
Semalam, Mayang tak sempat naik ke lantai tiga. Kakinya lemas, tubuhnya serasa habis dipukuli orang sekampung, sehingga ia tidur di kamar bawah dekat dengan ruang tamu.
Tok-tok-tok!
Ketukan itu kembali terulang, Mayang masih enggan membuka mata, ia ingin tidur beberapa jam lagi.
"Assalamualaikum."
"Walaikumsalam," jawab Mayang bergumam tak jelas, matanya masih terpejam, hanya telinganya yang sudah terjaga.
"Assalamualaikum."
Siapa sih, itu? Mayang akhirnya bangun, ia menyibak kasar selimut yang membungkus tubuhnya. Ini pasti masih pagi. Jika tidak, pembantu Mayang yang datang tiap pagi, pasti sudah membukakan pintu untuknya.
Pasti itu kurir, batin Mayang. Ia melangkah terseok, matanya hanya setengah terbuka, ia belum sadar sepenuhnya kala membuka pintu kayu bercat hitam di depannya.
"Saya ndak beli barang online, Pak," kata Mayang seraya menguap dan menaikkan kedua tangannya ke atas.
Pria berumur di depan Mayang melongo, ia menoleh ke arah pria lain yang berdiri di belakangnya.
"Benar ini rumah Bu Mayang?" tanya bapak-bapak yang berpenampilan necis dengan seragam kebesarannya.
"Iya, Pak ... memang ini rumah saya. Tapi saya ndak pesen apa-apa, Pak ... Bapaknya salah kali." Mayang menuduh seraya memicingkan mata. Ada yang aneh dari tukang antar paket kali ini. Alih-alih memakai helm dan jaket khas kurir, pria ini memakai kopiah dan seragam dinas. Apa ini April mop?
"Tapi saya sama Pak Hadyan di suruh ke alamat ini untuk menikahkan anaknya dengan Bu Mayang."
Kesadaran Mayang seperti dibangkitkan oleh kekuatan supranatural, mata Mayang langsung melebar. Dia ingin tertawa mendengar ucapan bapak ini, tapi justru yang keluar adalah perasaan aneh yang tak nyaman. Ini tak ada hubungannya dengan keadaan badannya yang sungguh letih, ini perasaan konyol yang melintas begitu saja.
Candaan macam apa lagilah, Gian ini?
__ADS_1
"Mas, tolong periksa lagi alamatnya, biar saya hubungi Pak Hadyan. Saya takut kalau kita beneran salah rumah. Biasanya calon ngaten itu dandan cantik, tapi ini ...?" Pria yang merupakan penghulu itu tak mampu melanjutkan kata-katanya. Sudah tak punya ungkapan yang tepat untuk menggambarkan keadaan Mayang yang berantakan.
Mayang memandang dirinya sendiri setelah membeliak beberapa saat pada bapak-bapak itu. Astaga, Mayang memang memakai piama yang kedodoran karena itu piamanya saat masih gendut dulu, belum lagi rambut dan wajahnya yang memang berantakan.
"Bapak pasti salah rumah, rumah Pak Hadyan yang sebelah sana, yang pager rumahnya di cat keemasan itu, Pak." Mayang akhirnya menujukkan rumah Hadyan, untuk menyudahi kemelut paginya.
Bapak-bapak itu mengangguk meski rasa heran belum meninggalkan wajahnya.
Mayang mundur dan bersiap masuk, tetapi tiba-tiba rombongan yang dikepalai Hadyan terlihat bergerak menuju rumahnya.
"Loh, monggo silakan masuk." Hadyan tersenyum lebar sampai ke telinga melihat pria yang berdiri di depan rumah Mayang.
"Nak, kok Pak penghulunya ndak disuruh masuk?"
Mayang terbengong beberapa saat. "Pak penghulu siapa?" beo Mayang tanpa sadar. Ingin rasanya Mayang membenturkan kepalanya ke pintu. Benarkah dia sudah bangun? Atau ini masih dalam mimpi Mayang?
"Ya, Pak penghulu yang akan nikahin kamu sama Gian."
Mayang terhuyung mundur, entah kenapa ia jadi berkunang-kunang. Bibirnya berulang-ulang bergetar, ia ingin berbicara tapi sangat sulit.
Lamat-lamat, mata Mayang melihat Gian, Pak RT, Pak RW, dan Pak Lurah berjalan ke arah teras rumah Mayang. Mereka berkumpul dan berbincang, menunggu dipersilakan masuk.
