
"Ini kalian serius bawa aku ke dokter kandungan." Djarot memutar badan ketika dia digiring ke loket pendaftaran sebuah rumah sakit Ibu dan Anak terkemuka di kota ini. Rumah sakit dimana ketiga adik Djarot memeriksakan kehamilan.
Sejak mendengar penjelasan bapaknya, pikiran Djarot sedikit nge-lag. Semua itu tidak masuk ke logika Djarot. Jika Rully hamil, bukannya Rully juga yang harusnya mual dan muntah? Apa ada yang dia lewatkan ketika ada pelajaran reproduksi manusia di SMP?
"Iya, bawa kamu sama Rully, kan kamu calon bapaknya." Murdyo sedikit senang melihat anaknya linglung. Rasa menderita karena mengalami ngidam sungguh menyiksa.
"Tapi yang diperiksa Rully, kan?" Djarot khawatir kalau dia juga akan ikut ditanya-tanya. Sungguh dia tidak tahu apa-apa soal kehamilan aneh istrinya.
"Loh, ya jelas kamu bakal ditanya-tanya, kan kamu bapaknya. Masa iya nanya ke Roni kapan dibuatnya itu bayi." Murdyo senang sekali, sampai dia mendaftarkan Rully dengan nama istrinya, Rustina.
Sistem rumah sakit yang sudah canggih, langsung menemukan data keluarga Murdyo dengan mudah, mengingat mereka adalah langganan kelas satu di sini.
"Keperluannya apa, Pak?" tanya petugas di balik kaca loket dengan senyum ramah.
"Periksa kehamilan." Murdyo menjawab dengan entengnya, lalu seusai dicatat, mereka berdua dipersilakan menunggu panggilan.
"Udahlah, santai saja. Kamu nggak penasaran apa gimana deg-degannya jadi calon bapak?" Murdyo kasihan juga melihat anaknya tertekan.
"Aku hanya syok saja karena mual kaya perempuan, Pak. Kalau soal Rully hamil, akunya seneng." Djarot masih bermuram durja.
Murdyo mengerti, jika dia dulu mengalami ngidam ketika hamil anak ke dua, Djarot mengalaminya di kehamilan pertama. Dan memang anaknya ini sama sekali tidak peduli dengan urusan perempuan, wajar jika dia tidak mengerti soal ini.
"Nanti Dokter akan menjelaskan dengan detail. Harusnya dengan Bapak pernah mengalaminya, dan tetap baik-baik saja, kamu tidak perlu khawatir."
Djarot mengangguk, lalu segera menyusul Rully dan Rustina yang menunggu di ruang tunggu.
Dua wanita yang berbeda generasi itu duduk bersisihan, jika Rully tampak syok, Rustina heboh menelpon adik-adik Djarot soal kabar menggembirakan ini.
Rully sibuk mengingat haid terakhirnya, tatapannya bengong. Bibirnya berkomat kamit, jemarinya menghitung. Jika dia merasa telah sampai pada simpulan yang mendekati, diulanginya lagi.
"Masa udah tiga bulan lalu aku mens terakhir?" Rully bergumam, "apa aku nelpon Roni saja ya, biar lihat kalender di kamar?"
"Kok aku nggak nyadar ya?" Tangan Rully tanpa sadar meraba perut dan dibawanya pandangan menunduk. "Masa kamu uda di dalam sini selama itu, Nak?'
__ADS_1
Djarot dan Murdyo berjalan beriringan menuju ruang tunggu. Di sana dia langsung di sambut oleh beberapa orang yang mengenal Murdyo.
"Oh ini lagi mau periksa juga." Murdyo terkesan misterius ketika ada pria dan wanita seusianya bertanya. Murdyo menunjuk Rully.
"Oh, ada Jeng Rus juga." Si wanita langsung melayang ke hadapan Rustina dan mereka langsung heboh.
"Ya ampun, Mbak Diah ... apa kabar?" Rustina membiarkan panggilan masih menyala saat menyapa Diah itu. "Nganter cucu berobat atau mau ketambahan rejeki lagi?"
"Anak ketigaku melahirkan semalam, aku baru pulang umroh tadi siang. Ini baru tidur beberapa jam, tapi udah nggak tahan mau lihat." Diah berseri-seri. Mereka masih saling merangkul dan memberikan kode melalui mata.
"Ini istrinya Lingga?" Diah mencetuskan rasa penasarannya. "Pas nikah aku masih di Aceh, pas ngunduh mantu belum bisa pulang."
"Ndak apa-apa, Mbak Diah. Ini istrinya Lingga ... cantik kan?" Rustina meraih Rully lebih dekat. Jujur dia agak gugup terhadap menantunya ini. Takut-takut kalau menolak.
