Balas Dendam Istri Gendut

Balas Dendam Istri Gendut
Berhenti Insecure


__ADS_3

Gian sibuk.


Ya tentu saja. Banyak sekali yang harus dia tangani sendiri, terlepas dari dukungan seluruh pihak. Tapi sayang tidak ada yang mampu mendukung hatinya yang begitu gundah.


Dia sering melihat Mayang begitu berhati-hati dalam menjaga bentuk tubuhnya. Mayang mulai bisa makan tanpa pilih-pilih, mulai secara bertahap semakin banyak jumlahnya. Gian tidak bisa menutup mata dari sesal yang muncul di raut wajah istrinya, setiap kali dia kebanyakan makan. Atau mendatangi meja makan beberapa saat setelah makan.


"Kenapa?" Gian tidak tahan saat Mayang menutup tudung saji. Terlihat dia lapar, dia tampak ingin, tetapi langsung ditahan.


Mayang terkejut, tetapi dia tersenyum. "Aku hanya lihat sisa makanan saja, Mas ... biar nanti masak untuk makan siangnya ndak kebanyakan."


Gian tahu kalau itu adalah kebohongan. Sejak dia tinggal di sini, Mayang tidak pernah memikirkan urusan rumah. Dia hanya sibuk bekerja dan bekerja.


Pria itu menghela napas. Segera saja dia mengusap punggung istrinya, menatap perut buncit yang, yah ... luar biasa besar. Gian tak tahan untuk mengelusnya. Merasa bersalah sebab karenanya Mayang menjadi begini.


"Aku mau ke klinik, Mai ... makan siangnya beli saja. Atau makan di resto. Tinggal pilih resto yang mana. Ke warung sate Bapak? Atau kamu pengen makan di tempat lain?"


Mayang tersenyum, "Aku males kemana-mana, Mas."


"Bumil nggak boleh malas, dong ... harus rajin gerak biar bugar." Gian membawa Mayang duduk ke kursi terdekat, lalu memangkunya dengan posisi membelakangi Gian.


Kesempatan ini selalu digunakan Gian untuk merayu istrinya itu. Sejak Mayang mulai tidak keberatan dengan bau Gian, dia mulai mendekatkan diri dengan bayi-bayinya.


"Bulan depan USG lagi, ya, Mas ... rasanya mulai jumpalitan. Kaya lagi ada cacing kremi di perutku. Nendangnya bikin aku geli." Mayang menarik tangan Gian ke perutnya, mengusapkan tangan besar Gian memutar berulang-ulang.


"Iya ... tapi nggak di Klinik Mas ya." Akhirnya mereka sampai pada topik yang Gian takuti.


Mayang menoleh cemas. "Kemana? Bayinya bermasalah?"


Gian menggeleng. "Nggak gitu, Mai ... dokter Yoga ingin ketemu kamu. Beliau udah kaya bapak kedua buatku, jadi kamu adalah menantunya juga. Lagian, kapan lagi bisa ngerasain diperiksa dokter terbaik di kota sebelah."


"Yakin hanya itu?" Mayang ingin memastikan. Ini bukan harus membunuh satu dari tiga bayinya, kan?


Mayang cemas, "kalau bohongi aku, Mas aku sumpahin impoten selamanya."


Kapok nggak itu? Nggak bisa enak-enak seumur hidup.


Gian berbicara sambil tertawa mendengar kutukan Mayang. "Bisa nyumpahin suaminya begitu, kamu, Mai. Yang susah siapa kalau sampai aku impo?"

__ADS_1


"Habisnya Mas Gian ngomong kaya misterius gitu. Kan aku curiga." Mayang beranjak dan duduk di kursi lain. Seperangkat alat tempur Gian mulai menggeliat, Mayang agak kurang nyaman.


"Aku nggak bohong, Mai ... silaturahmi aja, kok." Gian melihat arlojinya, lalu ikut-ikutan berdiri. "Aku berangkat, ya ... kalau mau apa-apa, telpon saja. Banyak makan buah dan sayur kalau nggak bisa ngerem makan. Jangan takut gendut dan berpikir aku akan berpaling karena gendutmu."


Tangan Gian mengusap kepala Mayang dengan sayang. "Bahkan aku jatuh cinta sama kamu saat kamu masih gendut dan berstatus istri orang."


Senyuman Gian tertutup oleh pagutan pria itu pada bibir Mayang. Wanita ini menyenangkan, Gian suka saat menikmati lama-lama rasa bibirnya. Setiap kali mereka berpadu, Gian selalu menemukan semangat baru dalam dirinya, dan itu yang Gian suka.


"Mas ...." Mayang mengeluh dalam ciuman panas mereka.


Gian melepaskan, tetapi tidak dengan hasratnya. "Beri aku satu pelepasan yang memuaskan, Mai ...!"


