
"Sekarang saatnya kalian untuk saling bertukar cincin" ucap Irawan
Saat mendengar perkataan dari Irawan, Dengan ragu Raka membuka kotak cincin yang ada di tangannya, dan untuk sesaat Raka terdiam, berpikir dengan apa yang tengah iya lakukan sekarang, Raka tidak tahu apa itu baik atau buruk untuknya.
"Raka,," teguran dari Santoso membuatnya sadar dari lamunannya
"Cepat pakaikan cincin itu pada Laura" pinta Santoso
Namun Raka tetap terus berpikir, hatinya terasa berat untuk menerima, apa yang tengah iya lakukan! Raka menoleh untuk melihat para tamu undangan, melihat semuanya yang menatap dirinya, dan tatapan matanya tertuju pada Andra yang juga menatapnya dengan tajam.
Raka kembali memalingkan wajahnya melihat Laura yang tengah berdiri di hadapannya sambil tersenyum, menunggunya untuk memasangkan cincin di jarinya
Untuk sesaat Raka kembali berpikir, jika sebenarnya dengan samar-samar iya meyakini dirinya telah melihat Shasa.
Dengan cepat Raka kembali menoleh ke arah di mana Andra tengah berdiri! dan benar saja, tanpa iya sadari, Shasa sejak dari tadi berdiri di samping Andra! Menatapnya dari kejauhan.
"Shasa,," ucap Raka dalam hatinya, sesaat raut wajahnya terlihat senang dan bahagia, melihat Shasa berdiri di hadapannya! membuat rasa rindunya bisa terobati, Meski hanya menatapnya dari kejauhan.
Dan seketika raut wajah itu berubah menjadi marah dan tatapan matanya penuh dengan kebencian, saat melihat Shasa menggandeng lengan Andra
"Raka,," Santoso kembali untuk menegur Raka, namun itu tidak membuat Raka untuk lepas dari tatapan matanya terhadap Shasa yang ada di depan sana. Santoso mengikuti arah tatapan mata Raka, dan tersadar dengan kehadiran Shasa
"Rossa,,," gumam Santoso dalam hatinya, jantungnya berdegup kencang, dan dengan cepat Santoso memasukkan tangan ke saku jasnya dan mengeluarkan dompet yang ada di dalamnya, membuka dompet mengambil selembar foto yang berukuran kecil, dan melihatnya dengan jelas kemudian melihat Shasa.
Foto yang ada di tangannya sangat mirip dengan Shasa yang ada di depan sana
"Tidak mungkin,,," ucap Santoso sambil menggelengkan kepalanya
"mana mungkin itu dia, tidak mungkin Rossa Masih semudah lima belas tahun yang lalu" ucapnya lagi, menyadarkan diri sendiri.
Santoso pun untuk sesaat menatap dalam pada Shasa yang berdiri di samping Andra
"Apa yang kalian lakukan?" Tegur Irawan
Santoso tercengang, begitupun dengan Raka.
"Raka,, hari baik akan segera berlalu, cepatlah memakaikan cincin itu pada Laura jika memang kamu bersungguh-sungguh untuk bertunangan dengannya," ucap Irawan
"Raka mengambil cincin di dalam kotak, dan kembali untuk melihat Shasa yang Tampa berkedip melihat dirinya
__ADS_1
Karena berniat untuk membalas sakit hatinya pada Shasa, Raka memasangkan cincin di jari manis Laura, sambil melihat Shasa.
Dan sekarang giliran Laura untuk memasangkan cincin ke pada Raka.
Laura memasangkan cincin itu dengan sangat lancar, hingga membuat para tamu undangan bertepuk tangan untuknya, namun berbeda dengan Shasa, air matanya tak terbendung, dengan cepat air mata itu mengalir deras Tampa henti.
Santoso yang dari tadi hanya menatap Shasa tidak sadar jika Raka dan Laura sudah saling bertukar cincin.
""Ada apa denganmu?" Tanya Irawan sambil menepuk bahu santoso dan melihat ke arah di mana mata Santoso tertuju
Melihat Shasa berdiri di samping Andra Membuat Irawan membulatkan matanya,
"Dia...!" Irawan berhenti dari ucapanya
Santoso mengangguk
"Benar katamu! sekarang aku benar-benar melihatnya! Sudah sekian lama, tapi itu bukan dirinya" ucap Santoso
"Apa maksudmu?"
