Balas Dendam Istri Gendut

Balas Dendam Istri Gendut
Ingin Jujur


__ADS_3

Dalam mimpinya, Rully berkejaran dengan Djarot yang membuat Rully terbangun dengan perasaan tak nyaman.


"Mungkin karena aku kepikiran dia kali, ya?" Rully mengusap wajahnya yang berkeringat. Dadanya naik turun ketika merasa mimpi itu terasa nyata. Djarot meninggal di teras rumahnya.


Bergegas Rully turun dan keluar kamar. Pikirannya benar-benar terusik oleh mimpi itu. Kalaupun Rully tidak suka, seharusnya Rully katakan saja. Bukan meninggalkan Djarot begitu saja.


"Lah, ini dia orangnya." Mayang dan Rully berpapasan di pintu depan. Tangan Mayang dipenuhi oleh kantung plastik dengan jajanan pasar terbungkus daun pisang. Dari baunya, Rully mengira itu adalah cenil, lopis, klepon, dan getuk.


Tatapan Mayang memindai penuh wajah kakaknya yang tampak ketakutan. "Ada apa, Mbak? Sakit?"


Mayang tak pernah menaruh perasaan lain selain sayang pada kakaknya ini. Baginya, salah paham dan bertengkar biasa dalam hubungan saudara. Malah itu akan mempererat kasih sayang di antara mereka.


Sekarangpun demikian, Mayang dengan khawatir mengusap kening kakaknya yang penuh keringat. "Dingin gini, Mbak. Ke dokter, yuk!"


Rully membuang napas kasar. "Aku nggak apa-apa ... kamu jangan mikir yang tidak-tidak. Aku—aku hanya ...."

__ADS_1


"Kenapa?" Mayang mengejar.


Hembusan napas Rully kembali terdengar. "Nanti aku ceritakan, sekarang Mbak pinjam motor kamu. Mbak mau ambil sesuatu di rumah."


Rully mengusap pundak adiknya, mencoba meyakinkan Mayang. "Jangan pikiran Mbak, fokus saja sama bayi di perut kamu, May—selamat jadi calon ibu, ya, Mai. Mbak ikut senang."


Rully tersenyum lalu memeluk adiknya dengan tulus. Rully berusaha mengabaikan perasaannya sendiri. Dia harus move on. Gian dan Mayang tidak tahu soal perasaannya. Dan semua ini, tidak ada hubungannya dengan mereka.


Meski masih khawatir, Mayang melepas kakaknya pergi. Entah apa yang disembunyikan Rully darinya.


"Astaga, Rully ... pikiranmu kenapa oleng? Dia bapak-bapak tua dengan perut buncit dan kuno. Ingat Rully, kamu tidak boleh lemah karena melihat kegigihan Djarot." Tanpa sadar, Rully menggeplak sisi kepalanya yang masih terbalut helm. Ia mendesis ngeri saat ia mulai berpikir kasihan pada Djarot. Biasanya, dia akan merasa kasihan, lalu dekat dan menerima. Begitulah Rully dulu saat menentukan pasangan. Dan baru-baru ini, setelah melihat Gian, ia mulai berpikir kalau cinta bisa datang karena perasaan terpesona.


Melihat Rully yang berjalan dengan kepala menunduk dan tampak menggerutu, Djarot sadar, Rully merasa terganggu dengan kehadirannya. Dia sadar sekali dari dulu, tapi dia mengabaikan demi perasaan tak terbendung di dalam hatinya. Rully dan sikap cerianya menggugah secercah rasa di dalam hati Djarot. Yang selama ini Djarot pikir, rasa itu tak pernah akan ada di hatinya.


"Dek, dari mana?" tanya Djarot mengabaikan rasa tak nyaman karena sikap menolak secara terang-terangan dari Rully. Matanya intens memerhatikan wajah pujaan hatinya itu.

__ADS_1


Rully hanya membuang napas, tanpa membalas tatapan Djarot yang ia khawatirkan akan melemahkan tekatnya untuk mengatakan kejujuran pada pria di depannya ini. Ia menggembungkan kantong sifat galak dan ketusnya sebelum menjawab Djarot.


"Abis dari depan, cari sarapan!" Ia melemparkan tatapan sinis dan jijik pada Djarot yang hanya ditanggapi santai oleh pria itu.


"Kapan keluarnya? Kok saya nggak lihat?" Djarot menyembunyikan senyumnya. Dia tahu kalau Rully berbohong.


Ekspresi galak dan tak bersahabat keluar dari wajah Rully. Ini yang membuat Djarot rela menahan semuanya. Dia bukan petualang, tetapi Rully adalah puncak tinggi yang entah mengapa membuat Djarot tertantang untuk menaklukkan.


"Bapak tidur kali, sampai nggak lihat saya keluar dari rumah!"


Djarot tertawa geli. "Benar sekali, Dek ... saking lamanya nunggu kamu, saya sampai ketiduran dan bermimpi. Makanya nggak sadar kamu keluar."


*


*

__ADS_1


*


__ADS_2