Balas Dendam Istri Gendut

Balas Dendam Istri Gendut
No Escape


__ADS_3

Dua hari berselang, ruko Mayang sudah resmi atas namanya semua. Pengembang ruko adalah tetangga samping rumah yang mengadakan pengajian. Mayang mendapatkan tawaran dari pengembang tersebut secara langsung, tetapi dia hanya memesan satu. Rencananya, ia akan meminta bantuan Gian. Hanya Mayang merasa kalau itu berlebihan diusia pernikahan mereka.


Mayang berpikir matang-matang ketika ia mencoba mengatakan kepada Gian. Oleh sebab nya ia hanya minta seikhlasnya.


"Ini uang halal, Mai ... aku nggak korupsi kok." Ketika Mayang terus memandangi dokumen kepemilikan ruko yang kesemuanya adalah atas nama Mayang, Gian menyeletuk lamunan istrinya itu.


"Aku kok merasa jadi istri matre, sih, Mas ... padahal baru beberapa hari kita nikah. Apa ini nggak berlebihan?" Mayang memang overthinking pada sebuah penilaian.


"Kamu harus matre," kata Gian seraya memutar kepala Mayang dari atas, agar menatapnya. "Biar aku nggak ngekepin kamu terus. Biar aku semangat kerjanya. Jangan lupa kirimi aku pesan-pesan cintamu, biar aku nggak rindu kamu."


Mereka berdua duduk di sofa yang ada di salah satu ruko, yang paling dekat dengan ruko Lea. Mereka sedang menunggu kiriman freezer dari bos makanan olahan beku yang dikerjai Lea kemarin.


"Aku lagi serius, Mas ...." Mayang memukul paha Gian yang berbalut celana abu-abu tua. "Aku ndak enak sama Bapak. Dikira aku morotin kamu lagi, Mas."


Gian mengusap punggung tangan Mayang, dan menggenggamnya erat. "Bapak udah ada jatah sendiri. Kamu tenang aja, aku nggak bakal kekurangan uang, Mai ... kalau untuk kamu, Insya Allah, aku selalu ada."


"Nggak ngutang, kan?" Mayang menyipit, tetap tidak percaya Gian begitu saja, "jangan sampai aku ditagih bank bulan depan."


Gian mencium pipi Mayang, "kamu ini nggak percayaan, ya ... tapi asal jangan nggak percaya kalau di hatiku hanya ada kamu."


Gian menarik dagu Mayang dan membenamkan ciuman di bibir berbalut lipstik merah mudah yang pas berpadu dengan kulit Mayang yang putih, membuat Mayang terlihat lebih muda dari usia sesungguhnya.


Memangnya, Mayang akan menolak? Tidak dong, Mayang membalasnya. Mayang sedikit mengerti soal bentuk cinta Gian padanya melalui sentuhan dan kontak fisik, sehingga ketika Mayang membalas sentuhan Gian, Gian akan merasa dihargai. Limpahan kasih sayang Gian padanya akan makin berlipat ganda. Terlebih kalau Mayang yang menawarkan. Gian akan memperlakukan Mayang bak ratu.


Kecenderungan ini ia pelajari kala menyadari Gian agak maniak, lalu Mayang agak kewalahan. Solusinya adalah komunikasi. Bicarakan semuanya, agar tidak terjadi konflik besar. Mayang merasa ia perlu berbenah, dia harus menang di pernikahan keduanya ini. Gian harus menjadi suaminya yang terakhir. Yang tidak dilakukan pada pernikahan pertamanya, kini banyak ia gali dan lakukan. Budaya dan kebiasaannya akan banyak ia sesuaikan dengan bentuk baru suaminya. Gian mencintainya, dan dia kini harus menggerakkan hati dan hidupnya pada Gian seorang. Gian adalah pusat hidup dan dunianya.

__ADS_1


"Ehm ...!"


Keduanya saling melepaskan diri dengan cepat saat menyadari ada seseorang yang datang. Jika Mayang masih menunduk dan merah padam, Gian sebaliknya. Dia langsung bangkit usai mengusap bibir Mayang sekilas. Pria itu biasa saja dan kembali cuek menghadapi orang lain.


