
Gadis muda yang sedang berjalan masuk kedalam warung makan ayam Kentucky, mengusap keringat di wajahnya yang lusuh
dan menyapa seorang wanita paruh baya yang duduk di bangku sedang menonton acara di TV
"Bibi,, Aku pulang" Ucap gadis muda yang tak lain adalah Shasa
"Hari ini sangat cerah, membuatku sangat kepanasan" Ucapnya lagi dan membuka lemari pendingin dan mengambil kaleng minuman soda dan meminumnya untuk menyegarkan tenggorokan nya.
Shasa berjalan menghampiri Rita yang tengah asyik menonton
"Bibi hasil penjualan hari ini sangat banyak,
Bagaimana jika diskonnya kita perpanjang sehari lagi?" Ucap Shasa sambil meneguk minuman kaleng yang ada di tangannya dan duduk di samping rita
Mendengar perkataan itu Rita menoleh dan menyentil dahi Shasa
"Aaaauhk.. Bibi ini sakit" Ucap Shasa sambil mengusap-usap dahinya
"Dasar kamu,, Jika kita memperpanjang diskonnya, Kita akan merugi. Diskon hari ini hanya untuk menarik pelanggan agar bisa memakan ayam Kentucky yang kita jual, Jika mereka suka dengan rasanya,
Pasti mereka akan pesan lagi meski harganya sudah normal" Ucap Rita menjelaskan
Shasa mengangguk-anggukkan kepalanya mengartikan kalau di sudah mengerti dengan apa yang di jelaskan oleh bibinya itu
Shasa membuka resleting tas yang melingkar di pinggangnya, dan mengeluarkan beberapa lembar uang kertas dan memberikannya pada rita
"Ini hasil penjualan hari ini, Besok aku yakin mereka akan memesan lagi, Masakan bibi itu yang paling enak, Mereka pasti akan ketagihan, dan pasti akan memesan lagi" Ucap Shasa dengan rasa yakin
"Kamu ya.. Paling bisa membuat bibi jadi senang." Ucap Rita dan menghitung uang yang di berikan oleh Shasa
"Ini bagian mu." Rita menyerahkan beberapa lembaran uang untuk shasa.
"Ingat untuk menabungnya, suatu saat kamu akan memerlukannya." Ucap Rita lagi
Shasa mengambil uang yang di berikan Rita padanya
"Ok bos,, Aku akan menabungnya." Ucap Shasa dan tertawa
"Bibi sedang melihat acara apa di tv?" Tanya Shasa dan ikut untuk menontonnya
"Hari ini tidak ada hal yang menarik! Bibi hanya asal menonton saja." Ucap rita sambil berdiri dan meraih kain lap yang tergantung di sisi dapur dan me lap meja
"Bibi hari ini kak Rendi tidak datang?" Tanya Shasa lagi
"Sekarang Rendi sudah bekerja, Dia tidak akan seperti dulu lagi yang setiap hari akan mencari mu kesini. Dan kedepannya jangan mengganggu pekerjaannya, Sebagai seorang dokter dia harus fokus pada pasiennya." Ucap Rita dan terus membersihkan meja
Kata-kata dari Rita membuat Shasa jadi cemberut, Selama ini Rendi yang selalu menemaninya dikala suka dan duka, Shasa sudah terbiasa dengan keberadaan Rendi, dari itu dia selalu merindukan kehadirannya
Shasa terdiam dan memerhatikan Rita yang sedang membersihkan meja. Dia pun berdiri dan menghampiri Rita yang tengah sibuk dengan pekerjaannya
Tiba-tiba Shasa memeluknya dari belakang. Membuat Rita jadi bingung dengan sikapnya itu
"Ada apa?" Tanya Rita dengan wajah bingung dan menepuk-nepuk tangan Shasa yang melingkar di lehernya
__ADS_1
"Tidak,, Shasa hanya ingin memeluk bibi saja" Ucap Shasa dengan wajah sedihnya
"Kenapa tiba-tiba sikapmu aneh begini? Apa bibi mengatakan sesuatu yang membuatmu tidak enak hati?" Tanya Rita lagi
Shasa makin mengencangkan pelukannya
"Bibi terimakasih, Shasa menyayangi bibi."
Ucapnya
"Kamu makin aneh" Rita melepas pelukan Shasa darinya. Dan berbalik melihat kearahnya, Dia memegang bahu Shasa dan menatapnya
Terlihat Ada kesedihan di dalam mata Shasa yang berusaha iya tutupi, Selama ini Shasa selalu terlihat ceria di hadapannya.
Namun Rita tahu, didalam hatinya itu banyak penderitaan dan kesedihan yang iya pendam.
Selama bertahun-tahun bersamanya, Shasa tidak pernah mengeluh dan tidak pernah memperlihatkan kesedihannya itu pada orang lain, Tidak pada Rita ataupun pada Rendi.
