan penasaran


Shasa hanya tersenyum, dan tidak menjawab pertanyaan dari lelaki paru baya itu, dia bersandar di sandaran bangku dan mendongakkan kepalanya, melihat langit yang cerah


__ADS_2