"Oh ...." Diah tertawa ala sosialita, cantik dan anggun. "Halo, Sayang ... kuliah dimana?"
Rully menaikkan alisnya, kemudian bola matanya memutar ke bawah seakan bisa melihat penampilannya sendiri. "Saya tidak kuliah, Bu. Kalau kuliah mungkin saya akan bergelar doktor mengingat usia saya sudah 33 tahun."
Diah melongo, Rustina cekikikan.
"Iya ... dan sekarang dia sedang—"
"Ibu Rustina Murdyo Putranto ...."
Semua orang menoleh ke arah perawat wanita yang membungkuk sopan. "Dokter Galih menunggu di ruang periksa."
Diah dan suaminya terkejut lagi, mereka saling pandang, lalu Diah menatap Rustina. Diah tahu dengan jelas Dokter Galih itu dokter apa. "Kamu hamil lagi, Rus?"
"Eh ...?!" Rustina bingung, lalu menatap suaminya. "Kok daftar pakai namaku, Pak?"
Murdyo menepuk kening, bagaimana dia bisa refleks menyebut nama Rustina, tadi? Kan yang daftar harusnya Djarot. "Gimana sih, Ngga, tadi?"
"Kok Bapak nyalahin aku?" Djarot tidak terima, "Kan tadi Bapak yang ajak aku kemari?"
__ADS_1
Perawat itu dibuat pusing, tetapi dia tetap tersenyum. Sabar ... mereka VIP, dekat sama dokternya pula sampai diistimewakan, batin perawat.
"Jadi yang mau periksa siapa, Bu? Dokter Galih menunggu."
"Eh, saya-saya, Sus." Rully segera maju, lalu mengoreksi. "Rully Vidyastika."
Rully segera mengikuti perawat itu, lalu Djarot juga mengikutinya setelah Pak Murdyo yang bermuka merah mendorong Djarot.
Kecanggungan akibat salah paham pun segera usai, Diah berkali-kali menghela napas lega. "Masa masih hamil lagi, sih, Rus? Apa dia masih kuat?"
Rustina malu, sedikit mengerling Murdyo seolah membiarkan Murdyo menjawabnya.
"Masih lah, Mbak Diah ... di kasih satu yang muda juga masih mampu." Murdyo berkelakar.
"Hus ... jangan ngawur bercandanya. Nanti dikabulkan malaikat yang lewat, loh." Diah menampik tangannya di depan Murdyo yang tertawa.
"Halah, lha wong daftarin mantunya aja salah, kok ... masih mau punya istri muda lagi. Yang ada nanti kamu lupa kalau punya istri lain, Mur." Suami Diah menimpali candaan, "sudah masuk masa pikun dan kebanyakan pikiran kaya kamu, pantesnya banyak-banyakin ingat Gusti Allah."
Murdyo hanya melebarkan senyumnya yang kini tidak diikuti suara. "Itu jelas, Mas."
"Yo wes, aku lihat cucuku dulu. Kapan-kapan main ke rumah, ada oleh-oleh sedikit dari tanah suci untuk kalian, terutama buat mantumu yang hamil ini." Suami Diah menyalami Murdyo. "Selamat ya, atas kehamilan mantumu."
"Njih, Mas ... makasih. Insya Allah nanti saya ke rumah Mas Bas." Murdyo dan Rustina mengantar kepergian dua senior mereka yang masih awet muda.
Lalu mereka duduk lagi di ruang tunggu itu, menunggu hasil pemeriksaan Rully.
Selang setengah jam, Rully dan Djarot keluar dari ruang pemeriksaan. Djarot langsung melesat ke apotik, sementara Rully mendekati mertuanya yang berdiri menyambutnya.
"Sudah tiga setengah bulan, Bu, Pak." Rully tersenyum seraya mengusap perutnya.
"Dia sehat, kan?" Rustina menahan tangan Rully dan mengamati perut mennatunya dengan khawatir.
"Sehat Buk. Nggak ada yang harus dikhawatirkan."
__ADS_1
Rustina menghembuskan napas lega. "Syukur kalau begitu. Lagian kamu ini aneh ... masa ada yang beda diperut kamu, kamu ndak merasa. Tiga bulan itu udah gede, loh ... masa ya ndak merasa ganjel dan begah. Kalau dipakai buat hubungan kan juga terasa sakit. Apalagi kalian berdua kalau hubungan, kuat sekali. Untung cucuku—"
"Buk, sudah. Kita tunggu Lingga di mobil saja." Murdyo memotong di tengah-tengah. Omelan Rustina ini sudah kejauhan, walau memang berisik dan tidak bisa tidur dengan nyenyak, tapi Murdyo selalu senang jika mereka menginap. Setidaknya dia tahu anak lelakinya bahagia.