
Malam ini, Mayang ada pengajian ibu-ibu di rumah sebelah, yang baru dihuni sekitar seminggu yang lalu. Pasangan pengantin baru juga. Sementara Gian di rumah bersama Hadyan mengobrol panjang lebar sambil menunggu Mayang pulang. Kopi, keripik pisang, ubi kukus, dan juga bolu, menemani obrolan mereka. Ngalor ngidul dari soal pekerjaan sampai masalah keamanan lingkungan. Gian kembali menjadi jinak sejak Mayang yang jadi gawangnya. Padahal sebelum nikah, Gian paling galak dan suka ceplas-ceplos, Hadyan kehilangan, tetapi kini semua telah kembali.
"Mayang masih lama, nggak, Yan?" Hadyan menyesal kopi yang tersisa sedikit saja, lalu mencomot bolu pisang yang begitu lembut. "Ini buatan Mayang sendiri?"
Gian juga baru saja meminum kopinya, kali ini Gian merokok lagi. Masih susah dia menghentikan kegiatan itu, apalagi temannya selalu merokok tiap kali mereka berkumpul.
"Paling sebentar lagi, Pak ...," kata Gian seraya melirik jam. "Bapak kangen sama dia?" Pria itu menghisap lagi rokoknya.
"Bapak pengen Mayang ngurus resto Bapak, Yan ... Bapak udah lelah." Hadyan mengibaskan tangannya agar asap rokok Gian tidak mengerubutinya. "Kapan sih, kamu berhenti rokok, Yan?"
Gian hanya tersenyum sekilas. "Sekarang Bapak urus resto Bapak dulu sendirian, misi ku belum selesai, Pak ...."
"Misi apa itu?" Hadyan penasaran.
"Buatin Bapak cucu sama resepsi, biar pada tahu kalau Mayang udah jadi milikku dan nggak ada mantan yang datang mengganggu." Gian menyudu batang rokoknya pada sebuah asbak kaca yang tersedia. Hadyan mengawasi semua gerakan Gian tanpa jeda.
"Memangnya belum ngapa-ngapain? Masak belum, sih, Yan?" Hadyan mengerutkan keningnya karena heran. Gian pasti tidak tahan untuk urusan satu itu. Hadyan paling tahu betapa anaknya ini sangat suka kegiatan yang satu itu. Dan setelah puasa begitu lama, apa iya, dia bisa nahan diri begitu lama. Dua minggu itu lama loh, bagi Gian. Pikirnya hanya bertahan beberapa jam saja.
Gian berdecak, seolah Hadyan tidak paham apa yang dibicarakannya. "Kalau Mayang hamil sebelum resepsi, aku khawatir bikin dia lelah dan tertekan, Pak ... aku hanya belum jadiin aja, kalau proses mah jalan terus."
"Oh, kirain belum. Kaya ngga sesuai gitu sama pas ngebet nikah, kaya udah mau meledak, masa endingnya nggak sesuai harapan."
"Jangan remehkan Gian, Pak." Gian menghabiskan rokoknya, lalu bangkit dengan asbak di tangannya. "Hanya emang belum ditembakkan tepat sasaran. Kita pengen pacaran dulu."
Hadyan mencibir. Tapi setuju saja dengan apa yang Gian putuskan. Biar mereka punya anak sesuai waktu yang mereka rencanakan. Gian tentu sudah memikirkan bagaimana yang terbaik buat mereka berdua.
"Kamu cuci piring juga?" Sesaat kemudian Hadyan sadar kalau Gian sedang mencuci sesuatu di wastafel.
Gian menatap bapaknya sambil tertawa. "Aku takut diomeli Mayang karena masih merokok. Habis ini aku juga mandi, Pak ... keramas pake air kembang, biar Mayang nggak nyium bau rokok di badanku."
Hadyan membalas tawa Gian, "suami takut istri." cemooh Hadyan.
__ADS_1
"Kapan kalau gitu, Mayang boleh ngurus Arumdalu?" Obrolan kembali ke topik utama tujuan Hadyan datang kemari.
"Nantilah, Pak ... jangan sekarang. Lagian Bapak punya orang yang bisa dipercaya di sana. Bapak aja deh, yang urus Arumndalu." Gian bersiap mandi dan keramas, dia benar-benar takut kalau Mayang sampai kesal padanya.
"Kamu ini dulu pas mau nikah sama Mayang janjinya apa? Kok sudah lupa?" Gian memang berjanji kalau akan membiarkan Mayang melanjutkan usaha Hadyan, asal dibantu saat pendekatan sama Mayang. Tapi kini apa? Gian seolah lupa.
