
Mayang memang belum sadar pasca persalinan, jadi dia belum dipindahkan ke ruang perawatan. Gian baru selesai dengan segala urusan bayi saat berbincang dengan dokter mengenai operasi yang baru saja mereka lakukan.
Ketika Rully datang bersama Djarot, Gian membuang napas pelan. Kira-kira Gian tahu apa yang barusan mereka lakukan melihat betapa kusut pakaian Djarot, sehingga dia tidak bertanya atau mengeluh. Padahal dia membawa Rully kemari untuk membantunya, tapi kenapa tidak ada bedanya begini?
"Selamat jadi bapak, Gian." Rully nyengir ke arah Gian, lalu beralih ke dokter yang tadi sempat dia peluk.
"E, Pak Gian ... saya permisi kalau tidak ada lagi yang kita bahas." Dokter itu buru-buru pamit. Dia tidak mau terlibat urusan dengan wanita bar-bar yang memeluknya tiba-tiba. Ya, walau dipeluk wanita cantik adalah berkah, tapi pria dibelakang wanita itu masalahnya.
"Makasih, ya, Dok, atas kerja kerasnya membantu saya." Gian menyalami dokter itu dengan senyum tulus menghiasi bibir. "Saya tidak salah pilih ketika memutuskan datang kemari."
"Saya hanya melakukan tugas saya, Pak. Selebihnya karena memang kesigapan dan kematangan persiapan yang anda lakukan, sehingga semuanya berjalan dengan begitu baik." Dokter itu tersenyum, lalu menunduk sekilas untuk pamit pada Rully dan Djarot. Dokter itu bahkan tidak ingin mendengar Rully berkata apa-apa, kalau tidak, dia pasti kena sial lagi. Pria dibelakangnya itu mengerikan.
"Makasih, loh, Pak Dokter. Ponakan saya benar-benar manusia, Pak ... saya udah memastikan tadi." Rully menepuk lengan dokter dengan genit, membuat dokter itu mundur dengan gugup.
Astaga ....
"Dokter lucu, deh. Masa saat orang panik, beliau nya ngajak bercanda." Rully menutup mulutnya dengan gaya sok malu-malu.
"E ... sa-saya permisi, Pak Gian." Dokter itu gugup lalu mundur buru-buru. Astaga. Bertemu wanita seperti itu membuat nasibnya begitu sial. Dikata-katain pula.
"Kamu apain dokternya, Mbak ... kok sampai takut begitu?" Gian mengernyit, heran dengan sikap ketakutan si dokter.
__ADS_1
"Nggak tau." Rully dengan sok polos hanya mengendikkan bahu, lalu dengan lihainya dia mengalihkan topik. "gimana Mayang?"
Mari lupakan kejadian mengganjal barusan. Dia paham, Gian akan sejeli Djarot jika ada sikapnya yang tidak biasa.
Gian tahu ada sesuatu, tetapi dia tidak pernah mendesak Rully atau siapapun kecuali Mayang mengatakan segala sesuatunya. Tetapi tatapan mata Djarot beserta ketediamannya, juga ekspresi keras mengerikan itu membuat Gian paham satu atau dua hal.
"Mayang masih akan sadar beberapa jam lagi. Kalau kalian mau istrahat, aku sudah booking kamar hotel." Gian menatap Djarot seraya mengeluarkan ponselnya. "Sudah aku share loc, tempat nya nggak jauh dari sini."
"Tapi aku mengkhawatirkan Mayang, Gian. Tak bisakah kita tidur saja di kamar rawat Mayang saja? Nanti bayimu gimana kalau nangis?"
Gian menghela napas. "Kalau khawatirkan adikmu, kenapa tadi ngilang? Dan bayiku meski kejer juga nggak bakal bisa kamu sentuh, Mbak. Orang mereka masih di inkubator."
Rully nyengir, "tadi aku njemput Mas Djarot. Dia nyasar ke kamar jenazah."
"Ya, kami akan di sini. Kamu bisa tenang kalau Mayang ada yang jaga." Rully menambahkan dengan gembira. Jujur saja dia kikuk melihat sorot mata Gian yang seakan mengetahui apa yang akan mereka lakukan jika sudah di hotel.
Wanita itu nyengir lebar, kemudian beralih ke sisi Djarot untuk menyembunyikan wajahnya yang mendadak merah dan panas.
Gian menaikkan bahunya, "terserah kalau begitu. Tapi jangan berisik, kalau mau kalian ke kamar rawat Mayang saja. Ingat ya, jangan berulah di sana!"
Djarot mengangguk tanpa sadar, dan itu membuat Gian menahan tawa. Entah Djarot sedang tidak fokus atau bagaimana, tapi peringatannya tadi berlaku untuk Rully. Kakak istrinya itu sungguh punya seribu tenaga tambahan untuk berbuat jahil.
__ADS_1
"Oke ... aku ruang bayi sebentar." Gian masih menahan senyum sebelum beranjak ke ruangan bayi. Dia merasa luar biasa saat melihat bayinya yang begitu menakjubkan.
Tiga bayi lelakinya memiliki hidung yang tinggi, sementara yang perempuan, dia tidak yakin kalau mirip Mayang, tetapi malah mirip Rully. Wajahnya begitu kecil dan bibirnya mungil.
Apa Gian sudah cerita saat dirinya mengadzani keempat buah hatinya tadi, Gian menangis sesenggukan?
Ya, Gian menangis karena menyentuh bayinya untuk pertama kali. Ada perasaan yang aneh datang meratapi hatinya.
Gian sekarang tersenyum meski matanya tetap terasa basah. Badannya membungkuk agar bisa lebih jelas melihat ke empat bayi yang diletakkan bersebelahan.
"Kalian yang kuat, ya ... yang sabar karena kalian belum bisa pelukan sama Mama sampai beberapa waktu lagi. Kalau kalian minum susunya banyak, Papa yakin, kalian akan cepet dipeluk Mama."
Kata Dokter, masih diperlukan beberapa waktu memantau perkembangan organ vital juga menaikkan berat badan. Mungkin sebulan, kalau tidak ada kendala.
Bayi itu menggeliat, matanya yang kecil bergerak seakan berusaha menatap ayah mereka. Yang laki-laki cukup kuat, hanya yang perempuan, dia terlihat tenang dan lemas. Ya, yang perempuan beratnya paling rendah. Tapi semuanya dalam keadaan baik.
"Oke, jagoan dan princess-nya Papa, Papa lihat Mama dulu, ya ... besok pagi Papa akan antar susu buat kalian. Bye ...." Gian hanya berbisik, suaranya bergetar, lalu dia menyeka matanya.
"Jangan bilang sama Mama apa yang kalian lihat hari ini, ya?" Gian mengulurkan kelingkingnya. "Janji!"
Gian akhirnya menegakkan tubuh usai melambai kecil pada ke empat bayinya, lalu kembali ke ruangan dimana Mayang masih tertidur. Gian tidak boleh masuk, jadi dia hanya menunggu di depan ruangan itu.
__ADS_1
Dari kaca pintu, Gian bisa melihat dengan jelas Mayang yang masih memejamkan mata dengan alat bantu pernapasan terpasang.
Nanti ketika Mayang sudah sadar, Gian ingin mengatakan banyak hal. Gian ingin mengapresiasi seluruh perjuangan Mayang. Wanita itu luar biasa sekali.