
David duduk di tepi ranjang dan melarangnya untuk bangun
"Jangan,," ucap David
"Kamu tidak perlu untuk bangun, tetaplah untuk berbaring dan beristirahat, kamu sangat lemah sekarang" ucap David lagi sambil memegang lengan Leo melarangnya untuk bangun dan kembali membatunya untuk berbaring
"Kamu sangat beruntung! Karena nona Shasa hidupmu bisa terselamatkan," jelas David yang membuat Leo merasa berhutang pada Shasa
" untuk kedepannya! Kerjakan tugas dengan baik dan jangan membuat kesalahan seperti Tempo lalu" jelas David yang mencoba untuk memberinya sedikit nasehat pada Leo, dan sebenarnya David pun tidak tega melihat Leo yang mendapatkan hukuman seperti itu, namun apa boleh buat, dia pun juga hanya seorang bawahan
David menatap kasihan pada Leo, tubuhnya sangat lemah akibat siksaan yang dia dapat beberapa hari ini
Tok... Tok.. tok.. Suara ketukan terdengar dan seseorang membuka pintu.
Kleek... Leo dan David melihat ke arah pintu.
Tidak menunggu waktu yang lama seseorang masuk dan membawa sekotak makanan dan sebotol air minum untuk Leo
Leo bangun saat melihat, temannya itu membawakan makanan untuknya dan memperlihatkan senyum di bibirnya
" Tuan" bawahannya itu menundukkan kepalanya dan meletakkan kotak makanan itu di atas meja, yang terdapat di samping ranjang yang di tempati oleh Leo sekarang
David mengangguk saat melihat bawahannya itu menundukkan kepalanya, dan melihat Leo saat bawahan yang membawa makanan itu sudah keluar dari dalam kamar
"Makanlah agar kamu punya stamina dan lekas sehat, agar nona Shasa tidak melihat dirimu yang seperti ini" ucap David
"Terimakasih tuan.."
"Ucapkan itu,, pada nona Shasa, kamu bisa bebas itu karenanya" jelas David
Leo mengangguk dan mengambil kotak makanan itu dan segera memakannya dengan lahap
Karena beberapa hari tidak di beri makan dan minum, Leo dengan cepat menghabiskan makanan itu dan meminum air putih dalam botol tanpa menyisakannya
Karena hukuman yang di berikan oleh Andra, sekujur tubuh Leo memiliki banyak luka memar dari bekas cambukan yang diterimanya, dari itu David memberinya obat pada Leo, agar luka-luka itu akan lekas sembuh dan hilang
__ADS_1
***
Laura, di lantai dua rumahnya berdiri dan melihat para pekerja yang tengah mendekorasi rumahnya! Untuk merayakan pesta ulang tahunnya malam ini, meski penataan mereka belum selesai, tapi dekorasi itu sudah terlihat sangat mewah dan megah
Tanpa iya sadari Irawan dan Debi tengah berdiri di belakangnya, dan memperhatikannya
"Sayang,, apa yang sedang kamu pikirkan?" Tanya Debi sambil memegang bahu Laura dan berdiri di sampingnya.
Irawan pun melakukan hal yang sama, dia melangkahkan kakinya mendekat pada Laura dan berdiri di sampingnya kemudian Tersenyum
Laura hanya menatap Debi tanpa menjawab pertanyaan darinya
"Malam Ini, papa dan Santoso akan mengumumkan pembatalan pertunangan mu dengan Raka." Ucap Irawan sambil melihat ke bawah, melihat para pekerja yang tengah sibuk menata rumah mereka
Debi pun Tersenyum dia melihat Laura dan membenarkan perkataan dari suaminya itu
"Benar sayang,, jadi kamu jangan bersedih dan jangan banyak berfikir lagi!" Balas Debi sambil menggandeng bahu putrinya itu
"Pa.. ma.." Laura menoleh dan melihat Debi dan kemudian melihat Irawan yang dengan serius melihat para pekerja itu
Laura Memasang wajah bersalah pada orang tuanya, karena tidak menuruti keinginan dari mereka.
Meski merasa kecewa namun Irawan tidak punya pilihan lain, mengingat apa yang sudah pernah terjadi pada Laura, hingga membuatnya harus di rawat beberapa hari di rumah sakit, Irawan tidak lagi berfikir untuk melanjutkan pertunangan putrinya itu.
