
"Aku sudah mengatakan padamu, jangan pernah memaksanya untuk bertunangan, tapi apa yang kamu lakukan?" Ucap Ratna memprotes ke pada Santoso saat melihat keadaan raka
"Tidak,," Santoso menggelengkan kepalanya
"Ratna kamu sudah salah paham padaku, ini semua atas kehendak dari Raka sendiri! Aku dan Irawan sudah sepakat untuk membatalkan pertunangan itu malam ini, tapi Raka sendiri yang meminta agar pertunangan itu di lanjutkan, bahkan di depan semua orang, dia sendiri yang melamar Laura" ucap Santoso yang mencoba untuk membela diri
Ratna kembali untuk berlutut dan mencoba untuk membangunkan Raka yang masih tergeletak di tanah, Ratna menggoyang-goyangkan tubuh Raka
"Raka jangan berbaring di sini, mereka yang melihatmu, seperti ini akan menggosip tentang dirimu" jelas Ratna sambil memegang lengan Raka dan menariknya dan kemudian memegang punggung Raka mencoba untuk membantunya agar bisa bangun dan duduk.
Raka yang mabuk tidak bisa lagi berbuat apa-apa, seluruh tubuhnya lemas, dia hanya mengandalkan mulutnya untuk terus mengoceh dan mengumpat
"Jangan menyentuhku, kamu dan dia sama saja" jelas Raka melepas tangan Ratna darinya dan sambil menunjuk ke arah Santoso
Ratna Hanya Tersenyum dan tetap membantunya agar Raka bisa berdiri, Ratna tidak menghiraukan apa yang di katakan oleh Raka! Ratna memegang lengan Raka dan menariknya, dengan sekuat tenaga berusaha agar bisa membuatnya berdiri
"Apa yang kamu lakukan..? Apa kamu tidak mendengar apa yang aku katakan? Sudah.. jangan menyentuhku, aku tidak membutuhkan bantuan darimu" jelas Raka dan melepas tangan Ratna dari lengannya lagi
"Raka,, jangan seperti ini! Mama tahu kamu membenci mama, tapi biarkan mama untuk membantumu pulang, kamu sedang mabuk" jelas Ratna
"Jangan memperdulikanku, aku tidak membutuhkan itu! aku tidak membutuhkan kamu peduli padaku, aku sama sekali tidak menginginkan kalian berbuat sesuatu padaku, sebaiknya kamu pergi dari sini," ucap Raka dengan nada yang keras
" pergi... aku tidak ingin melihatmu lagi! Meski kamu hanya bayangan ataupun semacamnya, pergi dari hadapanku, dan jangan muncul lagi"
Kata-kata itu membuat Ratna tidak bisa menahan air matanya, dia tahu jika Raka begitu membencinya, namun iya tidak pernah membayangkan jika Raka akan mengucapkan kata-kata yang akan membuat hatinya terluka
"Raka..." Ratna menyebut nama Raka dengan berlinang air mata
"Mama hanya ingin membantumu.."
"Tidak perlu, aku tidak membutuhkan bantuan darimu!" Tegas Raka hingga membuat Ratna terdiam, sambil menutup mulutnya sendiri agar suara tangisnya tidak terdengar oleh orang lain
Santoso yang melihat kelakuan Raka tidak tinggal diam
"Raka.." ucap santoso
Raka menoleh untuk melihat Santoso saat menyebut namanya
"Kamu benar-benar sudah kurang ajar, apa kamu tidak pernah belajar etika? Kepada orang tua saja kamu berani berbicara dengan nada tinggi" Tutur Santoso, yang membuat Raka sampai tertawa
"Ha-ha-ha... Tuan Santoso, kamu sangat lucu" jelas Raka dan mencoba untuk melangkahkan kakinya, namun itu membuatnya kesulitan.
Raka berhenti untuk melangkah dan tetap menjaga keseimbangan tubuhnya dan kembali melihat Ratna dan Santoso
"Menurut kalian aku harus belajar etika di mana?" Tanya Raka sambil terus tertawa
__ADS_1
"Orang tuaku bercerai saat aku masih kecil, papaku menikah lagi dan mama memilih untuk pergi, jadi menurut kalian bagaimana bisa aku belajar etika?" tanya Raka lagi
"Dimana mereka saat aku membutuhkannya, aku butuh bimbingan tapi semuanya tidak ada yang peduli, jadi menurut kalian aku harus tumbuh seperti apa?" Raka perlahan melangkahkan kakinya ke arah mobilnya yang terparkir
"Benar juga,, papa.. mama..!" Raka terdiam untuk sesaat dan Tersenyum seperti orang gila
" Tuan Santoso apa kamu mengenal orang tuaku, dia orang yang terpandang. Semua kebutuhanku terpenuhi, aku tidak kekurangan apapun dalam soal materi, tapi apa kamu tahu? Aku tidak membutuhkan itu, aku membutuhkan kasih sayang dari mereka, aku hanya membutuhkan itu." Raka terus mengoceh dan terus mengatakan hal-hal dengan ngawur
Mendengar perkataan dari Raka, santoso dan Ratna terdiam, raut wajah dari mereka berdua terlihat menunjukkan rasa malu dan bersalah. Mereka berdua menatap Raka dengan penuh penyesalan
"Raka.. papa benar-benar menyesal akan hal itu! Papa mengaku salah," ucap Santoso
"Hemm.. Raka Tersenyum
"Maaf..? Kata maaf sudah tidak berarti lagi, semuanya sudah terlambat, ini sudah tiga belas tahun kenapa baru menyadarinya sekarang?" balas Raka.
