
Raka menutup pintu dengan sangat hati-hati agar tidak menimbulkan bunyi, dan melangkah dengan sangat Pelang agar tidak menggangu Shasa yang sudah dalam pengaruh hipnotis dari dokter Reza.
Raka duduk di kursi sambil memperhatikan Shasa yang terlihat sedang tertidur.
Tapi sebenarnya dia itu tidak tertidur hanya saja setengah sadar, karena cara pengobatan yang di lakukan oleh Reza memang harus dengan cara yang seperti itu, pasien tetap harus tersadar agar bisa dengan mudah mengetahui, duduk persoalan yang dialami oleh pasien
Dokter Reza, duduk di samping dimana Shasa kini terduduk dengan sangat santai, dan memulai untuk mempertanyakan sesuatu yang sudah di rancangnya
Dokter resa memegang bahu Shasa, membuat Raka mendengus melihatnya.
Dokter Reza tersenyum melihat Raka dengan wajah yang memerah karena rasa cemburu yang muncul dalam hatinya.
Sebelum bertanya pada Shasa dokter Reza, mengatakan ada Raka, agar tidak mengganggu disaat dia mulai bertanya pada shasa.
"Ingat untuk tetap diam apa pun yang terjadi," ucap dokter Reza memperingati Raka, sambil memegang tangan Shasa
Melihat dokter Reza memegang tangan Shasa, dengan cepat Raka melepaskannya.
" Jangan mengambil kesempatan,"
Dokter Reza kembali tersenyum dan kembali memegang tangan Shasa, dan Tampa basah basi lagi dia langsung bertanya pada shasa
"Nona Shasa, apa anda pernah mengalami, hal yang sangat membahagiakan, yang menurut anda itulah ke bahagian yang tidak bisa anda lupakan selama hidup anda," tanya dokter Reza memulai pengobatannya dengan mengawalinya dengan mempertanyakan pertanyaan yang menurutnya dia perlu mengetahuinya.
Shasa hanya terdiam meski sebenarnya dia mendengar apa yang telah di tanyakan oleh dokter Reza,
Shasa seakan-akan sedang tertidur pulas dan bermimpi indah, sehingga membuatnya tersenyum-senyum bahagia, entah apa yang membuatnya begitu bahagia, sehingga Raka pun ikut tersenyum bahagia melihatnya.
Dan tak lama kemudian, Shasa pun menjawab pertanyaan dari dokter Reza.
"Semasa bersama dengan bibi Rita , kak Rendi dan om Antoni, itulah hal yang paling membahagiakan untukku, yang tidak akan pernah aku lupakan meskipun aku telah menutup mata untuk selama-lamanya" jawab Shasa dengan ekspresi wajah yang terlihat menyedihkan.
"Ada apa? Apa kamu memiliki kesulitan dalam hidupmu?" Tanya dokter Reza lagi di saat melihat ekspresi wajah Shasa yang berubah menjadi murung
Shasa yang masih memejamkan mata tersenyum dan menjawab lagi pertanyaan dari dokter Reza.
__ADS_1
"Semua orang memiliki kesulitan dalam hidupnya, tidak terkecuali diriku" jawabnya dengan singkat
Dokter Reza menganggukkan kepalanya membenarkan perkataan dari Shasa.
"Kamu benar tidak ada manusia yang tidak memiliki kesulitan" ucap dokter Reza, mengulangi perkataan dari shasa
"Kamu hanya menyebut nama Bibi Rita, kak Rendi dan om Antoni, siapa mereka? Apa hubungannya denganmu?, kenapa tidak menyebut nama orang tuamu? Apa kamu tidak memiliki, kisah bahagia bersama dengan orang tuamu?"
Pertanyaan-pertanyaan dari dokter Reza membuat Shasa Tampa sadar mengeluarkan air mata
Dengan perasaan sedih
Shasa tersenyum, dalam tangisnya
"Shasa tidak memiliki orang tua, yang Shasa tau hanya bibi Rita kak Rendi dan dokter antoni" ucapnya dengan singkat
Raka dengan cepat memegang tangan Shasa setelah mendengar apa yang di ucapkannya
"Tidak punya orang tua? Apa mereka sudah meninggal? Atau mereka masih hidup? Atau,,,
"hanya ada bibi Rita, kak Rendi dan om Antoni yang selalu menjaga dan merawat ku, Shasa tidak tahu siapa orang tuaku, aku tidak tahu aku siapa?