"Letakkan saja senyaman kalian. Yang penting enak dipandang mata, dan membuat pembeli leluasa memilih." Gian memerintahkan beberapa orang yang menurunkan freezer yang Mayang pinjam dari bos makanan beku ini.


"Astaga, Mas ... kamu kok ndak punya malu, sih," keluh Mayang dalam hati.


Padahal Mayang ingin tenggelam di laut dalam, daripada menahan malu di depan pekerja itu. Gian malah menghampiri dan mengarahkan pekerja itu dengan gaya bossy nya yang keren dan berwibawa.


"Sayang ... kamu mau nunggu freezernya sampai siap diisi, atau pulang saja. Kayaknya masih lama."


Gian berjalan ke arah Mayang yang masih belum siap keluar dari persembunyian.


"Aku ke Selera aja, Mas ... lama nggak ke sana aku," Mayang berdiri tetapi dengan kepala menunduk.


Namun Gian menarik Mayang sampai menabrak dada Gian. "Aku yang apa-apa kalau kamu ke sana sendirian."


Gian tidak bisa di bantah. Sebenarnya dia libur hari ini, tetapi karena ada sedikit masalah di klinik, Gian datang sekitar tiga puluh menit an. Lalu dia kembali lagi menemui Mayang.


"Pak, saya tinggal sampai jam empatan, ya! Tolong di jaga benar-benar, jangan sampai ada sabotase yang akan merugikan istri saya." pesan Gian pada pekerja yang berjumlah empat orang itu. "Nanti bakal ada yang anter makan siang, sama kalau udah dingin dibiarkan saja dulu, ngisinta nunggu saya dan istri saya kembali."


"Baik, Pak." Anehnya, pekerja itu yang tampak malu menatap mereka berdua. Mungkin itu definisi ingin mempermalukan tapi malah mendapat malu sendiri.


"Yuk, Mai." Gian menyeret tangan Mayang pelan menuju mobil, tetapi suara sumbang menjegal langkah mereka berdua.

__ADS_1


"Wah ... OKB beli ruko, nih. Mau nyaingin aku?" Lea berdiri di undakan menuju ke tokonya, gayanya meremehkan.


Mayang mendengus malas dan jengah. Ia melepas tangan Gian lalu menghadapi Lea. "Iya. Kenapa? Kamu takut punyaku lebih laku dari pada punyamu?"


"Wah, pede sekali kamu, Mayang ... belum juga buka udah sok! Tunjukkan dong, kehebatan kamu yang katanya luar biasa itu. Jangan cuma bisanya menggoda kekasih orang!" Lea mendorong bahu Mayang kecil-kecil sampai Mayang mundur.


Mayang menanggapi dengan santai, seraya mengibas bekas tangan Lea yang menempel di bajunya. "Bisa aja kamu ngomong, Perusak Rumah Tangga Orang!"


Mayang mendekat selangkah. "Siapkan kaca mata, aku takut kamu silau lihat kemampuanku yang belum pernah kamu lihat. Dan siapkan dana besar, karena setelah ini kamu butuh cangkok jantung. Atau pesan peti mati, takutnya ... kamu nggak punya uang lagi, terus lewat deh."


Jemari Mayang memutar di depan mata Lea, mengisyaratkan kalau Lea akan pergi jauh dari dunia ini.


"Aku nggak akan mati sebelum melihat kamu menderita, Mayang!" bentak Lea. "Aku nggak akan silau meski kamu pakai berlian paling mahal di dunia sekalipun!"


"Wow!" Mayang bertepuk tangan. "Jangan sampai kata-katamu menyulitkan jalan kematianmu sendiri Lea. Kamu cukup bernyali juga. Tenang saja Lea ... mesinku sudah panas. Mari kita mulai perangnya." Matang menantang. Ia bersumpah akan membuat Lea tidak punya apa-apa dan mengemis padanya.


Sementara Gian, menyaksikan wanitanya menghadapi musuhnya dengan senyum terkembang sempurna. "Wanita yang menggairahkan," batinnya. Gian menyukai wanita yang berani menghadapi lawannya, tidak pernah mau tunduk pada orang yang pernah mencuranginya. Baginya, merusak pernikahan orang, hukumnya tidak termaafkan. Pun bagi wanita yang mengkhianati pernikahan, tak ada jalan kembali meski sebesar celah.


*


*


*


*

__ADS_1


*


__ADS_2