"Wajah itu adalah wajah Rossa saat dia masih mudah, sekarang sudah Lima belas tahun telah berlalu, tidak mungkin dia akan masih semuda itu" jelas Santoso sambil merlihatka foto yang di tangannya
"Baik" dengan cepat Andra mengangguk, dan menggandeng bahu Shasa, melangkahkan kakinya berjalan untuk keluar dari kediaman Irawan.
Melihat itu, Santoso dan Irawan dengan cepat berjalan ke arah Andra dan Shasa
"Tuan Andra,," suara panggilan dari Santoso, membuat Andra berhenti dari langkahnya melepaskan tangannya dari bahu shasa dan menoleh
Sedangkan Shasa menghapus air matanya dan kemudian ikut menoleh untuk melihat Santoso dan irawan. Meski sebenarnya Shasa mulai merasa kesakitan, namun iya tetap memperlihatkan senyum di bibirnya
"Tuan Andra, pesta belum selesai! Kenapa anda terburu-buru untuk pergi" tanya Irawan namun tatapan matanya terus tertuju pada Shasa
"Maaf, hari ini aku sedang tidak enak badan jadi harus pulang untuk istirahat" jelas Andra
Raka yang masih berdiri di sana, terus menatap Shasa, Tampa berdalih sedikitpun
Melihat Shasa yang terlihat bahagia Tersenyum pada Santoso dan Irawan membuat hati Raka tambah sakit.
Kebencian dalam hatinya, sangat mendalam Sehingga senyum Shasa pun bagaikan bilah pisau yang sedang mengiris-iris tulang dan dagingnya
__ADS_1
"Kak Andra.. tetaplah untuk disini, biar Shasa yang pulang sendiri" ucap Shasa
"Tidak,," bantah Andra dengan cepat
"Tuan Andra dia.." Santoso tidak melanjutkan ucapannya dan hanya melihat Shasa
Andra Tersenyum
"Dia saudari Perempuanku, shasa" ucapan Andra
"Aku pikir, wanita cantik ini adalah wanita Anda" ucap Irawan bercanda
"Nona Shasa,, anda sangat mirip dengan seseorang yang aku kenal, awalnya aku mengira nona Shasa itu dia, tapi mengingat usia anda dan dia seharusnya itu sangat berbeda" ucap Santoso
( Di sisi lain Dona yang berjalan keluar dari kediaman Irawan, mencoba untuk menghindar dari Andra karena rasa takutnya.
Dona melangkah dengan sangat cepat, menuju ke mobil yang di parkirkan oleh papanya, namun tanpa sengaja iya bertemu dengan David.
Dona dengan cepat mengambil jalan lain, untuk menghindar dari David, tapi dengan cepat David meraih tangannya.
"Aaaahk..." Dona berteriak saat David memegang tangannya, namun dengan cepat David menutup mulutnya dari belakang
"Tenang, jangan berteriak! Disini aku tidak akan menyakitimu" ucap David
Perlahan Dona mengangguk karena ketakutan, dan melepas tangan David dari mulutnya
"Aku hanya ingin memperingatkan mu, jika tidak ingin memiliki masalah lagi dengan tuan Andra, bersikaplah seperti biasanya, bersikaplah seolah-olah kamu tidak pernah melihat ataupun mengenalnya, dan juga jangan pernah mengatakan apapun pada orang lain, tentang apa yang pernah kamu alami bersama dengan manajer Susi" ucap David memperingatkannya
Dengan cepat Dona mengangguk
"Aku tidak akan pernah membuat masalah lagi dengannya, jadi tolong biarkan aku pergi" pinta Dona dengan suara yang gemetar
"Baik aku percaya padamu" ucap david
David mengangguk dan melepaskan Dona, membiarkannya berjalan menuju mobilnya.)
Ditengah perbincangan mereka, Triwijaya bergabung setelah Dona sudah tidak lagi menghalanginya
"Hai tuan-tuan, selamat atas pertunangan putra dan putri kalian" ucap Triwijaya sambil mengulurkan tangannya, untuk bersalaman dengan Santoso dan Irawan.
__ADS_1
"Terimakasih kasih" balas Irawan menjabat tangan Triwijaya, begitupun dengan Santoso