
"Papa juga berharap seperti itu, papa ingin semuanya hanya rekayasa. kamu sangat tahu bagaimana papa sangat menyayanginya, tapi pernyataan dari lembaran kertas itu adalah fakta yang nyata, penyakit Shasa kini sudah di stadion akhir"
Shasa yang masih ada di balik pintu, menutup mulutnya sendiri, dan menggelengkan kepalanya setelah mendengar perkataan dari dokter antoni, dia memukul-mukul dadanya yang Terasa sesak! sekujur tubuhnya terasa gemetar, dia mencoba untuk melangkah mundur, namun kakinya terasa begitu berat, air mata mengalir seketika Tanpa disadarinya
"Penyakit Shasa kini tidak bisa di sembuhkan lagi, tidak ada yang bisa kita lakukan untuknya, dia hanya dapat menunggu keajaiban datang pada dirinya! untuk memberinya sedikit kesempatan hidup selama beberapa hari" jelas dokter antoni dengan suara yang berat
"Tidak,, tidak,, Rendi terus menerus menggelengkan kepalanya
"Pa,, kenapa harus Shasa, kenapa ini terjadi padanya?" Rendi yang tidak bisa menerima kenyataan itu menangis tersedu-sedu, sambil memeluk papanya
"Pa,, Rendi sangat mencintai dan menyayanginya, Rendi tidak rela jika dia harus pergi dari hidupku, Rendi tidak pernah membayangkan itu"
"Papa tahu itu, papa pun sangat menyayanginya! Dia Bagai anakku sendiri, Tapi harus bagaimana lagi takdir berkata lain padanya, kita tidak bisa berbuat apa-apa"
Dokter Antoni melepaskan pelukan Rendi dan melihat wajah putranya yang begitu menyedihkan, seakan tidak memiliki semangat hidup lagi saat mendengar pujaan hatinya itu, kini tinggal menunggu keajaiban yang bisa membuatnya tetap hidup
"Jangan seperti ini, jangan pernah menunjukkan wajah sedih mu pada shasa, itu yang selalu ia takutkan selama ini! membuat kalian merasa sedih karenanya" ucap dokter Antoni sambil menghapus air mata putranya itu
Shasa perlahan-lahan menyeret kakinya yang begitu berat, dia berusaha sekuat tenaga untuk meninggalkan tempat itu! Dengan perasaan yang hancur, tidak bisa lagi berdalih dari kesedihan yang sudah benar-benar menyelimutinya!
dia yang selama ini sangat ahli dalam menyembunyikan perasaannya kini tidak dapat melakukan itu lagi, tangisnya seketika pecah hanya saja karena tidak ingin membuat dokter Antoni dan Rendi tahu keberadaannya, dia terus menutup mulutnya sambil berusaha untuk meninggalkan tempat dimana sekarang ia berdiri
"Nona Shasa, ada apa dengan anda?" Perawat yang bekerja di klinik Antoni menghampirinya saat melihatnya berjalan tertatih-tatih dan menangis
"Apa ada yang bisa saya bantu?
Shasa menggelengkan kepalanya dan tidak menjawab pertanyaan dari perawat itu
__ADS_1
"Apa perlu aku memberitahu dokter Antoni?" Pertanyaan dari perawat itu, membuat Shasa dengan cepat menggapai tangannya, memegannya
"Tidak,, jangan,," Shasa dengan cepat menggelengkan kepalanya
"jangan memberitahu om Antoni, siapa pun itu jangan memberitahu mereka jika aku kemari, aku mohon jangan pernah memberitahu siapapun" Shasa yang tengah menangis piluh menunduk di hadapan perawat itu sambil memohon
"Nona apa yang anda lakukan, jangan seperti ini," perawat itu langsung membuat Shasa untuk berdiri tegak lagi
" baik aku janji tidak akan memberitahu siapapun soal kedatangan anda hari ini' sang perawat patuh dengan permintaan Shasa, karena dia pun juga sudah sangat mengenal Shasa, bagaimana hubungan dia dengan dokter Antoni dan putranya dokter Rendi
Karena melihat Shasa kesusahan untuk berjalan, sang perawat mengandeng lengan Shasa dan membantunya berjalan keluar dari dalam klinik, sampai Leo yang melihatnya terkejut dengan keadaan majikannya itu
"Nona,, nona Shasa apa yang terjadi? Kenapa anda menangis? Siapa yang membuat anda seperti ini? Apa mereka melakukan hal buruk pada anda?" Leo dengan pertanyaan-pertanyaannya, bergegas untuk masuk ke dalam klinik, namun dengan cepat Shasa menghentikannya. Shasa Memegang lengan Leo yang hendak berjalan masuk ke klinik
"Aku ingin pulang, tolong antar aku pulang," suara tangis Shasa terdengar
Leo berbalik dan melihat wajah menyedihkan shasa, dia pun akhirnya menurut dan membukakan pintu mobil untuk Shasa
Tak lepas dari masalahnya dengan Raka, kini dia meratapi nasibnya yang begitu Malang.
