
"Bibi sekarang aku di rumah Raka, maaf karena sudah membuat bibi kawatir. Setelah pulang aku akan menceritakan semuanya, jadi Shasa harap sekarang bibi tenang, Shasa baik-baik saja disini" ucapnya mencoba untuk menenangkan Rita yang sedang gelisah
" Untuk sekarang Shasa masih belum bisa pulang, bibi jangan kawatir lagi padaku. Raka di sini merawat ku dengan sangat baik," ucapanya lagi sambil melihat Raka yang telah menatapnya dari tadi
"Shasa,, bibi sangat mengkawatirkan mu takut terjadi sesuatu padamu, tapi sukur jika tidak terjadi apa-apa," ucap Rita dari balik ponselnya
***
Setelah pembicaraannya dengan Rita selesai, Shasa terdengar menghela nafasnya dengan kasar, dan kembali melihat langit-langit kamar yang sekarang di tempati nya.
Shasa mendongakkan kepalanya dan menutup matanya untuk sesaat, mencoba untuk menghilangkan segala sesuatu yang ada dalam pikirannya, berusaha untuk tidak mengeluh dan berusaha agar tidak merasakan rasa perih yang terdapat dari luka goresan yang ada pada tubuhnya
Raka yang melihatnya kembali memegang tangannya, yang membuat Shasa sadar akan kehadiran Raka yang ada di sampingnya
"Ada apa? Apa kamu merasa tidak nyaman? Apa luka-luka itu terasa sakit?" Tanya Raka dengan penasaran dan dengan nada yang lemah lembut
Shasa hanya menggelengkan kepalanya dan tersenyum manis padanya.
"Shasa jika kamu memiliki hal yang mengganggu pikiran mu, kamu bisa menceritakannya padaku, aku akan janji akan mebantu mu untuk mengatasinya." Jelas Raka sambil menatap dalam pada mata Shasa yang menyimpan begitu banyak hal yang coba iya pendam sendiri.
"Tidak ada apa-apa" ucapnya sambil tersenyum dan melihat tangannya yang terdapat beberapa luka goresan, dan meniup-niupnya agar rasa perihnya itu bisa hilang
"Shasa apa aku boleh bertanya?" Tanya Raka yang menyimpang begitu banyak pertanyaan dalam pikirannya
Shasa menganguk lagi sambil terus meniup-niup lukanya itu
Tampa basah basi, setelah melihat anggukan dari Shasa, Raka mempertanyakan semuanya kepada Shasa
"Apa yang sebenarnya terjadi padamu? Bagaimana kamu mendapatkan luka ini? Apa ada orang yang mencoba untuk menyakitimu? Siapa dia? Katakan padaku! Aku janji akan membuatnya untuk membayar dengan apa yang telah dia lakukan padamu." Pertanyaan yang begitu banyak di lontarkannya membuat Shasa melihatnya Tampa berkedip
"Shasa jangan menyembunyikan apa pun dariku, aku siap mendengar curhatan darimu, dan aku siap untuk membantumu untuk mengatasi setiap masalahmu." Raka kini sudah mengeluarkan semua unek-unek yang di pendamnya dari tadi.
__ADS_1
"Shasa jangan memendam sendiri kesedihan yang kamu tengah hadapi, sekarang ada aku! Kamu bisa membaginya denganku, aku tidak ingin melihatmu menderita, dan aku tidak ingin melihatmu merasakan kesedihan mu sendiri. Kamu bisa berbagi suka dan dukamu denganku" tutur Raka dengan panjang lebar membuat Shasa hanya terdiam untuk mendengarnya
Raka memegang tangan Shasa dan mengangkatnya meletakkannya di dadanya bidangnya
"Shasa perasaanku ini tulus padamu, cobalah untuk memberiku kesempatan agar bisa membuatmu bahagia, melihatmu tak sadarkan diri di hadapanku itu membuatku hampir gila. Aku tidak ingin itu terjadi lagi, aku janji akan menjagamu, jadi aku harap kamu memberiku izin itu agar bisa menjagamu..
"Sudah jangan di lanjutkan lagi" tutur Shasa sambil menutup mulut raka dengan tangannya.
Shasa menatap mata Raka yang tengah menatapnya, dan benar ada ketulusan di dalam sana hingga membuat hati Shasa mulai tersentuh.
