
Di kediaman Santoso malam itu, terlihat Santoso dan dara keluar dari kediamannya, masuk kedalam mobil dan duduk di jok belakang. Santoso terlihat santai, duduk sambil bersandar di sandaran kursi sambil melihat pemandangan malam di kota itu
Dan berbeda dengan Dara, dia terlihat sesekali merapikan makeup di wajahnya dan merapikan gaun yang di kenakannya, dan menoleh pada Santoso yang hanya duduk diam Tampa mengatakan sesuatu.
"Mas apa ada yang sedang mengganggu pikiranmu?" Tanya dara dengan rasa ingin tahunya
Santoso hanya menghela nafas, dia tidak menjawab pertanyaan dari dara
"Mas apa tidak sebaiknya kita mengajak Raka agar bisa hadir dan ikut serta dengan kita malam ini?" Tanya dara lagi pada Santoso yang tengah duduk di sampingnya yang terlihat sedang memikirkan sesuatu
"Tidak perlu," Santoso menggelengkan kepalanya
"Aku tahu jelas sifat anak itu, jika dia mengetahui aku menjodohkannya dengan keluarga Irawan dia tidak akan bisa menerimanya," ucapnya sambil membuang nafas dengan kasar
" Dan lagi pula sudah dua kali kita menyuruh Laura untuk memanggilnya, tapi dia sama sekali tidak menghiraukan panggilan itu, malam ini aku yang akan menentukan masa depannya, karena dia putraku dan aku yang punya hak untuk menentukan kebahagiaannya" ucap Santoso yang membuat dara tertawa bahagia dalam hatinya.
("Aku yakin sebentar lagi, perang antara ayah dan anak ini pasti akan terjadi, aku tidak sabar menunggu untuk melihatnya") tutur dara dalam hatinya
"Itu terserah dari mas saja, apa yang menurut mas baik untuknya" tuturnya lagi dan tersenyum senang
Santoso terdiam dan berharap agar niatnya yang ingin menetapkan tanggal pertunangan Raka dan Laura akan berjalan dengan lancar malam ini.
Setelah sampai di kediaman Irawan Santoso dan dara Turun dari mobil dan mereka di sambut baik oleh Irawan dan istrinya Debi.
Santoso dan Irawan terlihat salin berpelukan dan begitupun dengan dara dan Debi, mereka saling tertawa di teras rumah mereka.
"Silahkan masuk," ucap Irawan mempersilahkan Santoso dan dara masuk ke dalam kediamannya
"Maaf jika kami sudah membuat anda menunggu lama" ucap dara pada Debi yang sedang berjalan berdampingan dengannya.
"Sama sekali tidak, ini tidak lewat dari waktu yang sudah kita tentukan" balas Debi dan tersenyum manis padanya sambil berjalan masuk
__ADS_1
"Oh iya, aku tidak melihat Laura, apa mungkin dia masih berdandan? agar terlihat lebih cantik lagi," tutur dara sambil menengok kanan kiri
Debi tersenyum dan memanggil ART, agar memanggil Laura untuk bergabung dengan mereka, dan mempersilahkan dara dan Santoso untuk duduk
Sang ART pun dengan cepat berjalan dan menuju kamar Laura, sesampai di depan pintu kamar Laura, dia mengetuk pintu
Tok.. tok.. tok.., sang ART mengetuk pintu dari luar, tapi tidak ada jawaban dari dalam, dia mencoba untuk mengetuk pintu lagi tapi tetap tidak mendapat respon dari Laura. Tapi untuk yang ketiga kalinya,
Tok.. tok.. tok
Suara ketukan pintu itu membuat Laura yang ada di dalam kamar sambil berbaring dan berbicara dengan seseorang dari balik telfon dengan serius, merasa terganggu. Dengan kesal Laura bangun dan menyuruh ART itu untuk masuk
"Masuk" ucapanya dengan nada yang kesal
Mendengar jawaban itu, sang ART dengan cepat masuk kedalam kamar
"Nona,, tuan dan nyonya memanggil anda untuk turun menyambut kedatangan tuan Santoso dan nyonya dara" jelas ART itu
"Maaf nona aku juga tidak tahu pasti" jawab ART itu
"Baiklah aku akan segera turun" jelas Laura dan melanjutkan pembicaraannya dengan seseorang yang ada di balik ponselnya
"Sayang aku harus menyambut tamu dulu, maaf aku akan mengakhiri pembicaraan kita, aku mencintaimu ummmua" Laura menutup panggilannya dan dengan segera bergegas turun ke lantai bawah untuk menyambut kedatangan Santoso dan dara.