"Bukan gitu, Pak ... kan tadi alasannya udah jelas. Biar Mayang punya anak dulu, baru fokus kerja lagi." Gian berdecak jengah.
"Sampai punya anak berapa?" Hadyan tak mau terkecoh dengan ucapan Gian yang bisa saja akan menjerumuskannya pada sebuah kenyataan penuh jebakan.
Gian tertawa menyeringai, akal bulusnya ketahuan. "Sampai Mayang lelah, Pak ... biar nggak kesepian kaya aku." Gian beneran berlalu dari ruang makan yang berada di lantai dua. Dia harus bergegas.
"Pak ... semprot pake Stella, biar nggak bau rokok mejanya." Teriak Gian dari atas, mungkin sudah hampir masuk kamar.
Hadyan berdecak. "Dasar anak nakal!" Toh, dia melakukan juga apa yang diminta Gian. Sembari menyemprotkan cairan pewangi ruangan itu, Hadyan berpikir, betapa Gian kesepian karena dia tak punya saudara lain. Ibunya Gian harus berjuang melawan maut saat hamil dan melahirkan Gian, lalu mengasuh Gian sampai berusia lima belas tahun, sebelum menyerah pada kehidupan. Bukan Hadyan tidak ingin punya anak lagi, tapi ia terlalu takut menyakiti istrinya berlebihan.
"Yah, Bapak pulang dulu," pamit Hadyan yang sudah pasti Gian tidak mendengarnya.
Gian buru-buru keluar, takut Mayang keburu pulang. Namun, tepat ketika Gian turun ke meja makan, Mayang sedang meletakkan bingkisan dari pengajian.
"Kamu nggak abis mendua, kan?" tanya Mayang penuh selidik. Tentu dia hanya mengetuai Gian.
Gian langsung mengecup bibir Mayang. "Ucapan adalah doa, jadi hati-hati kalau ngomong. Jaga bibirnya, agar hanya doa yang baik saja yang keluar dari sini."
Mayang memeluk Gian dan merebahkan kepalanya di dasa Gian. "Iya, Pak Dokter Cintaku." Ia menggoyangkan tubuhnya sampai Gian ikutan bergerak ke kiri dan kanan.
"Mas ... kok Mas Gian nggak beliin aku rumah? Kok malah ditinggal di rumahku?"
"Rumahmu masih baru, dekat sama Bapak juga. Sayang kalau ditingglkan." Gian menjelaskan. Bukan dia tak mau membeli rumah, tapi sungguh rumah ini sangat bagus dan nyaman.
"Kamu mau aku beli berapa rumah kamu ini, biar berasa kalau ini rumah aku yang beli buat kamu?"
__ADS_1
Mayang menaikkan kepalanya, menatap Gian seolah bertanya, benarkah semua itu tidak apa-apa? Andai Mayang minta ganti rugi buat beli rumah ini? Sebenarnya, Mayang ada rencana soal ini. Hanya Mayang agak malu kalau minta terus terang.
"Aku transfer sekarang, tinggal sebutkan saja. Ku pikir tiga ratusan juta lah." Gian serius dengan segera berjalan ke meja makan, dimana ponselnya berada.
"Mas transfer ke rekening yang aku sebutkan, ya ... jumlahnya seikhlasnya Mas saja." Mayang tersipu malu-malu.
"Kok gitu?" Gian mengerutkan kening. "Sebutkan dong."
"Seharga dua ruko di sebelah ruko milik Lea," ungkap Mayang akhirnya.
Gian tersenyum, "lima lah, biar sekalian investasi." Jemari Gian bergerak lincah setelah berkata. "Aku kenal pemilik ruko itu." katanya santai, lalu menggoyangkan ponsel yang menyala di hadapan Mayang.
"Transaksi berhasil, lima ruko done, jadi milik kamu."
Gian berkata dengan sumringah, tak ada beban atau mimik tak ikhlas. Mayang membeliak tak percaya sampai menutup mulutnya.
"Mas Gian mau aku yang mulai duluan? Atau Mas Gian di bawah aja ... biar Mai servis penuh."
Jemari Mayang mulai menanggalkan kancing dress panjangnya. Ekspresi itu benar-benar ekspersi penuh ketulusan dan kepatuhan. Gian suka dan merespons.
"Jadi masalah kamu hanya ini, sampai minta break?" Gian mulai menggodanya.
"Aku tadi sangat kacau, Mas ... aku tidak bisa berpikir. Tapi sekarang, karena bantuanmu, aku bisa berpikir jernih. Lebih jernih lagi setelah ini."
Hah! Kamar terlalu mainstream.
*
*
*
__ADS_1
*
*