"Tuhan,, dosa apa yang sudah aku perbuat? Dari kecil hingga sampai sekarang, aku selalu bersabar untuk menghadapi penyakit yang Kau berikan padaku, tapi sekarang Kamu ingin mengambilku begitu cepat. Apa aku tidak pantas untuk hidup bahagia di dunia ini?" Ucapnya dalam hati dengan menyalahkan takdirnya yang begitu kejam padanya yang selalu membuatnya menderita
***
Raka duduk di bangku taman sambil bersandar, wajahnya murung dan terlihat kesal, dia terus menerus menghela nafasnya, merasa kesal pada diri sendiri dan merasa bersalah pada Shasa
Cukup lama dia terduduk sendiri di bangku itu, sampai-sampai dia tidak menyadari, hari sudah gelap. Malam kini menjelang! penerangan di setiap sisi jalan telah menyala
__ADS_1
"Anak muda,," tiba-tiba seseorang menegurnya hingga membuat Raka yang hanyut dalam lamunannya tercengang
"Kamu terlihat ada dalam masalah! Apa ada yang bisa saya bantu?" Ucap seorang lelaki tua yang tengah berdiri di hadapannya dan memandangnya
"Haa.. tidak,, tidak ada apa-apa terimahkasih!" Raka menggelengkan kepalanya, yang kini sudah tersadar! Dia berdiri dari duduknya dan melihat sekelilingnya mendapati hari yang cerah telah berlalu dan kini sudah gelap.
Raka melihat Lelaki tua yang sudah membungkuk berdiri di hadapannya, dan Raka pun tersenyum sambil menundukkan kepalanya kepada lelaki tua itu.
Lelaki tua itu pun membalas senyuman darinya
"Anak muda,, kamu tidak pandai menyembunyikan perasaanmu, di wajah mu sangat terlihat jelas jika kamu memiliki masalah, ada apa? Kamu terlihat sangat sedih!" Tutur Lelaki tua itu lagi
Lagi-lagi Raka menggelengkan kepalanya
"Tidak ada apa-apa!" Jawabannya sambil tersenyum
"Maaf jika aku sudah mengganggumu, tapi ini Adalah tempat tinggal ku! Sekarang sudah malam, dan sudah waktunya untuk aku istirahat" lelaki tua itu melangkahkan kakinya yang terasa sulit untuk bergerak dan dengan Pelang dia mencoba untuk duduk di bangku! dan setelah itu membuka bungkusan kotak makanan yang ada di tangannya
Lelaki tua itu mendongakkan kepalanya melihat Raka yang sedang menatapnya, dia kembali membungkus kotak yang sudah dibukanya
"Apa kamu ingin makan?" Tanya lelaki tua itu sambil menyodorkan kotak makan itu pada Raka
"Tidak terimahkasih," ucap Raka menolak pemberian dari lelaki tua itu sambil tersenyum, dan menatap kasihan pada lelaki Tua yang kini ada di hadapannya
Lelaki tua itu kembali meletakkan kotak makanannya di bangku dan kembali membukanya, dan tersenyum mengambil sesuap demi sesuap dan menyantapnya
"Pak tua, anda tinggal disini?" Tanya Raka pada lelaki tua yang sudah menyantap makanannya
__ADS_1
Lelaki tua itu hanya menganggukkan kepalanya dan terus mengunyah makanan yang ada di mulutnya
"Keluarga anda di mana? Kenapa membiarkan Anda tidur disini? Disini banyak nyamuk dan dingin, apa lagi habis hujan! itu tidak akan membuat anda beristirahat dengan nyaman" Raka yang memberi perhatian padanya, membuat lelaki tua itu berhenti untuk makan