"Wali nikahnya siapa? Menurut catatan di sini, orang tua Bu Mayang sudah meninggal." Pak Lurah, yang belum begitu mengenal Mayang karena dia masih tergolong warga baru di kelurahan ini, membelah perbincangan hangat diantara mereka.
"Ada adik dari ayah Nak Mayang, Pak ... beliau masih dalam perjalanan. Teman Gian yang menjemputnya." Hadyan menjelaskan.
Mayang segera sadar, lalu merambat mendekat. Ini dia yang punya rumah, tapi kenapa dia diabaikan. Pandangan Mayang jatuh pada Gian, yang langsung di seret Mayang ke dalam rumah. Ia membawa Gian ke kamar yang baru saja ia tinggalkan dan menguncinya. Mayang benar-benar marah.
"Apa maksud Pak Gian?" tanya Mayang tanpa sungkan menghadapi Gian yang tampaknya ingin mengatakan sesuatu. Sesuatu yang pasti hanya berupa candaan, terlihat dari senyumnya yang cengengesan.
__ADS_1
"Saya mewujudkan niat baik saya, Bu Mai ... saya nggak bisa berlama-lama membiarkan Bu Mayang diincar orang. Bisa-bisa, saya kalah kalau nggak gerak cepat." Gian memaparkan. Wajahnya secepat bunglon berubah serius usai cengengesan tak jelas barusan.
"Niat baik, tetap harus pakai cara yang baik, Pak ... tidak seperti ini? Saya belum siap berumah tangga kembali, Pak. Bapak bisa ngerti ndak sih, gimana posisi saya?" Mayang mendebat sengit. Dia takut, sungguh takut bila perceraian terulang kembali dalam hidupnya.
"Saya sudah pakai cara baik-baik, Bu ... saya datang ke rumah wali Bu Mayang, mengatakan kalau saya ingin menikahi Bu Mayang dan berjanji tidak akan membuat Bu Mayang sedih atau menangis—"
"Itu hanya omong kosong, Pak ... saya ini butuh bukti, bukan omongan doang—"
"Ya, makanya kita nikah, biar saya buktikan kalau saya nggak pernah main-main sama ucapan saya, kalau saya benar-benar akan membahagiakan Bu Mayang."
Mayang sedianya ingin mendebat lagi, tetapi perkataan Gian membuatnya terdiam.
Gian memanfaatkan keadaan ini untuk merenggangkan celah yang sudah tersusupi oleh pengaruhnya. "Kita bukan anak-anak yang masih harus melakukan penjajakan lewat pacaran, Bu ... Bu Mayang hampir kepala tiga, dan saya sudah hampir tua. Saya yakin sama Bu Mayang. Saya yakin Bu Mayang adalah wanita yang menjadi jodoh terakhir saya. Mari kita saling membahagiakan, Bu ... meski Bu Mayang tak membutuhkan saya untuk bahagia, tapi bisakah Bu Mayang menjadi sumber kebahagiaan saya?"
Mayang diam-diam membenarkan sebagian ucapan Gian. Tapi sebagian lagi tidak benar. Mayang tetap ingin mempunyai pasangan, tetap ingin melihat orang bahagia karena dirinya. Tapi tidak sekarang, atau setidaknya tidak saat dia masih gamang soal hubungan.
"Bu Mayang harus bisa beralih ke perasaan yang baru, Bu ... jangan terus meratapi kisah lalu. Lihatlah saya, yang sangat siap untuk menjadi kisah baru Bu Mayang. Saya ikhlas menjadi obat trauma Bu Mayang." Gian berkata terlalu puitis, sayangnya tidak sampai di pikiran Mayang. Mayang hanya sibuk memikirkan apa tanggapan orang-orang, terutama Pakliknya, yang ketika Mayang bercerai dan dirampok, pria itulah yang paling murka. Dia adalah ganti ayah Mayang.
"Maukah Bu Mayang menjalani hidup dengan saya di sisa usia kita?" Gian berlutut. Meminta hati Mayang meski baru secuil. Gian bisa mentranplantasikan secuil itu menjadi hati yang utuh, dengan besarnya kasih sayang yang ia punya. Dengan cinta yang jelas Gian rasakan bahkan di dalam mimpi sekalipun.
Mayang bimbang. "Bagaimana kalau saya ndak mau?"
"Saya yang memaksa, Bu ... saya akan menculik Bu Mayang, tidak akan saya nikahi, tapi saya pasung dengan belenggu cinta yang saya miliki!" Gian berkata menggebu. Ya, Gian akan membelenggu Mayang, karena hanya Mayang yang ia cinta. Hanya Mayang.
*
*
*
__ADS_1
*