
Setelah lama tak sadarkan diri, Shasa kini membuka matanya dengan pelan, mengucek-ngucek matanya yang Terasa berat, Shasa bingung karena mendapati dirinya terbaring di lantai, dengan cepat Shasa bangun dan melihat sekelilingnya. Mengamati setiap sudut ruangan
"Ini,, ini aku di mana?" Tanyanya pada diri sendiri
Shasa memukul-mukul kepalanya yang masih terasa berat dan pusing, sambil mengingat akan kejadian yang sudah menimpanya.
"Mereka,," ucapannya terhenti saat Shasa menutup mulutnya sendiri, ketika telah mengingat seseorang telah menculiknya.
Dengan cepat Shasa bangun, duduk dan berdiri. Agar tidak menimbulkan suara, dengan sangat hati-hati Shasa melangkahkan kakinya dengan mengendap-endap mendekat pada pintu.
Shasa mendekatkan telinganya di daun pintu mencoba untuk mendengar suara bising yang ada di balik pintu, tangannya terus menempel di mulutnya agar tidak bersuara.
"Ini bagaimana? Aku harus bagaimana?" Tanyanya dalam hati yang sudah kebingungan.
Shasa bersandar di pintu dan terus mengamati ruangan itu, Shasa melihat ke segala arah, dan mendapati di dalam sana ada sedikit celah, yang membuat cahaya bisa masuk,
Shasa membulatkan matanya memastikan apa yang dilihatnya, dia mencoba untuk menghampiri cahaya itu dengan sangat hati-hati, dan jauh di depannya dia melihat sebuah jendela yang di halangi banyak benda-benda yang berat.
Ada begitu banyak kardus-kardus besar yang tidak tahu apa isinya hingga membuatnya begitu berat, dengan kekuatan Shasa untuk menggesernya sedikit saja dia tidak bisa.
Shasa berhenti dan terdiam sejenak, mencari cara aga bisa keluar dari tempat itu
"Aku tidak boleh membuang waktu, sebelum mereka masuk kemari" ucapnya lagi sambil menggelengkan kepalanya dan memikirkan cara agar bisa keluar dari tempat itu.
Untuk sejenak Shasa terdiam
"Benar,,! Ponsel, ponselku di mana?" Tiba-tiba Shasa teringat akan ponselnya, Shasa mencoba untuk mencari ponselnya saat mengingat itu bisa membantunya untuk memberitahu Rita dan rendi agar bisa membantunya, namun tidak mendapatkannya.
__ADS_1
Shasa mengingat lagi akan kejadian saat dia di culik, saat itu dia memegang ponselnya, dan ketika mereka menculiknya ponsel yang ada di datangannya terjatuh, Shasa memukul kepalanya lagi dan menggelengkan kepalanya yang menganggap dirinya terlalu ceroboh.
"Bagaimana ini? Kenapa aku bisa secerobo itu? Bagaimana aku bisa keluar dari sini?" Tanya Shasa pada diri sendiri yang kini merasa bingung dan panik.
"Bagaimana gadis yang ada didalam? apa dia sudah sadar?" Dengan tiba-tiba Suara tanya seorang laki-laki terdengar dari balik pintu.
mendengar suara yang mempertanyakan dirinya, Shasa sudah menebak itu orang yang sudah menculiknya.
dengan cepat Shasa kembali ketempat semula dan berbaring, memejamkan matanya, seolah-olah dia masih tak sadarkan diri.
Kleek..
Suara pintu terbuka, Shasa sedikit demi sedikit membuka mata untuk melihat seseorang yang tengah masuk di ruangan itu, Shasa ingin tahu siapa yang telah menculiknya, namun seorang lelaki yang bertubuh besar dan berpakai serba hitam sudah terlihat berjalan ke arahnya.
Shasa kembali menutup matanya dan berpura-pura masih pinsang, dia mencoba menahan ketakutan yang sekarang sudah mulai muncul di dalam dirinya, saat lelaki itu terasa merapikan rambutnya yang sudah menutupi wajahnya, Shasa berusaha menahan tubuhnya yang mulai gemetar.