Dia tersenyum
"Apa kamu yakin akan mencintaiku apa adanya?" Tanya Shasa sambil memalingkan pandangannya, mencoba menahan air mata yang kini terbendung di kelopak matanya.
"Aku tidak peduli dengan statusmu atau dengan siapa dirimu, aku sama sekali tidak peduli tentang semua yang kamu anggap sebagai noda dalam hidupmu, hingga merasa dirimu tidak pantas untuk di cintai.
"Shasa aku tulus padamu, aku mencintaimu jadi aku harap kamu mau memberiku kesempatan itu," tutur Raka lagi mencoba untuk meyakinkan shasa
" Makanya dari itu katakan semuanya, agar aku bisa mengetahui nya dan agar aku bisa mencoba untuk menerimah semuanya." Tutur Raka sambil memegang wajah Shasa dan memalingkannya, membuatnya melihatnya, dan menghapus air mata yang kini sudah mengalir deras.
Shasa terdiam dan tidak berkata apapun, dia seakan terhanyut oleh kata-kata dan perlakuan Raka padanya, tatapan yang begitu tulus padanya, membuat Shasa tidak bisa mengelak dan berpaling darinya,
gadis yang dahulunya begitu riang dan ceria dan aktif dari segala hal. Kini seperti wanita dewasa yang terlihat anggun dan pendiam.
Melihat Shasa yang hanya terdiam dan menatapnya Raka mengambil kesempatan itu, mencoba untuk mencium bibir Shasa yang kini ada di hadapannya, Raka menatap Shasa yang mulai memejamkan matanya. Dan mulai mendekatkan bibirnya ke bibir Shasa
Tapi semua itu gagal karena dengan tiba-tiba, suara ketukan pintu kamar dari luar terdengar
Tok.. tok.. tok..
Shasa kaget dan langsung membuka matanya, dan mendapati wajah Raka yang sudah begitu dekat darinya.
__ADS_1
Shasa mengelak dan mendorong Raka dengan kedua tangannya sambil meringis kesakitan saat luka yang ada di kakinya tidak sengaja Raka tekan.
"Aaaaohkk..! Shasa meringis
"Ada apa?" Tanya Raka dengan cepat, dan melihat bagian dari kaki Shasa yang terasa sakit.
"Maaf aku tidak sengaja ucapnya sambil meniup luka itu dengan harapan bisa sembuh secepat mungkin.
Kleek...
Suara pintu terbuka dari luar, Tampa menunggu izin dari Raka yang ada di dalam kamar.
Raka yang merasa terganggu dari mereka yang tengah masuk, menoleh dan menatap sinis padanya
"Tuan Raka kamu selalu mengundangku jika hanya membutuhkanku, apa tidak bisa sesekali mengundangku untuk bersantai" ucap dokter Reza yang tengah berjalan masuk dan menghampiri Raka yang tengah duduk di tepi tempat tidur, dimana Shasa tengah bersandar di hadapannya, dan di ikuti oleh Surti yang berjalan di belakangnya
"Dokter" sapa Shasa sambil menundukkan kepalanya pada dokter Reza
"Nona Shasa apa yang terjadi padamu?" Tanya dokter Reza membulatkan matanya saat melihat beberapa luka goresan yang terdapat di bagian tubuhnya.
Shasa hanya terdiam dan tidak menjawab pertanyaan dari dokter Reza, matanya berkaca-kaca, mengingat dirinya saat di culik dan saat di sekap dan dikurung di dalam ruangan yang gelap.
"Nona Shasa kamu..
Ucapan dokter Reza terhenti saat Raka memegang tangannya dan menggelengkan kepalanya, di saat dokter Reza melihatnya.
"Obati saja lukanya, kamu jangan banyak bertanya" ucap Raka dengan nada dinginnya di saat Melihat shasa yang merasa tidak nyaman dengan pertanyaan oleh dokter Reza.
"Baiklah" tutur dokter Reza menurut, dan mengerti akan maksud Raka yang sudah menghentikan ucapannya sambil membuka koper peralatan medis yang sengaja dia bawa
"Nona,, mungkin ini akan terasa perih, jadi aku harap Anda bisa menahannya, ini hanya bersifat sementara, setelah itu akan sembuh" tutur dokter Reza yang mencoba untuk membuat Shasa akan siap dengan keadaannya.
__ADS_1