
Mardian bukan tidak punya orang untuk dipanggil ketika membutuhkan bantuan, tetapi mungkin akan sangat terlambat untuk menangani Anggi yang ternyata benar tengah hamil dua belas minggu lewat beberapa hari.
Apa Mardian tidak memikirkan apa hanya dengan dia saja Anggi berhubungan? Mardian memang tahu Anggi mengencani banyak pria, tetapi hanya Mardian saja yang paling banyak bersama Anggi. Oleh karenanya, ia sudah menyiapkan langkah untuk tes DNA saat usia kandungan Anggi aman untuk melakukan tes tersebut.
Saat ini dia sedang diomeli oleh Ella. Tentang penggunaan korset terlalu ketat yang menekan perut Anggi dan itu hampir saja membuat janin Anggi tak selamat. Di tangan dokter dan staf medis yang cekatan dan sigap, Anggi tertolong. Tetapi siapa sangka kalau biang selamatnya bayi Anggi juga tetap ada campur tangan Gian. Ella yang kebagian datang saat malam hari bersama anggota shift siang ini sengaja menelpon Gian, tanpa memberitahu siapa yang akan diselamatkan. Ella berpikir, jika bayi Anggi selamat, Gian dan Mayang akan aman pernikahannya.
Selain itu, Mardian juga tengah mempersiapkan pernikahan siri, yang sempat Ella curi dengar tadi. Bagus sekali kalau ini juga didukung dengan hadirnya bayi mereka. Biar saja. Anggi juga sangat arogan, Ella secara pribadi tidak suka. Gian terlalu baik untuk wanita laknat macam Anggi.
Selepas magrib, Mardian mengucapkan kalimat ijab kabul di atas tubuh Anggi yang masih belum sadar. Terpaksa Mardian melakukan pernikahan siri dengan keadaan Anggi yang belum sadar, agar tidak terjadi keributan karena penolakan Anggi.
Keributan malah terjadi di resepsi ke dua Gian dan Mayang. Teman-teman Gian yang berasal dari kota besar begitu heboh menanggapi pernikahan kedua Gian ini.
"Bucin makin kronis, euy!" seru sahabat Gian yang tinggal di Jakarta. Dia paling semangat melihat Gian yang sudah move on dari Anggi. Pria bernama Gibran itu memeluk Gian erat-erat.
"Sehat-sehat ya, juniorlu. Bini cakep, bohay kek gini, tipe lu banget, Bro! Gua tau lu nggak bakal tidur—"
Tangan Gian sigap membekap mulut Gibran yang bocornya naudzubillah saat bersamanya. "Jangan rusak reputasiku di depan teman-teman istriku, dong!"
__ADS_1
Gibran meronta kesenangan, setelah lepas, ia kembali berujar. "Pokoknya bahagia terus di pernikahan lo kali ini. Langgeng sampe aki nini, hingha maut memisahkan. Aamiin. Oh, ya ... makasih juga buat fasilitas selama di sini. Gua jadi ngerasa kek kondangan di tanggung pemerintah kalau kek gini."
Gibran tergelak kala Gian meninju lengan pria itu. Mereka berpelukan sekali lagi sebelum melepas Gibran membaur bersama rekan Gian yang lain. Ada Ella dan anak buah Gian yang malu-malu ketika berfoto bersama, dan wajah mereka yang seperti menahan-nahan sesuatu saat ingin mencandai Gian yang kembali berekspresi tegas. Di sini atau di klinik, tidak ada bedanya.
"Ih, Pak Gian nggak asik, ih! Masa nggak senyum sama sekali sama kita!" gerutu salah seorang karyawan Gian saat menuruni tangga panggung.
Mayang yang mendengar itu langsung menyikut Gian, yang hanya menyahut, "Biarin!"
"Mas emang keterlaluan, ih!" Mayang merengut, tetapi dibiarkan saja oleh Gian. Toh, itu nggak melanggar undang-undang.
Gian merasa tergelitik akan ucapan Mayang. "Bukan gitu maksudnya, Sayang. Bukan aku nggak menghargai mereka, tapi aku nggak mau diledeki sama mereka terus nanti. Lagian aku biasa kaya gini di klinik. Dan gimana ya, aku biasa mendapatkan fasilitas kaya begitu pas dateng ke nikahan temenku di luar kota. Jadi ini hanya semacam timbal balik aja."
"Nggak mau taulah, pokoknya nanti kudu baik sama anak buah Mas. Mereka pasti paham situasi lah, Mas. Mau mereka hanya ingin Mas ramah aja, bukan diajak bercanda." Mayang merengut. Entah mengapa dia kesal dengan sikap Gian yang keterlaluan itu.
"Iya deh, iya. Nanti Mas bakal minta maaf dan samperi mereka satu-satu." Gian akhirnya mengalah. Maksud Mayang juga baik sebenarnya dan kata Mayang itu benar. Mereka yang membantu Gian mengurus klinik, seharusnya mereka juga mendapatkan keistimewaan juga.
Ketegangan mereka tersela oleh kedatangan Rully yang langsung mengomeli Mayang tanpa peduli suasana hati adiknya. "Tamu kamu kaya semut, sih, May ... nggak ada putus-putusnya. Sampe mau ngomong aja susah."
__ADS_1
"Ngomong apa?" tanya Mayang heran. Rully tampak kesal dan menggerutu.
Rully menarik Mayang lebih mendekat padanya, lalu berkata dalam nada rendah. "Si botak nggak dateng, ya?" tanya Rully tanpa basa-basi, padahal dia tadi sudah bingung mau bertanya seperti apa pada Mayang. Tapi, bodo amatlah bagaimana Mayang akan menertawakannya nanti. Rully sudah tak peduli lagi.
"Oh, Pak Djarot lagi ada urusan mendesak dengan kliennya. Aku lupa kasih tau ke Mbak tadi." Tanpa di duga Rully, Mayang biasa saja menanggapi pertanyaannya. Memangnya harus bagaimana? Kan Mayang tidak tahu apa yang terjadi diantara kamu sama Djarot, Rul!
"Apa pengacara kalau malem masih nemuin klien? Klien apa? Jam sembilan lewat loh, ini! Pasti klien plus-plus tuh!" Rully mendumel sambil turun. Entah mengapa dia kesal sekali atas absennya pria botak itu di resepsi adiknya.
Padahal Djarot saat ini sedang mengurus berkas perceraian Riska. Namun bibir pria itu terus melukis senyum kepuasan, membayangkan Rully yang pasti blingsatan menantikan kedatangannya. Rentetan pesan whatsapp Rully hanya mengambang di panel notifikasi ponsel Djarot, tanpa ada niat untuk membalasnya.
*
*
*
Maaf, baru update. Lagi kena belek parahðŸ¤
__ADS_1