
Sebenarnya, tidak ada manusia yang tidak ingin terlihat baik di mata manusia lain, ingin memperbaiki kesalahan juga hadir di setiap hati manusia, akan tetapi tidak semua niat baik dipermudah. Selalu ada ujian yang menyertai, menguji seberapa kuat niat kita untuk berubah.
Pun dengan Ferdi, dia berniat baik ingin kembali pada Mayang, dengan menunjukkan keseriusan melalui tindakannya. Namun, rupanya Gian datang bukan hanya menguji, tetapi memenangkan hati Mayang. Seperti ada yang tidak bersambung episode dalam hidup Ferdi setelah bercerai dari Mayang, dan tamat saat Gian berhasil mempersunting Mayang.
Dan di sinilah Ferdi berada sekarang, alih-alih menemani Lea, Ferdi justru berdiri di depan rumah yang di duga menjadi tempat tinggal Mayang setelah bersuamikan seorang dokter. Membayangkan saja sebenarnya Ferdi sudah ngeri sendiri. Mayang, Ferdi tahu dengan jelas berapa rupiah yang dihasilkan resto Mayang tiap bulan, masih ditambah dengan limpahan harta suaminya, lalu mungkin Mayang menjadi penerus usaha mertuanya. Lagi-lagi, takdir menggiring kekayaan ke kantong Mayang.
Mungkin Marini benar soal tidak mau bermenantukan orang lain selain Mayang. Dia wanita pembawa hoki.
"Cari si—" Mayang tak mampu meneruskan kata-katanya saat melihat Ferdi, entah mengapa ia bingung menghadapi suasana ini. "Ada perlu apa?" Bahkan Mayang tak mau repot-repot mempersilakan Ferdi masuk, hanya membiarkan Ferdi duduk di teras dimana angin dingin sedang menguasai malam.
Ferdi menelan ludahnya susah payah, memikirkan apa yang dia ucapkan ini akan mendapat reaksi yang bagaimana dari Mayang. Marah? Atau tersinggung ... tapi jelas, Ferdi harus menanyakannya.
"Yang ... benarkah kalau kamu sudah menikah lagi?" Ferdi salah tingkah mendapat hadiah berupa ekspresi Mayang yang mengerutkan kening. "Maksudku, kamu menikah setelah empat bulanan kita bercerai, itu apa tidak terlalu terburu-buru?"
Mayang sungguh tidak mengerti apa maksud dari pertanyaan Ferdi. "Mas sedang berpikir aku selingkuh sebelum cerai sama kamu, seperti kamu sama Lea, dimana ketuk palu hakim belum memutuskan, kamu udah nikah sama dia?"
"Bukan!" Ferdi menyahut dengan cepat, tentu bukan itu maksud dia. "Kalau lelaki kan tidak punya masa idah, Yang ... maksud aku gini, apa kamu udah benar-benar menyelidiki suamimu? Aku takut dia punya niat buruk sama kamu, Yang!"
"Seperti kamu, maksudnya, Mas?" Mayang tak tahan untuk menjawab tuduhan Ferdi dengan sebuah sindiran yang menohok. Ferdi mendelik dibuatnya, tetapi Ferdi tidak mampu menjawab, hanya menggaruk telinganya pelan.
"Setelah kita cerai, apa yang aku lakukan bukan lagi menjadi urusan Mas Ferdi. Aku wanita bebas, Mas ... aku berhak bersama siapa saja, baik buruknya akan aku terima. Setidaknya, kalaupun dia nggak baik, dia punya pekerjaan yang lebih baik dari kamu. Dan yang pasti, aku tidak akan membayar cicilan mobil seperti saat aku denganmu dulu."
__ADS_1
"Kamu cinta sama dia?" tanya Ferdi. Ia putus asa, tetapi tetap berusaha mencari celah. Jelas kalau soal harta, Mayang tidak terlalu ambilnpusing. Dan jawaban Mayang terlalu umum, terlalu luas. Karena hampir semua wanita akan memilih pria yang mapan.
"Ya ... aku cinta sama dia," jawab Mayang. Terserah apa kata hati, yang jelas dia tidak mau terlihat tidak serius soal pernikahan.
"Sejak kapan kenal sama dia?" cecar Ferdi.
"Aku kenal dia jauh sebelum kita tes kesuburan waktu itu, makanya aku rekom dia ke Mas ... dia yang terbaik sejauh yang aku tau. Dan aku benar agaknya soal itu, karena aku sudah membuktikannya." Mayang tak bisa menahan senyumnya yang terkembang sempurna. Ya, Mayang bertingkah seperti Abg yang jatuh hati, hanya mengemasnya dengan manis. Ia yakin Ferdi ingat bagaimana dulu waktu dirinya jatuh kelimpungan melihat ketampanan Ferdi.
"Mau mengucapkan selamat padaku, kah?"
Ferdi terdiam kala Mayang mengulurkan tangannya. Mengejekkah dia? Atau sedang merasa di atas angin? Ya, memang Mayang tak pernah rendah di mata semua orang.
Mayang mengatakannya dengan sangat ringan juga riang. Senyumnya begitu murah tercurah.
"Kami tidak begitu, Yang ...." Ferdi tak mampu membalas tatapan Mayang. Ketika ia melihat mata dan senyum itu, sesal di hati Ferdi makin menggunung. Ia menunduk.
"Tidak bahagia?" Mayang menyimpulkan, seringai menghiasi bibirnya. "Mungkin bahagia kalian hanya bermain di belakang. Itu penyakit namanya, Mas."
Ferdi menoleh cepat, benarkah itu?
"Jangan bilang kamu kemari mau ajak aku main di belakang Lea?" terka Mayang sekali lagi.
__ADS_1
"Yang ... sebenarnya, aku ingin bilang kalau aku itu cinta sama kamu. Aku berusaha mengakhiri hubunganku dengan Lea waktu itu. Tapi semua terlambat karena kamu tidak memberiku kesempatan. Ibuk juga mengusirku karena dia hanya mau punya mantu kamu."
"Ya, jelaslah, Mas ... Lea bisa apa memangnya? Nyenengin kamu dan ibuk kamu itu butuh nyali, mental, dan uang yang kuat, kalau hanya angin-anginan saja, pasti akan tumbang." Mayang menertawakan keluhan Ferdi dalam hati. Kasihan sekali.
"Dengan kata lain, kalian tidak bisa apa-apa tanpa uang yang begitu royal kukeluarkan. Tapi kalian membalasku dengan kekejaman. Jadi kalau sekarang kamu masih punya muka datang kepadaku dan mengeluh, aku hanya bisa mendoakan semoga kalian kuat. Soalnya dukunganku sudah lewat. Hidup jaman sekarang, kalau ndak punya skuad, pasti bakal sekarat."
Ferdi terdiam. Benar ... dia sekarang sekarat, tanpa skuad uang dari Mayang. Mobil pun terancam melayang.
*
*
*
*
*
Halooo ... alhamdulillah, sekarang kelar semua kerjaan dunia nyata nya emak🤧 mulai bukber sama banti2 mak mer😄
Masih dilanjutkan yah, si Mai2
__ADS_1