
Rendi yang merasa gelisah, mondar mandir di dalam apartemennya, ucapan dari Rita membuatnya berpikir keras, tentang Shasa,
("Rendi,, bagi Shasa kamu hanya sekedar saudara baginya, dia menganggap mu hanya sebagai kakak laki-lakinya, dia tidak memiliki perasaan yang lebih dari itu untukmu, jadi biarkan dia memilih sendiri kebahagiaan yang dia inginkan")
Ucapan itu selalu terngiang di telinganya, Rendi menggelengkan kepalanya
"Tidak,, aku tidak boleh menyerah begitu saja, aku tidak rela jika Shasa harus bersama dengan Raka, aku tidak akan membiarkan itu terjadi. selama ini Shasa selalu bergantung padaku, dan aku yakin shasa tidak akan melupakan semua yang sudah aku lakukan padanya" tutur Rendi pada dirinya sendiri dan meyakinkan dirinya jika Shasa tidak mungkin tidak memiliki perasaan padanya.
perasaan yang selama ini Rendi pendam tidak ingin dia lupakan begitu saja, dia sudah terlanjur mencintai Shasa dari itu dia tidak ingin Shasa bersama dengan raka.
Rendi keluar dari apartemennya dan berniat untuk mendatangi Shasa di kediaman Raka, meski sebelumnya telah di larang oleh Rita, Tapi kini Rendi tidak peduli. Dia tidak ingin menyerah dan kehilangan Shasa, Rendi begitu mencintainya, dari itu dia tidak pernah berniat untuk berkencan dengan wanita lain.
***
Di kediaman Raka, dokter reza pamit untuk pulang setelah memeriksa dan mengobati Shasa
"Ingat kamu harus beristirahat dengan baik, kondisimu masih lemah setelah menghirup obat bius yang terlalu keras" jelas dokter Reza memperingati Shasa
"Baik dokter," ucap Shasa menganguk, dan tetap bersandar di sandaran tempat tidur
Dokter Reza tersenyum, melihat Shasa yang begitu menggemaskan, dia mengacak rambut Shasa yang ada di hadapannya, tapi perlakuannya itu membuat Raka yang melihatnya menjadi panas dan dengan cepat memukul tangan dokter Reza yang ada di kepala shasa
"Tugasmu sudah selesai sebaiknya kamu pergi sekarang" ucap Raka yang mengusir langsung dokter Reza Tampa berbasa-basi
"Oho.. tuan Raka kamu benar-benar tega, setelah mendapat bantuan dariku, kamu dengan begitu mudanya mengusirku begitu saja," tutur dokter Reza, sambil tersenyum dan tidak beranjak dari tempatnya dan tetap menggoda Shasa yang ada di depannya
"Shasa jangan begitu muda untuk percaya padanya, dia itu pria yang jahat, banyak wanita yang mengejarnya, itu berarti kamu akan dapat banyak saingan, aku tidak rela jika kamu tertipu oleh kata-kata manisnya" jelas dokter Reza dengan cara berbisik tapi tetap memperdengarkannya pada Raka
Shasa mengangguk dan tersenyum mendengar perkataan darinya, namun Raka jadi marah dengan semua kata-kata yang di ucapkan dokter Reza pada Shasa, Raka menarik tangan dokter Reza yang tengah duduk di hadapan Shasa, menariknya untuk keluar dari kamar
__ADS_1
"Kamu sudah tidak di perlukan lagi, cepat pergi, sebelum aku menyuruh orang untuk menyeret mu dari sini" ucap Raka dengan nada dinginnya yang mengancam
Senyum dari mulut dokter Reza tidak pernah hilang, dia yang berdiri di luar pintu kamar menatap Raka dengan penuh rasa kasihan.