Laura meraih lengan Irawan dan memeluknya
"Pa,, terimahkasih" ucap Laura dengan senyum manis di bibirnya" dan melihat debi. memeluk pinggang Debi yang tengah menggandeng bahunya
"Terimakasih pa,, ma,, dan maaf karena Laura sudah membuat papa dan mama kecewa, Laura tidak dapat memenuhi apa yang papa dan mama inginkan"
"Sayang,, jangan mengatakan itu, papa dan mama melakukan itu hanya demi kebahagiaan mu, jika kamu tidak merasa bahagia! untuk apa kami meneruskannya" jelas Debi sambil tersenyum dan menatap laura
"Sekarang bergegaslah untuk berdandan, tidak lama lagi, para tamu akan datang!" Ucap Debi sambil mengelus wajah cantik Putrinya itu
Laura mengangguk, dan melangkahkan kakinya, berjalan menuju kamarnya di mana di dalam kamarnya itu! Sang penata rias yang bernama Paula, yang tak lain adalah temannya sendiri sudah berdiri mengatur gaun yang akan di pakai untuk Laura malam ini
__ADS_1
Sang penata rias itu menoleh saat Laura masuk kedalam kamar, dan Tersenyum padanya
"Bagaimana menurutmu dengan gaung ini, apa ini cocok dengan selera mu?" Tanyanya sambil memperlihatkan gaun yang ada di tangannya
Laura mengangguk dan tersenyum, namun memasang wajah yang penuh dengan kegelisahan
"Ada apa? Pesta ini untukmu, tapi kamu terlihat tidak bahagia, apa yang kamu pikirkan?" Tanya temannya itu
"Paula,, aku merasa tidak bahagia! Apa menurutmu aku harus membatalkan pertunanganku dengan Raka? Mengingat perlakuan Dilan padaku, aku merasa aku harus membalasnya! Dengan bertunangan dengan Raka Santoso, aku bisa menggunakannya untuk membalaskan dendam ku pada Dilan, tapi aku sama sekali sudah tidak memiliki perasaan pada Raka" ucap Laura dan mengingat akan dimana di saat dia mencoba untuk mengakhiri hidupnya.
Saat malam itu, dia memotong urat nadinya karena merasa kecewa pada Dilan yang sudah menghianatinya.
Laura yang tahu akan penghianatan Dilan padanya, saat dia menelfonnya, Dan yang menjawab panggilan itu adalah kekasih Dilan yang lain.
Mengingat dengan apa yang sudah dia lakukan bersama dengan Dilan, Laura tidak habis pikir jika dilan akan menghianatinya.
Tangis Laura pecah, ketika mengingat akan hal itu. Namun dia pun tidak bisa melakukan apa-apa lagi
"Sudah.. jangan menangisi pria seperti Dilan itu, dia sama sekali tidak pantas untuk kamu tangisi" ucap Paula yang mencoba untuk menenanngkan hati Laura.
Waktu cepat berputar, dan kini rumah Irawan pun sudah kedatangan Tamu undangan, satu persatu.
Tidak mau ketinggalan Santoso pun kini sudah datang dan langsung berjalan menghampiri Irawan dan Debi.
Dengan senyum di bibirnya Santoso berjalan dan mengangguk pada setiap tamu yang menyapanya
Tidak menunggu waktu yang lama, di kediaman Irawan itu pun mulai ramai.
Santoso dan Irawan serta Debi berdiri berdampingan dan menyambut para tamu yang datang
"Bagaimana menurutmu, apa Raka akan hadir?" Tiba-tiba Irawan bertanya pada santoso
Santoso menghela nafas dan menggelengkan kepalanya saat mendengar pertanyaan itu
"Tidak tahu, anak itu sangat sulit untuk di mengerti, dia begitu keras kepala! Aku tidak tahu bagaimana cara untuk membuatnya datang kemari" Keluhan dari Santoso terdengar
__ADS_1
Irawan Tersenyum dan menepuk-nepuk bahu Santoso.
"Jangan di pikirkan, itu tidak jadi masalah jika dia tidak datang" ucap Irawan