Lelaki yang satunya lagi berlutut dan melentakkan jari telunjuknya di bagian lubang hidung Shasa, mencoba merasakan nafasnya dan menundukkan kepalanya kebagian dada Shasa untuk merasakan denyut jantungnya.
"Nafas dan denyut jantungnya masih ada dan itu sangat stabil, mungkin sebentar lagi dia tersadar, gadis ini sangat lemah mungkin saja itu yang membuatnya tidak bisa bertoleransi dengan obat yang di hirupnya, obat bius yang kita berikan mungkin terlalu banyak sehingga membuatnya pinsang terlalu lama" jelas lelaki yang sudah memeriksanya itu dan berdiri
"Ya sudahlah, kita keluar saja dulu nanti kita akan masuk lagi setelah dia tersadar" ucapnya lagi sambil memegang tangan temannya dan mengajaknya untuk keluar dari ruangan itu.
Mendengar suara pintu sudah tertutup, dengan Pelang shasa membuka matanya dan melihat ke depan, kearah pintu.
Melihat tidak seorang pun yang tinggal, dengan cepat Shasa bangun, dan berjalan mengendap-endap ke tempat di mana jendela itu berada.
"Ini jalan satu-satunya yang bisa membebaskan ku dari tempat ini" tuturnya dalam hati
__ADS_1
Shasa mencoba untuk memanjat kardus-kardus itu, dia terlihat menaiki kardus yang besar dan tersusun rapi
"Bibi, kak Rendi, om Antoni tolong Shasa" tuturnya lagi sambil mengusap air mata yang sudah menetes ke pipinya karena merasa takut dan terus berusaha memanjat kardus-kardus besar itu, sesekali Shasa mendapat goresan dari sudut kardus yang keras, untuk mencegah agar dia tidak menjerit kesakitan, Shasa menutup mulutnya dan tetap berusaha agar bisa sampai pada jendela itu.
Bagian tubuh Shasa telah mendapat banyak goresan akibat benda yang ada dalam kardus dan beberapa kayu yang berserakan di atas tumpukan kardus itu.
Setelah lama berusaha, Shasa sampai di dekat jendela, dia mencoba untuk mendorong jendela dengan sekuat tenaganya, tapi jendela itu terlalu kuat, Shasa terus mencobanya lagi dan lagi sampai akhirnya jendela itu terbuka, senyum di wajahnya pun terlihat. Dan tidak menunggu lama, Shasa dengan cepat keluar dari ruangan itu melalui jendela.
Ada perasaan legah di hatinya karena berhasil keluar, namun Shasa kini merasa bingung karena tidak tahu dia sekarang ada di mana, Shasa melihat bangunan yang seperti gudang itu, mengamatinya dengan cermat, tapi dia sama sekali tidak tahu itu tempat apa.
Shasa tidak ingin ambil pusing untuk mencari tahu tempat apa yang di tempati nya saat di kurung.
sebelum para lelaki itu menyadari dia keluar dari ruangan Shasa bergegas untuk selamatkan diri dulu, dia melangkahkan kaki menjauh dari tempat dimana dia telah di kurung, meski tidak tahu sekarang dia ada dimana.
Shasa terus berjalan dan terus bertanya dalam hatinya
"Kenapa mereka menculik ku? Aku rasa tidak pernah menyinggung seseorang, tapi ada masalah apa mereka padaku?" Shasa terus bertanya pada diri sendiri.
Karena merasa sudah berjalan agak jauh dari tempat itu, Shasa yang merasakan capek beristirahat di sebuah bangunan kosong.
Shasa memasuki celah-celah untuk beristirahat agar tidak ada yang bisa menemukannya, jika para penculik itu mencarinya.
Air matanya terus menetes di pipinya, rasa sesak di dadanya kini terasa, Shasa mencoba mencari obat di setiap saku dari pakaian yang di pakainya, namun obat itu tidak di temukan nya,
Shasa mengingat lagi dia menaruh obatnya di dalam tas, tapi tas itupun terjatuh saat para penculik itu menculiknya.
Shasa bersandar di tembok yang besar berusaha untuk menenangkan diri menahan sesak dan rasa sakit yang muncul dalam hatinya.
__ADS_1
Wajahnya mulai memucat dan keringat dingin pun sudah mulai bercucuran.