
Rendi menghela nafas, saat Raka meninggalkan mereka berdua, bukannya senang karena memiliki kesempatan untuk berduaan dengan Shasa, tapi Rendi malah tidak suka dengan kelakuan Raka yang meninggalkan Shasa demi untuk menemui Fiona.
Rendi melihat Shasa tersenyum, namun dia tahu dalam hatinya ada sedikit keraguan.
"Kenapa membiarkannya pergi? Apa kamu tahu jika Fiona pernah menjadi salah satu penyemangat dalam hidupnya? Apa kamu tidak takut, jika Raka bisa saja...
"Kak Rendi jangan mencoba untuk menjelekkannya, aku tahu tentang Fiona tapi percaya pada raka."
"Shasa.. jangan terlalu polos, kak Rendi tahu kamu sangat mencintainya, tapi jangan membiarkan dia untuk sesuka hatinya berperilaku padamu! kamu jangan mau di bodohi olehnya"
"Kak Rendi.. jangan mencoba untuk memanasiku, sekarang aku dan Raka sudah resmi jadi suami dan istri yang sah, jadi tidak ada kesempatan lagi bagi Fiona untuk masuk dalam hatinya" ucap Shasa, meski sebenarnya dia pun merasa sedikit takut
"Kamu masih begitu polos, jangan terlalu percaya padanya" ucap Rendi yang terus memperingati shasa
"Kak,, kakak jangan mencoba untuk menghasut ku, aku percaya padanya
"Shasa.."
"Kak Rendi,," Shasa menatap Rendi dengan tatapan sinis, hingga membuat Rendi terdiam
Rendi mengambil gelas yang berisi bir di hadapannya dan langsung meminumnya Sebelum Shasa menghentikannya
"Kak Rendi kamu..." Shasa menunjuk Rendi dengan tatapan marah
Rendi menaruh gelas dan menaikkan kedua bahunya, melihat Shasa tanpa mengatakan apa-apa lagi padanya.
__ADS_1
Raka menarik kursi dan duduk di depan Fiona sambil melihat Fiona meneguk, minuman yang ada dalam botol yang ada di tangannya sekarang.
Dia terus meneguknya sampai isi dalam botol habis tak tersisa.
Fiona melihat Raka yang hanya diam menatapnya! yang kini duduk di hadapannya dan kemudian memalingkan wajahnya
"Sejak papa meninggal, mama pun mulai menggila! Sejak itu aku selalu menangis, tiap hari aku terus menangis tidak tahu harus berbuat apa. lihat botol minuman seperti ini yang selalu menemaniku setiap hari!" Ucap Fiona sambil melihat botol minuman yang ada di tangannya.
Fiona menyimpan botol yang sudah kosong, dan mengambil botol yang baru
"Saat aku mulai terpuruk dan putus asah, hanya nama kak Raka yang ada dalam pikiranku saat itu, yang seakan selalu memberi aku semangat untuk hidup. Sejak dari itu aku mencari tahu tentang dirinya, mengakses internet, mencari di media sosial. Meski tak menemukannya hari ini, aku selalu meyakinkan diri sendiri, bahwa besok aku pasti akan menemukan kontak dirinya, sampai-sampai tanpa aku sadari, waktu begitu cepat berlalu! itu berlangsung sampai sepuluh tahun lamanya." Fiona tersenyum dan menggelengkan kepalanya
"Tidakkah menurutmu itu hal yang gila? hanya untuk mencari kontak seseorang sampai-sampai harus membutuhkan waktu selama sepuluh tahun! Aku pun saat itu tidak percaya, dan mulai putus asah lagi untuk mencari, tapi keesokan harinya, aku menemukannya, aku langsung menghubunginya saat itu" Fiona tersenyum dalam kesedihannya
"Aku sangat bahagia sangat bahagia, dan saat itu aku Mendengar apa kata dokter yang merawat mama! Jika mama harus di pindahkan ke kota ini. Kebahagiaan ku saat itu berlipat ganda! Aku tidak pernah berhenti untuk berfikir, ingin langsung menemuinya, setelah aku sampai! dialah satu-satunya harapan aku untuk hidup, aku selalu memimpikannya hidup bersama, tapi apa kamu tahu setelah aku sampai dan menemuinya, aku menemukan jika dia memiliki wanita yang iya cintai" Fiona melihat Raka yang kini duduk di hadapannya dengan mata yang berkaca-kaca