"Shasa jika ada sesuatu ceritakan pada bibi. Bibi akan memberimu solusi jika tahu duduk permasalahannya." Ucap Rita dengan serius
Shasa tiba-tiba memperlihatkan senyumnya dan mengubah ekspresi wajahnya seperti sebelumnya
"Bibi selama bersamamu Shasa tidak akan memiliki masalah apapun. Hanya saja jika bibi hari ini tidak mengijingkanku untuk membawakan bekal untuk kak Rendi itu yang akan jadi masalah." Ucap Shasa mengada-ada sambil tertawa dan pergi menjauh dari rita
"Shasa,, Kamu sengaja menggoda bibi?
Dasar gadis nakal kesini kamu" Ucap Rita dan berjalan cepat untuk bisa mendapatkan Shasa
Rita dan Shasa menoleh ke arah suara dan mendapati Rendi yang tengah berdiri di ambang pintu warung.
"Kakak,," Dengan cepat Shasa berjalan ke belakangnya dan bersembunyi dari Rita yang kini terlihat geram kepadanya.
"Ada apa? Kalian berdua bertengkar?" Tanya rendi dan melihat ke arah Rita dan Shasa
Rita duduk di bangku dengan nafas yang ngos-ngosan
"Itu semua karena kamu" Ucap Rita dan menunjuk kearahnya
"Aku?" Jawab Rendi menunjuk dirinya sendiri
"Demi dirimu dia rela membuat masalah denganku," Ucap Rita dan berdiri dari duduknya
"Bagusnya bibi memberi kalian pelajaran"
Ucapnya dan berjalan mendekati Rendi dan memukul-mukul lengan Rendi yang berusaha melindungi Shasa
Rendi memeluk Rita yang terus memukulnya.
"Jika cara memukulnya seperti ini, Rendi tidak akan masuk rumah sakit" Ucap Rendi dan tersenyum, Dan membawa Rita duduk di bangku
"Kamu sama saja dengannya, selalu sengaja menggoda bibi." Ucap Rita membalas senyuman dari Rendi Dan berdiri
"Hari ini bibi akan ke pasar untuk membeli keperluan besok, ingat untuk jaga warung."
__ADS_1
Ucap Rita dan berjalan keluar dari warung
"Baik bi.. Serahkan semuanya pada Shasa"
Ucap Shasa yang mengantar Rita sampai ke ambang pintu.
"Kakak bukannya hari ini tugas di rumah sakit? Kenapa ada disini?" Tanya shasa dan berjalan mendekat
"Itu karena merindukan adik kecilku ini," Ucap Rendi dan mencubit pipi Shasa
"Aaauhk.. Kakak ini sakit, Dan satu lagi aku bukan anak kecil lagi. Sekarang shasa sudah dewasa, Jadi jangan menganggap ku sebagai anak kecil terus menerus." Ucap Shasa
"Kakak sudah makan siang?" Tanya Shasa
"Hem ee..." Rendi mengangguk
"Kakak dan Vani makan di luar" Jawab Rendi
"Vani? Wanita cantik di hari ulang tahun kakak di waktu itu?" Tanya Shasa penasarang
"Benar dia" Jawab Rendi lagi
"Waaah, kakak akhir punya wanita juga,
Shasa jadi ikut bahagia." Ucap Shasa yang membuat Rendi melihatnya dan menyentil dahinya.
"Aaauhk.. Jeritan Shasa sambil menyentuh dahinya
"Vani bukan wanita kakak, melainkan hanya sekedar rekan kerja buat kakak," Jelas Rendi
"Kenapa? Dia wanita yang cantik, dan yang paling penting, Vani memiliki perasaan dengan kakak, Shasa menilai dia sangat cocok untuk kakak." Ucap Shasa
"Simpan penilaian mu itu! kakak tidak butuh, Dan lagi jangan menjodohkan kakak dengan wanita manapun, seperti tempo lalu. Kakak tahu masalah tentang Vika itu adalah ulah mu." Ucap Rendi dan sekali lagi menyentil dahi shasa
"Aaaa aah,, Kakak ini sakit tau!" Ucap Shasa merengek
"Makanya lain kali jangan melakukan kesalahan lagi." Ucap Rendi dan melihat dahi Shasa yang sudah memerah akibat centilan yang keras darinya
Tatapan matanya yang cerah berubah menjadi penuh dengan rasa bersalah.
Rendi memegang wajah Shasa
"Apa ini sakit?" Ucapnya dan menyentuh dahi Shasa Dan meniupinya
"Maaf, kakak tidak bermaksud untuk menyakitimu, Apa masih sakit?" Tanya rendi penuh dengan perhatian. Dia terus menatap wajah Shasa yang kini hanya berjarak satu incih dengannya.
Sesaat mereka saling bertatapan. Di dalam tatapan mata Rendi ada perasaan lain yang tertanam dihatinya untuk gadis yang kini ada di hadapannya itu, perasaan yang tak bisa iya ungkapkan yang terpendam sudah cukup lama di hatinya. Namun Shasa tidak mengerti akan hal itu.
Melihat Rendi terdiam dengan wajah yang terlihat tegang, Shasa tersenyum membuat suasana yang menegangkan itu menjadi usai.
"Kakak raut wajahmu lucu" Tawa Shasa Terdengar
"Ha-ha-ha... Jangan kuatir ini tidak apa-apa, dan sudah tidak sakit lagi" Ucap Shasa dan memukul bahu Rendi
__ADS_1