Dokter Reza melangkahkan kakinya sambil menggelengkan kepalanya
"Dari dulu sampai sekarang, kamu selalu saja seperti itu, kawan,, apa kamu melupakan semasa kita sekolah dulu? Dan bagaimana kita bersama dulu? Selain diriku kamu tidak punya siapa-siapa dan aku tahu kamu dari dulu sangat menyukaiku," ucap dokter Reza yang mengingatkan Raka akan kebersamaan mereka dahulu
"Tuan Raka dengan sikapmu yang seperti ini, dan kata-kata kasar yang selalu kamu pakai sebagai senjatamu, aku yakin tidak akan ada wanita yang mau denganmu, terutama gadis cantik yang ada di dalam kamar itu," jelas dokter Reza sambil melihat kearah arah kamar
"kawan,, sebagai teman dekatmu, aku memberimu satu sarang! ubah sikap burukmu itu, bagiku itu sudah biasa tapi bagi orang yang baru mengenalmu, itu hal di luar kebiasaan, itu tidak akan baik. sama sekali tidak ada baik-baiknya" jelasnya lagi sambil tersenyum dan menepuk-nepuk bahu Raka
"Cara bicaramu yang terdengar kasar, itu akan membuat orang lain yang mendengar akan mudah tersinggung, semua itu harus kamu rubah, apa lagi sifat dingin mu itu, tatapan matamu yang mampu membekukan orang itu semuanya harus kamu rubah, jangan seperti ini terus, aku yakin dan percaya itu bukan dirimu yang sebenarnya" jelas dokter Reza lagi
Raka terdiam mendengar perkataan dari dokter Reza, dia melihatnya dengan tatapan yang penuh dengan tanda tanya, dan dia termakan oleh omongannya, Raka menganggap perkataan dari dokter Reza itu ada benarnya. Dan tanpa rasa malu Raka bertanya padanya
"Ha-ha-ha, sebenarnya asli dari dirimu yang sebenarnya kamu itu lugu dan lucu, tapi sayang sekali malam ini aku ada janji dengan seseorang, aku akan mengajarimu lain waktu, dan jika ada kesempatan. jadi aku harus pergi sekarang, aku tidak ingin orang yang spesial, menungguku dengan lama hanya gara-gara mengurusi dirimu" ucap dokter Reza sambil melihat jam yang ada di pergelangan tangannya
Sebelum pergi dokter Reza kembali mengatakan sesuatu pada raka
"Tetap jaga dia, dan tetaplah untuk bersikap baik padanya, hanya itu yang dia butuhkan untuk gadis seperti dirinya, dia tidak akan mengharapkan apa-apa lagi jika mendapat kebaikan darimu" jelas dokter Reza yang terlihat serius dan melangkahkan kakinya berjalan keluar dari kediaman Raka.
Mendengar nasehat dari dokter Reza, Raka terdiam dan mendalami maksud dari dokter Reza, sekarang dia hanya, memandangi punggung dokter Reza sampai menghilang dari pandangannya dan berjalan lagi masuk kedalam kamar dimana Shasa ada di sana
Shasa kini berbaring dan melihat Raka yang tengah berjalan masuk menghampirinya
Dengan cepat Shasa bangun
"Apa dokter Reza sudah pergi? Tanya Shasa pada Raka
__ADS_1
"Iya, dia sudah pergi. Tetaplah untuk berbaring kamu dengar sendiri apa kata dokter Reza tadi, kamu harus banyak istirahat" ucapanya dan membantu Shasa untuk kembali berbaring
Tok..tok..tok..
Suara ketukan dari pintu terdengar.
"Masuk" ucap Raka
Kleek.. suara pintu terbuka, Raka menoleh dan melihat Anton tengah berjalan dan menghampirinya.
"Malam nona" sapa Anton sambil tersenyum pada Shasa yang sudah berbaring
"Malam paman" balas Shasa sambil membalas senyuman Anton
Anton terlihat menunduk dan berbisik pada Raka yang tengah duduk di tepi ranjang.
"Tuan,, dokter Rendi ada di luar mencoba untuk masuk kemari!" Tutur Anton yang sedang berbisik.
Raka tercengang saat mendengar perkataan dari Anton
"Cegah dia jangan membiarkannya untuk masuk, aku akan segera kesana" balas Raka dengan berbisik juga
"Ada apa?" tanya Shasa dengan tiba-tiba saat, melihat kelakuan Raka dan Anton begitu aneh
"Tidak ada apa-apa, kamu istirahat disini, aku harus keluar sebentar, Surti akan menjagamu disini jika ada apa-apa katakan saja padanya" jelas Raka dan mengelus rambut Shasa Sebelum dia keluar dari kamar
Raka berdiri dan berjalan menuju pintu kamar, saat Raka ingin membukanya, pintu itu sudah terbuka dari luar, dan terlihat Rendi sudah berdiri di hadapannya
"Kamu?" Raka mengerutkan keningnya Saat melihat Rendi tengah berdiri di depannya, dan melihat security dan pelayan lelaki lainya ikut masuk dengan keadaan yang sudah babak belur karena di hajar oleh rendi.
__ADS_1