"Sekarang aku baru menyesal, aku benar-benar menyesal sudah meninggalkannya dulu. Andai waktu bisa di putar, aku ingin kembali di mana dia pernah memintaku untuk tinggal bersamanya, aku hanya ingin bersamanya" Fiona meletakkan botol di atas meja dan iya meletakkan tangannya tertunduk meletakkan dahi di atas tangannya sambil menangis tersedu-sedu
Raka berdiri dan memindahkan kursinya mendekat pada Fiona, iya kembali duduk dan meletakkan tangan di bahu Fiona sambil menepuk-nepuknya
"Jangan menangis..!" Hanya itu yang bisa Raka ucapkan pada Fiona untuk bisa menenangkan hatinya
Fiona mendongakkan kepalanya, melihat Raka dengan mata yang memerah, iya Memegang tangan Raka
"Kak Raka, kenapa kamu berpaling dariku? Padahal Aku sangat mencintaimu. kenapa harus Shasa? Kenapa harus dia Yang memenangkan hatimu? Padahal itu hanya aku yang berhak" ucap Fiona memegang erat tangan Raka seolah-olah tidak ingin melepaskannya
__ADS_1
"Fiona jangan seperti ini! Kamu wanita yang cantik dan baik, aku yakin kamu akan mendapatkan pria yang sangat baik dan sangat menyayangimu kelak. Sekarang semuanya sudah menjadi seperti ini, hilangkan ingatan di masa lalu, dan berpikirlah untuk masa yang akan datang, aku yakin kamu akan berbahagia" ucap Raka
"Hei kalian berdua, apa belum selesai dengan reuninya?" Ucap Rendi dan memegang bahu Raka dari belakang
" Raka kamu baru saja menikah dengan Shasa dan sekarang kamu disini bersama dengan wanita lain! Kamu itu benar-benar keterlaluan, apa kamu sedikitpun tidak memikirkan perasaan Shasa? meski dia tidak mengatakannya, tapi aku tahu jika sekarang dia sedang merasa cemburu, seharusnya tadi aku menghasutnya untuk menceraikan mu saja!" Ucap Rendi yang tiba-tiba datang begitu saja dan duduk di dekatnya
Raka menoleh kearah Shasa yang kini duduk sendiri di sana, sambil menatap kearahnya dan tersenyum, Raka membalas senyuman itu dan kembali untuk melihat Fiona,
" Fiona maaf aku harus bersama Shasa sekarang, kamu tetap harus berpikir positif! Aku minta maaf jika punya salah, aku harap kamu mau memaafkan ku" ucap Raka sambil melepaskan tangannya dari genggaman tangan Fiona
"Kak Raka,," Fiona tidak rela jika Raka meninggalkannya namun Raka tetap berjalan kearah Shasa yang tengah duduk sendirian, Fiona beranjak dari tempat iya duduk bermaksud untuk mengikuti Raka, namun dengan cepat Rendi menggapai tangannya dan menghentikannya
"Apa yang kamu lakukan? lepaskan aku!" Pinta Fiona saat Rendi menggenggam erat tangannya
"Aku tidak peduli jika kamu ingin, memiliki Raka. Tapi aku tidak ingin karena mu Shasa harus sakit hati, aku peduli dengan itu. Jadi nona Fiona hilangkan perasaanmu pada Raka" ucap Rendi sambil melepaskan genggaman tangannya
"Apa kamu tahu bagaimana rasa sakit hatiku? Sehingga kamu begitu mudah menyarangkan untuk menghilangkan perasaan ini?" Tanya Fiona
Rendi tersenyum
"Aku tahu, aku sangat tahu, karena itu yang aku rasakan saat ini! aku sama denganmu mencintai seseorang yang mencintai orang lain, itu sangat menyakitkan! Tapi apa boleh buat? Selain membiarkannya, aku tidak bisa melakukan apa-apa, karena kebahagiaannya itu yang paling penting bagiku," ucap Rendi dan juga mengambil botol minuman yang masih ada di hadapannya
"Nona Fiona,, apa kamu ingin menemaniku untuk minum malam ini?" Tanya Rendi sambil menyodorkan botol minuman yang ada di tangannya
Fiona tersenyum,
__ADS_1
"Apa yang kamu katakan benar, membiarkannya hidup bahagia itu yang terpenting. baiklah karena nasib kita sama maka sebaiknya kita melewati malam ini dengan menghabiskan semua minuman yang ada di sini," ucap Fiona sambil mengangkat botol minumannya