
"Disini yang paling tahu akan sifat Santoso adalah aku, setelah dia sudah merencanakan sesuatu dia tidak akan bisa, untuk mengubah keputusannya lagi. jika memang dia berniat untuk memenjarakan kita, maka itu tidak akan membuat dia memberi kita kesempatan untuk bisa membela diri" jelas Dara
"Jalan satu-satunya agar bisa lepas dari Santoso adalah melarikan diri dari sini.
"Tapi ma,, itu tidak akan pernah mungkin terjadi, jika kita berhasil lolos dari sini, maka kita akan jadi buronan polisi. Dila tidak ingin itu terjadi, Dila tidak ingin hidup tidak tenang, cuma karena harus mengikuti kata-kata mama"
"Dila,, kamu sudah berani melawan mama? Bukannya selama ini kamu juga menikmati apa yang mama dapat dari apa yang setiap mama katakan?"
"Sudah jangan berdebat, sekarang kita dalam situasi yang sulit" jelas Erik
Tok.. tok.. tok..
Pak polisi kembali mengetuk kaca jendela mobil Dara
"Nyonya Dara,, ini permintaan yang terakhir cepat buka pintu mobil anda, Sebelum kami bertindak kasar
"Dara,, sebaiknya kita ikuti kata mereka, ada baiknya kita keluar dari sini" tutur Erik dan Dila pun mengangguk setuju mendengar apa yang di katakan oleh papanya.
"Benar ma.." balas Dila
"Jika kamu tidak ingin menyerahkan diri, biar aku dan Dila yang akan melakukannya, terserah darimu ingin kabur ataupun pergi dari sini" lagi-lagi Dila menganggukkan kepalanya Mendengar perkataan dari papanya
Erik membuka pintu mobil dari dalam dan di ikuti oleh Dila, dan keluar. Namun Dara masih tetap bersih keras untuk tidak beranjak dari tempat iya duduk.
Dila berjalan mendekat pada Erik dengan raut wajah yang terlihat takut.
Santoso Tersenyum saat melihat mereka berdua tengah berdiri di hadapannya.
"Tuan Santoso,, sekarang kami menyerah, dan mengaku salah dengan apa yang kami sudah lakukan selama ini. Tolong beri kami keringanan atas kesalahan kami" pinta Erik pada Santoso yang sudah menatap tajam padanya dari tadi
"Kamu,, sepertinya aku pernah melihatmu Sebelumnya" tutur Santoso dan mencoba untuk mengingat kapan dan dimana dia pernah melihat Erik
"Benar tuan,, kami pernah bertemu sebelumnya di hotel amparo bersama dengan nyonya Ratna" jelas Erik yang mengingatkan Santoso akan kejadian di hotel waktu itu
"Kamu..." Santoso menunjuk Erik, dan berhenti dari ucapanya
__ADS_1
"Benar tuan,, kejadian waktu itu adalah siasat dariku dan Dara, itu semua rencana dari kami untuk memisahkan anda dengan nyonya Ratna" pengakuan dari Erik membuat wajah Santoso seketika memerah karena marah, dan Santoso memukul Erik di bagian perut dan wajahnya dengan keras hingga membuat Erik jatuh ke tanah
"Papa..." Teriak Dila saat melihat Erik terjatuh ke tanah dan meringis kesakitan
"Jadi,, selama ini kalian sudah membodohi ku?" Santoso membungkuk dan menarik kerah kemeja Erik dan menariknya untuk berdiri, dan kembali memukuli wajah Erik hingga membuat luka di mulutnya dan sampai mengeluarkan darah
"Papa..." Lagi-lagi Dila hanya bisa berteriak melihat Erik yang di pukuli. Dan dengan cepat iya menghampiri papanya yang sudah kembali tergeletak di tanah
"Pa,, kamu tidak apa-apa?" Tanya Dila sambil membantu papanya untuk bangun dan mengusap darah di mulutnya
Perasaan marah dan rasa menyesal pada hati Santoso kini muncul di dalam hatinya, dia melihat ke arah mobil di mana di dalam sana Dara masih bersikeras untuk tidak keluar.