"Nah itu dia sudah datang" ucap Irawan sambil berdiri di saat melihat Laura yang sudah Turun sambil menuruni anak tangga satu persatu
Laura berjalan mendekat pada Irawan yang kini terlihat begitu senang dan bahagia.
Dan tak lupa Laura menyapa Santoso dan dara
"Malam om,, malam Tante" sapaan dari Laura sambil menundukkan kepalanya dan tersenyum manis padanya
__ADS_1
Laura mendekat pada irawan
"Pa,, ini ada apa?" Tanya Laura dengan penasaran sambil berbisik pada Irawan, dan tersenyum lagi pada Santoso dan dara yang tengah melihatnya.
"Sayang kedatangan mereka malam ini untuk menetapkan tanggal pertunangan kamu dan Raka putranya," jelas Irawan membalas pertanyaan dari Laura sambil berbisik juga.
Laura membuka lebar mulutnya dan mengerutkan keningnya, setelah dengan apa yang telah di ucapkan pada Raka padanya sebelumnya, dan bagaimana Raka memperlakukannya saat dia di kantornya, Laura sudah tidak menyukai Raka lagi, pria yang tidak memiliki sopan santun sama sekali membuat Laura jadi ilfil padanya.
Dara memperhatikan raut wajah Laura, dan melihat ada ke anehan dalam cara dia menatap kedua orang tuanya, dara menangkap itu menandakan Laura tidak menginginkan pertunangan itu terjadi, Laura tidak ingin dia bertunangan dengan Raka, terlihat ada kemarahan dalam tatapan matanya itu. dara tersenyum dalam hatinya, dan mencoba untuk sengaja menuangkan sebotol minyak kedalam api yang tengah menyalah itu.
"Laura sayang,, sebentar lagi kamu akan menjadi bagian dari keluarga Santoso, kamu akan menjadi menantu kesayangan bagiku," tutur dara sambil tersenyum
"Benar kedepannya kamu akan memanggilku dengan sebutan papa juga!" Lanjut Santoso dan kemudian tertawa bahagia.
"Om, Tante maaf jika aku harus mengatakan ini, aku tidak ingin bertunangan dengan putra anda" jelas Laura hingga membuat suasana bahagia itu berubah menjadi hening untuk sesaat
"Laura tidak ingin berhubungan dengan pria yang dingin dan arogan seperti tuan Raka," jelasnya lagi
Mendengar penjelasan putrinya dengan cepat Debi berdiri dan menghampirinya dan Memegang lengan Laura
"Apa yang kamu katakan? Kenapa tiba-tiba menolak? Bukannya kamu juga menyukainya?" Tanya Debi dengan rasa penasarannya
" Ma,,, Raka memiliki seseorang dalam hatinya, dan dia mengatakan padaku jika dia sama sekali tidak menyukaiku. Aku tidak ingin pertunangan ini terjadi, Laura tidak ingin bertunangan dengan seseorang yang sama sekali tidak menghargai Laura" ucapnya lagi yang membuat dara tersenyum bahagia sambil meneguk minuman yang disuguhkan padanya
"Seseorang, maksudmu?" Tanya Irawan dengan rasa ingin tahu
"Raka memiliki kekasih pa,, dia mencintai orang lain dan itu bukan aku, Laura masih punya hati dan tidak ingin masuk di tengah-tengah mereka, biarkan mereka bersama. Laura tidak akan menerima perjodohan ini" jelasnya lagi dan melihat papanya dengan harapan agar mau membatalkan perjodohan yang sudah mereka sepakati
Karena dengan pernyataan Laura, Santoso dengan cepat berdiri dan mendekat pada Laura, mencari cara agar perjodohan itu tidak di batalkan, Santoso sudah tahu jelas dengan sifat Raka yang selalu menentangnya, dan dia sudah mengira hal ini pasti akan terjadi.
"Laura, mungkin om salah karena sebelumnya tidak menceritakan semuanya padamu. Sebenarnya dulu Raka memiliki teman semasa kecilnya, mereka sangat akrab dan selalu bersama, dan itu berlanjut beberapa tahun lamanya sampai mereka tumbuh bersama" jelas Santoso dengan memasang wajah sedih
__ADS_1