"Apa?!" Setengah berseru Mayang berkata. "Tapi, Mas ... ini siang hari loh dan aku lelah naik ke atas lagi."


Dia baru saja turun, dan harus kembali ke sana? Tidak lah ....


"Kamar tamu kan ada!" Gian berdiri dan menuntun Mayang yang berdebar-debar karena ajakan itu.


Gian menoleh ke kanan dan kiri, "Mbak ... Mbak!" panggilnya pada pembantu rumah tangga Mayang.


Mayang menunduk malu seraya berjalan menuju kamar tamu sebelum dua pembantunya mengetahui apa yang akan mereka lakukan.


"Mbak, buah yang lagi nggak musim, apa?" Gian bertanya pada dua wanita yang terlihat bingung menjawab.


"Mangga mungkin, Pak." Kedua orang itu saling pandang.


"Duren kayaknya juga ndak musim, Pak."


Gian mengangguk, "Ibuk lagi pengen buah yang nggak musim, jadi tolong bantu saya nyari, ya! Nanti saya kasih bonus kalau dapet."


Dua orang itu berbinar-binar dengar kata bonus. "Njih, Pak ... siap laksanakan!"


Gian mengeluarkan uang dari dompetnya. "Beli secukupnya aja!"


Dua wanita itu mengangguk. "Boleh pinjam sopir sama mobilnya, Pak?"


Pembantu Gian yang satu menyikut yang barusan berbicara. Ada rasa sungkan sebab kelihatan sekali kalau mereka berdua sedang cari kesempatan.

__ADS_1


"Pakai saja. Asal buahnya dapet." Gian tersenyum riang, lalu berbalik dan berjalan sangat cepat setengah berlari, membuat dua pembantu itu saling tatap kembali.


"Pak Gian kaya mau ambil lotre, ya, Tin."


"Iya ... Kaya anak kecil mau diajak ke taimjon."


Mereka berdua menggelengkan kepala.


"Bukan, tapi kaya suami yang mau dikasih jatah sama istrinya."


Perkataan itu membuat mereka senyum-senyum sendiri. Tapi kemudian, yang ada dalam pikiran mereka hanyalah pergi dalam waktu yang lama. Terserah majikan mereka mau melakukan apa, mau ngebor sumur, mau main layangan, asal rumah dalam keadaan sepi tanpa gangguan.


Gian menutup pintu daan menguncinya. Melihat Mayang di depan cermin, Gian menjadi bersemangat. Seksi sekali Mayang saat menatapnya dari cermin, lalu saat dia berbalik menyambutnya, itu sesuatu yang luar biasa.


"Kamu cukup diam, biar Mas yang bekerja." Gian segera duduk di kasur dan menciumi perut Mayang yang mengkilap dan halus.


"Halo, cintanya Ayah ... Ayah mau nengokin kalian, nih ... jangan nakal, ya. Jangan buat Mama mu kesulitan, ngerti?!"


Gian terus saja mengusap perut Mayang dengan ciumannya secara merata. Menyalurkan seluruh perasaanya untuk Mayang dan ke empat bayinya.


"Mas, apa aku masih menarik kalau badanku melar?"


Gian menengadah dengan bibir menempel di pusar Mayang. "Aku akan menghargai perubahan bentuk tubuhmu sebagai sebuah pengorbanan besarmu untuk anak-anakku, Mai ... jangan risaukan apapun soal itu. Kita bisa melakukan banyak hal jika kamu ingin diet setelah melahirkan nanti."


Mayang terlihat tidak puas, Gian maklum akan hal itu. Perubahan hormon yang membuat Mayang sering overthinking. Tetapi pengalaman masa lalu juga membuatnya terpengaruh.


Wajar bila Mayang takut, bahkan harus jauh lebih takut ketimbang saat bersama Ferdi. Cinta itu urusan hati dan hati bisa berubah hanya karena hal sepele. Gian punya materi yang sangat diinginkan oleh sebagian besar wanita, berpaling bukan hal yang sulit.


Gian menatap mata Mayang lurus-lurus. "Percaya sama Mas ... hanya kamu yang ada di hatiku, yang aku cintai, dalam keadaan apapun. Aku siap jadi impo jika sampai berselingkuh darimu."


"Coba deh, nanti kamu ikut kelas kehamilan, semua wanita pasti melar kalau hamil. Banyak sharing sama yang udah melahirkan lebih dari sekali. Nikmati saja momen ini, Mai ... jangan mikirin bentuk tubuh kamu. Aku yakin kamu bisa mencapai bentuk tubuh yang kamu mau."


Mayang menghembuskan napasnya keras-keras. Mungkin kali ini dia harus percaya pada Gian. Hamil dan melahirkan dialami banyak wanita. Gendut setelah melahirkan juga bukan masalah sepertinya. Semua tinggal bagaimana menyikapi.


*


*

__ADS_1


*


__ADS_2