"Cepat.. seret wanita itu keluar" perintah Santoso
"Lakukan apapun, aku tidak ingin tahu itu. Yang ku mau wanita itu harus keluar dan berlutut di hadapanku" perintah Santoso lagi pada ke tiga polisi itu
"Baik Tuan.." jawab mereka serentak
Sebelum para polisi itu melakukan sesuatu, Dara keluar sendiri dari dalam mobil dia berdiri dan melihat Santoso yang sudah menatapnya dengan tatapan yang seakan ingin mencekiknya sampai mati.
Dara berjalan ke arah di mana Santoso tengah berdiri dan dengan rasa percaya diri Dara mendekat
"Aaaaohk... Mas,," mendengar panggilan itu lagi, Santoso kembali melayangkan tamparan untuk ke pipih yang sebelahnya lagi.
"Aaaaohk..." Dara jatuh ke tanah. karena rasa sakit Dara menyentuh kedua pipinya yang memerah akibat tamparan keras dari Santoso
"Ma..." Teriak Dila, Dila melepaskan tangannya untuk Memegang Erik dan dengan cepat menghampiri Dara yang masih duduk di tanah, dan membantunya untuk berdiri
"Dasar wanita tak tahu malu! Kamu benar-benar sudah lupa dari mana kamu berasal, hidup mewah bersamaku, ternyata membuatkanmu melupakan status dirimu" ucap Santoso dengan marah
Dara berdiri dan di bantu oleh Dila, sambil memegang kedua pipinya yang sudah memerah akibat tamparan itu, Dara Tersenyum seperti orang gila, tatapan matanya seakan meledek pada Santoso yang sudah menatap marah padanya
"Selama ini kamu sudah menipuku, aku mengusir Ratna dari rumah karena jebakan darimu, kamu benar-benar keterlaluan.." bentak Santoso
Lagi-lagi dara Tersenyum
__ADS_1
"Heemmm... " Karena senyumnya itu, membuat Santoso tambah marah dan melangkahkan kakinya mendekat pada Dara dan kembali untuk menamparnya untuk yang ketiga kalinya.
Wajah yang terkena tamparan keras dari Santoso, langsung berpaling dan mengeluarkan darah
"Dasar wanita gila.." ucap Santoso
Dara mengusap darah di mulutnya dan kembali tersenyum
"Benar,, aku wanita gila. Kenapa? Apa sekarang kamu baru menyesal? Tapi itu sudah terlambat, ini sudah berjalan selama tiga belas tahun lamanya" jelas Dara
"Bukannya kamu begitu mencintai wanita gila ini? Karenaku, kamu mengusir istri yang sudah begitu setia padamu, tahu tidak Bagaimana perasaan aku waktu itu?" Dara kembali tersenyum
"Tuan Santoso,, kamu memang lelaki bodoh, Lelaki yang sangat bodoh yang pernah aku temui. Ha-ha-ha" Dara tertawa lepas
Erik dan Dila saling bertatap mata saat melihat Dara yang benar-benar seperti orang gila
"Wanita gila kamu ya,,!" Santoso kembali untuk melayangkan tamparan, namun dengan cepat Erik dan Dila menahannya dan memohon padanya
"Tuan,, tolong jangan menamparnya lagi" pinta Erik sambil menahan tangan Santoso.
Dila menganggukkan kepalanya, membenarkan perkataan dari papanya
"Benar tuan, tolong jangan menamparnya lagi, kami sudah mengaku salah dan kami siap untuk di hukum atas kesalahan kami" jelas Dila
"Baik,, kita lihat seberapa besar hukuman yang akan kalian terima. Aku pastikan kalian akan menyesal seumur hidup kalian, karena sudah bermain-main denganku selama ini." Tutur Santoso
"Cepat bawa mereka, aku tidak ingin melihat tampang mereka lagi," perintah dari santoso
"Baik tuan" jawab para polisi itu
Erik dan Dila dibawa ke mobil yang berbeda dengan Dara, mereka berdua dibawah oleh polisi yang berbeda.
"Ma,," panggil Dila saat melihat mamanya di paksa masuk ke dalam mobil.
Erik memegang tangan Dila dan menggelengkan kepalanya saat Dila melihat dirinya. Dan masuk ke dalam mobil polisi yang sudah menyuruhnya untuk masuk.
__ADS_1
"Beri mereka hukuman Sebelum masuk kedalam kantor polisi," perintah Santoso pada Veri yang dari tadi hanya berdiri di belakangnya Tanpa mengatakan apa-apa
"Baik tuan " jawab Veri dengan patuh