Dengan kata yang di ucapkan, Raka menutup matanya dan kembali jatuh ke tanah
"Raka.." teriak Ratna saat melihat Raka sudah tak sadarkan diri
***
Situasi di dalam mobil masih terlihat sama seperti semalam, di mana Andra, Shasa dan David tertidur pulas.
Saat matahari sudah menyinari bumi, dan memancarkan cahaya melalui kaca jendela mobil, dan terpaan sinar panasnya membuat Andra dan David terbangun saat sudah merasakan panas
David yang ada di depan, menggeliat dan menguap dengan mengeluarkan suara, membuat Andra melihatnya ke arahnya
"Ehemm,. Dehuman Andra Terdengar membuat David tersadar, David membulatkan matanya dan menoleh ke belakang, melihat Andra sudah menatapnya
David Tersenyum,.dan menganggukkan kepalanya, mengisyaratkan jika iya sedang menyapa majikannya itu
Andra tidak membalas sapaan dari David, iya kembali untuk melihat Shasa yang masih tertidur, karena merasa Shasa sudah tertidur cukup lama.
Andra mulai mencoba untuk membangunkannya
"Shasa.. Shasa.. " Andra menepuk-nepuk pipi Shasa
"Shasa.. sekarang matahari sudah tinggi, bangun,," tutur Andra
Tapi Shasa masih terus tertidur, tidak memberi respon pada Andra yang sudah membangunkannya
"Tuan... Apa aku perlu meminta dokter Dafa untuk memeriksanya? Tanya David
Tidak menunggu lama, setelah David selesai bertanya pada Andra, Shasa membuka matanya! Shasa mengucek-ngucek matanya yang sudah terbuka dan melebarkan matanya saat melihat Andra masih duduk di sampingnya
__ADS_1
"Kak Andra" Shasa tersadar dan segera memperbaiki duduknya
"Kita ini di mana?" Tanya Shasa
"Kita masih di mobil, kakak melihatmu begitu pulas saat tertidur, dan tidak tega untuk membangunkanmu!"
"Maksudnya... Kakak juga tertidur disini?" Tanya Shasa lagi
Andra Tersenyum, saat mendengar pertanyaan dari Shasa
"Paman David.. Anda juga.."
"Benar nona,," Shasa belum melanjutkan pertanyaannya David sudah menjawab karena dia sudah tahu arah pertanyaan dari Shasa
"Bagaimana keadaanmu sekarang? Apa kamu masih merasa sakit?" Tanya Andra
"Tidak kak," Shasa menggelengkan kepalanya
"Shasa sekarang sehat, jangan khawatir" tutur Shasa
Andra Tersenyum dan mengusap rambut Shasa.
"Meski kamu merasa sudah sehat tapi kamu, tetap harus di periksa" ucap Andra dan membuka pintu mobil dan turun.
Shasa turun dari mobil mengikuti Andra dan berjalan masuk kedalam rumahnya
Para pelayan ataupun pembantu yang melihat Andra dan Shasa Tersenyum dan menundukkan kepalanya, menyapa majikannya itu
Andra seperti biasa hanya akan mengangguk untuk membalas sapaan itu, sedangkan Shasa akan tersenyum manis pada Mereka.
Dokter Dafa yang sudah sejak semalam menunggu mereka menyambutnya, saat Andra dan Shasa sudah ada di ruang tamu.
"Tuan Andra" ucap dokter Dafa dengan hormat
Andra Tersenyum
"Dokter Dafa terimahkasih, karena mau menunggu sampai saat ini" tutur Andra
" Itu tidak jadi masalah," ucap dokter Dafa dan membalas senyuman dari Andra
" nona Shasa Bagaimana dengan perasaan Anda sekarang?" Tanya dokter Dafa
"Sekarang aku baik-baik saja dokter" jawab Shasa
"Seperti yang kakak bilang tadi, Meski sudah merasa baik tapi kamu tetap harus di periksa," ucap Andra
__ADS_1
"Baik kak,," balas Shasa