Aku siapa aku benar-benar tidak tahu." Ucapnya lagi dengan menggelengkan kepalanya dengan mengatakan semua yang selalu dia juga pertanyakan dalam hatinya sendiri dan memegang erat tangan raka ,
Jawaban dari Shasa membuat dokter Reza sedikit kebingungan, karena tidak mendapat jawaban yang seharusnya dia ingin dengar
"Apa sebelumnya kamu tinggal dengan orang lain sebelum bersama dengan bibi Rita, kak Rendi dan om Antoni? Tanya dokter reza lagi. Yang sebenarnya pertanyaan itu tidak ada dalam daftar yang sudah di siapkan
Shasa terdiam seakan-akan mencoba mengingat, akan sesuatu yang kini melintas di pikirannya.
Bayangan di mana seorang pria dan wanita terlintas di ingatannya, dia melihat bayangan yang tidak begitu jelas, menurungkan seorang anak kecil di pinggir jalan begitu saja dan meninggalkannya sendiri di tepi jalan.
Dengan bayangan yang dilihatnya, Shasa tidak mengatakannya pada dokter Rendi, di dalam tidurnya dia hanya menggelengkan kepalanya.
Dan terlintas lagi di dalam ingatannya, bayangan di mana seorang pria dan wanita terlihat sedang membawa seorang anak kecil masuk ke dalam ruangan dimana tempat itu terdengar canda dan tawa seorang anak kecil,
__ADS_1
Dengan ingatan itu Shasa memegang erat tangan Raka yang masih menggenggamnya, keringat panas dingin di tubuhnya pun keluar begitu saja, pegangan erat tangan Shasa terasa gemetar. Raka yang menyadari hal itu menjadi cemas dia melihat ke arah dokter Reza, dengan tatapan yang begitu menyeramkan.
Dokter Reza pun membalas tatapannya itu dan tersenyum
" jangan kawatir dia akan baik-baik saja" ucapnya untuk menenangkan hati Raka
Dan di dalam ingatan Shasa, dia melihat banyangkan yang begitu jelas, di mana seorang anak kecil di bawa ke dalam ruangan di kurung dengan waktu yang cukup lama oleh teman sendiri, dan tidak hanya itu Shasa juga melihat dimana saat keluar dari dalam ruangan tempat anak kecil itu terkurung, dia di pukuli tanpa ampun, di tuduh telah melukai teman yang mengurungnya.
Salam tidur Shasa tiba-tiba menangis tersedu-sedu dan sesekali menjerit kesakitan
"Tidak.. itu bukan Shasa, jangan,,,
Shasa tidak melakukan apa-apa jangan menyakitiku, Shasa tidak tahu apa-apa" ucapan Shasa tiba-tiba tidak terkendali,. Dia meronta dan seakan melawan dan menghindari sesuatu
"Aaaaohkk..." Jeritan Shasa pun terdengar
"Itu bukan Shasa, jangan memukuliku, aku tidak tahu apa-apa,
Ayah, ibu tolong Shasa, ini sakit, Shasa kesakitan." Tangis dalam tidur Shasa pecah, dia menangis seperti anak kecil, kedua tangannya menggenggam erat tangan Raka.
Rasa sakit yang di lihat di bawah sadarnya, terlihat di rasakan nya saat ini, sesekali dia menjerit kesakitan seolah-olah apa yang di lihatnya itu adalah kenyataan, Shasa terlihat begitu menderita, rasa sesak di dadanya membuat wajahnya menjadi pucat seluruh tubuhnya gemetar.
Melihat keadaan Shasa yang seperti itu Raka jadi panik
"Apa yang terjadi?" Tanya Raka dan melihat dokter Reza
Shasa yang masih saja merasakan pukulan dan siksaan yang di lihat dalam alam bawa sadarnya, terus menangis dan gemetar di saat mencoba untuk menahan rasa sakit yang di alaminya.
"Tolong aku, ini menyakitkan," ucap Shasa seolah-olah itu di ucapkan khusus buat raka
"Hentikan ini, jangan di teruskan lagi" ucap Raka dengan wajah yang marah.
Rasa tidak tega Raka menjadi gangguan buat Reza,
"Tuan Raka tenanglah, ini hanya ilusi dari dalam pikirannya saja. Ini bukan kenyataan.
__ADS_1