
Raka menarik Shasa berjalan meninggalkan Romi dan Lola Tampa meninggalkan satu kata pun, yang masih berdiri menatap pada dirinya dengan penuh tanda tanya.
Setelah Raka dan Shasa berlalu pergi. Lola dengan cepat memukul-mukul pipinya,
"Romi,, apa benar pria yang baru saja pergi itu atasan kita?" Tanya Lola pada Romi tidak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya
"Aku rasa itu bos direktur" Ucap Romi ragu
Namun tetap membenarkan ucapan dari pertanyaan lola, Romi mengangguk-anggukkan kepalanya
"Benar dia, tapi rasa sepertinya bukan dia" Ucap romi lagi yang mulai ngelantur dan bingung sendiri jadinya
Performa yang ada dalam diri Raka membuat, seisi dalam kantor tidak mengerti dengan isi hati dia yang sebenarnya.
"Apa benar bisa hanya dalam jangka satu jam sifat orang akan berubah secepat itu?"nTanya Lola lagi dengan rasa penasaran yang kini menjadi hambatan dalam pikirannya
"Sifat yang begitu dingin, angkuh dan arogan bisa tertawa terbahak seperti tadi," Lola menggelengkan kepalanya merasa tidak percaya dengan kenyataan yang baru saja di saksikan nya
"Aku rasa itu bukan bos direktur, Hanya saja mirip dengannya," Jawab Lola dengan pertanyaan-pertanyaan nya sendiri
Romi hanya terdiam dan tidak merespon setiap kata-kata dari Lola. Dia sibuk dengan pemikirannya sendiri, dan rasa penasaran pada Shasa muncul dalam benaknya, Selama dia bekerja menjadi asisten raka, ini baru pertama kalinya dia melihat Shasa dan sama sekali tidak tahu apa hubungan mereka. Romi yang memiliki sifat yang selalu ingin tahu urusan pribadi atasannya itu tidak akan diam, untuk mencari tahu, kenyataan yang pasti.
Romi jadi termenung mengingat akan semua hal yang terjadi.
Di sisi lain Raka berjalan sambil, memegang tangan Shasa. Berjalan lewat lift pribadinya dan berjalan keluar parkiran di mana jalan itu hanya bisa di lewati olehnya, Tampa persetujuan dari Raka, jalan itu tidak boleh di lewati oleh karyawan lain tidak terkecuali Romi asisten pribadinya itu.
Di dalam perjalanan menuju parkiran Shasa hanya terus menatapnya dengan tatapan tajam, Tampa mengelak dari ajakan Raka dan Tampa berusaha untuk menghentikan Raka yang kini menggenggam erat tangannya, Hingga pada akhirnya mereka tiba di sebuah parkiran besar, yang ada di kantornya itu
Raka membuka pintu mobil untuk Shasa yang dari tadi hanya terdiam mengikuti langkahnya Tampa mengatakan apapun.
"Masuklah, aku akan mengantarmu" Ucap Raka yang sudah membuka pintu mobil untuk shasa
"Tunggu,, tunggu, Tuan Raka aku belum setuju kamu mengantarku pulang, dan sebenarnya aku tidak ingin di antar" Ucap Shasa menolak masuk ke dalam mobil
Raka tersenyum manis padanya dan menatapnya dengan tajam
"Tidak baik menolak niat baik seseorang" Ucap Raka dengan tegas
"Tapi aku tidak ingin di antar, aku harus mampir di suatu tempat dulu. Jadi tidak perlu di antar," Jelas Shasa lagi tetap nenolak
"Di suatu tempat? Di mana itu?" Aku bisa mengantarmu sampai ke sana" Ucap Raka lagi dengan nada yang lembut
"Itu,, Aku tidak bisa memberitahu mu" Jelas Shasa
"Apa itu rahasia?" Tanya Raka dengan tatapan penasaran
__ADS_1
Shasa mengangguk
"Benar itu rahasia, tidak ada seorang pun yang boleh tahu" Ucap Shasa lagi dengan cepat agar bisa membuat Raka mengubah niatnya untuk mengantarnya pulang
"Meski itu bibi Rita ataupun Rendi?" Tanya Raka lagi, yang mulai asal tanya
Shasa tersenyum
"Benar meski bibi dan kak Rendi," Ucap Shasa dengan raut wajah yang tidak biasanya
Raka terus menatap wajah gadis yang kini ada di hadapannya, Melihat raut wajah Shasa yang tidak seperti biasanya. Raka hanya beranggapan jika itu, hanya suatu penolakan agar tidak di antar olehnya. Raka akhirnya menyerah
"Baiklah, terserah kamu saja." Ucap Raka dan menutup kembali pintu mobil yang sudah di bukanya
"Terimakasih tuan Raka atas perhatiannya,
Sekarang aku pamit" Ucap Shasa dan membalikkan badan berjalan meninggalkan Raka yang tengah kecewa karena di tolak pada Shasa untuk mengantarnya pulang.
Dan Dengan cepat Shasa berjalan meninggalkan Raka berdiri sendiri di dekat mobilnya. Shasa yang sudah berjalan jauh dari tempat di mana Raka masih berdiri memandangnya dari kejauhan, Shasa sesekali menoleh kearahnya dan tersenyum manis padanya.
Seketika Shasa merasakan rasa nyeri lagi dan sakit di bagian dalam tubuhnya
Shasa melihat jam di pergelangan tangan
Shasa berjalan dan masuk kedalam taksi yang di berhentikan nya. Di dalam mobil Shasa yang biasanya terlihat riang seketika menjadi pucat, tubuhnya di basahi oleh keringat dingin yang keluar. Rasa sakit dan nyeri dari bagian dadanya , membuatnya sesekali meringis kesakitan
"Nona apa kamu baik-baik saja?" Tanya sopir taksi yang sedang mengemudi
Karena melihat Shasa yang begitu pucat membuatnya agak sedikit takut
Shasa mengangguk dan tersenyum
"Iya pak, Ini hanya penyakit lama yang sedang kambuh," Ucap Shasa
Shasa terus mendesis karena sakit yang di deritanya
"Itsssss,, Pak bisa percepat laju mobilnya?" Ucap Shasa pada sopir taksi yang sesekali meriknya
"Baik" Sopir taksi itu mengangguk dan melajukan mobilnya dengan cepat
Sesampai di depan klinik Antoni, Shasa membayar tagihan dan keluar dari dalam mobil. Shasa berjalan berusaha menahan rasa sakit yang ada dalam tubuhnya.
Sesekali dia berhenti untuk menahan rasa sakit yang sangat menyiksanya. Shasa berpegangan pada tembok dan berusaha berjalan sampai ke ruang dokter Antoni.
"Kenapa rasa sakit hari ini, begitu menyakitkan? Ini tidak seperti biasanya" Ucap Shasa dalam hatinya
__ADS_1
Shasa berjalan tetap mencoba untuk menutupi rasa sakitnya itu, Dia tidak ingin seorang pun tahu akan penyakit yang di deritanya, selama ini. Selain dokter Antoni dan dirinya. Shasa tidak ingin memberitahu siapapun
Beberapa perawat yang bekerja di klinik milik dokter Antoni sudah mengenali Shasa, mereka yang melihat shasa tersenyum dan seperti biasa dia akan membiarkan Shasa masuk dalam ruangan dokter Antoni.
Sesampai di depan pintu ruangan dokter Antoni, Shasa mengetuk pintu
Tok.. tok.. tok.. Suara ketukan pintu dari shasa, Dan Tampa menunggu jawaban dari dokter Antoni Shasa membuka pintu dan masuk dalam ruangan.
Shasa melihat dokter Antoni yang masih menangani seorang pasien wanita paru baya, Karena merasa telah mengganggu Shasa menundukkan kepalanya sebagai permintaan maaf darinya
"Maaf" Ucap Shasa pada pasien yang sedang di periksa oleh dokter Antoni
Melihat kedatangan Shasa yang secara tiba-tiba, Dokter Antoni jadi kuatir
Dia menoleh ke arah Shasa, memperhatikan wajahnya yang begitu pucat, dokter Antoni dengan cepat ingin menanganinya
"Maaf aku tinggal sebentar" Ucap dokter Antoni pada pasien yang tengah terbaring itu
Pasien itu hanya mengangguk dan tetap berbaring,
Antoni bergegas berjalan mendekati shasa, dan menyentuh dahi Shasa
"Shasa kamu baik-baik saja?" Tanya Antoni dan mulai memeriksa shasa yang tengah duduk di kursi sambil menyandarkan wajahnya di atas meja
Shasa menggelengkan kepalanya
"Om ini sangat sakit, shasa sangat kesakitan, Obat yang om berikan sudah habis" Ucap Shasa dengan nada yang berat karena berusaha menahan rasa sakit yang di deritanya
Antoni membantu Shasa untuk berdiri dan membawanya ke tempat pasien yang lainnya, Dengan cepat dokter Antoni mengambil sebuah suntikan dan sebotol cairan kecil dan menyuntikkannya pada Shasa
Setelah suntikan itu masuk kedalam dara dan daging shasa, rasa sakit yang di derita Shasa sedikit berkurang. Dokter Antoni melihatnya dengan tatapan yang penuh dengan rasa kasihan.
"Istirahatlah,, setelah bangun kamu akan merasa jauh lebih baik" ucap antoni padanya dengan nada yang lemah lembut
Shasa Tersenyum lagi dan mengangguk, dan dia mulai memejamkan mata.
Dokter Antoni yang melihat Shasa sudah tertidur, segera melanjutkan tugasnya memeriksa kembali pasien yang di tinggalkannya
"Maaf karena harus membuat anda menunggu dengan lama" Ucap Antoni pada pasiennya itu
"Tidak apa-apa dokter" Ucap pasien itu dengan tersenyum
"Ngomong-ngomong dia siapa?" Tanya pasien itu pada Antoni yang sedang memeriksanya
"Dia salah satu pasien tetapku juga, Aku yang bertanggungjawab atas kesehatannya semasa dia masih berumur tujuh tahun" Ucap dokter Antoni pada pasiennya
__ADS_1