
"Ini semua berkas yang kamu minta, May!" Rully masuk ke ruangan Mayang, menyerahkan segepok kertas yang merupakan surat perjanjian jual beli palsu.
Mayang memeriksanya, terlihat kejam sekali dia sebenarnya, tetapi apa boleh buat. Dia sudah tidak kuat menahan jijik dan mual tiap kali berdekatan dengan suaminya.
"Carikan aku pengacara, Mbak," ujar Mayang pada Rully yang baru saja mendudukkan tubuhnya di kursi depan meja Mayang.
Meski heran, Rully tetap mengangguk. Agak aneh dengan sikap Mayang yang semula bucin akut terus tiba-tiba minta cerai, alasannya apa?
"Udah yakin kamu pisah sama suamimu yang ganteng itu?" Rully menatap adiknya yang tak mau menatapnya sejak tadi. "Dia salahnya udah kebangetan, ya?"
Rully sampai sekarang belum tahu dengan jelas bagaimana keadaan di dalam rumah tangga adiknya. Mayang selalu menghindar dan menutup mulut rapat-rapat.
"Iya!" Mayang meletakkan kertas itu usai membacanya, lantas menatap kakaknya dengan tajam. "Itu udah gak bisa aku maafkan lagi. Aku udah ambil semua uangku yang dicurinya, dan udah aku ikhlaskan yang masih tersisa."
"Oke, baik ... tapi gimana sama Pak Hadyan nanti, May. Apa beliaunya nggak apa-apa kalau Ferdi mengklaim rumah makan miliknya itu?" tanya Rully.
"Pak Hadyan membantuku, Mbak ... hanya aku harus meyakinkan Mas Ferdi agar surat ini tetap di tanganku, agar aku bisa memusnahkannya." Mayang sedikit cemas.
"Kamu terlalu ambil resiko, May ... tapi Ferdi keterlaluan, sih ... semoga kamu berhasil, May!" Rully sedikit cemas, namun tetap berharap Mayang berhasil dengan rencananya. "Rumah yang kamu minta, sudah aku dapatkan. Aku udah deal dan setor uang muka."
"Makasih, Mbak. Minta Pak Yudi pindahkan barang-barangku, ya ... nanti malam tinggal ambil laptop sama barang-barang yang penting aja." Mayang tersenyum lega. Ia memutuskan untuk mengikhlaskan harta yang di curi Lea, lalu segera pergi, terlebih dia sudah punya bukti yang kuat jika dia menuntut cerai nanti. Ia yakin akan dapat ganti yang lebih berkah lagi.
__ADS_1
Rully memandang iba adiknya, lantas ia merengkuh adiknya itu dalam pelukan. "Kamu hebat, Dek ... udah jadi wanita yang kuat dan tegas. Mbak seneng banget."
Mayang tertawa meski menangis. "Hehe, iya, Mbak ... sekarang Mbak bisa nikah, karena aku udah bisa jaga diri."
Celetukan Mayang membuat Rully melepas pelukan dan merengut. "Belum ada yang cocok."
Mayang melirik kakaknya penuh goda. "Laki-laki takut sama kamu, Mbak ... kamu terlalu tinggi pasang standart."
"Enggak! Cukup kaya Pak Dokter rekannya Wina aja. Meski seumuran tapi nggak masalah, dia cool." Rully mengambangkan angan seolah sedang memandangi sosok pria tersebut.
Mayang mencebik, "Di—"
Ucapan Mayang tak sampai selesai ia lisankan, obrolan mereka terlanjur di sela oleh kedatangan Ferdi yang tampak tergopoh-gopoh. Mata Mayang hampir dibuat jatuh oleh kehadiran suaminya itu. Dengan sigap ia mengamankan berkas yang akan dia gunakan untuk meyakinkan suaminya jika dia mendesak soal pembelian Arumndalu.
"Mas ...." Mayang berdiri dengan gugup, Rully pun sama. "Ada apa?" Ia menyambut suaminya yang sedang berjalan ke arahnya.
"Ini tiga ratus juta. Aku harap, Arumndalu segera jadi milik kita."
Mayang terbelalak menerima satu tas penuh uang yang dibuka oleh Ferdi. "Mas ... ini—"
Mata Mayang berkaca-kaca, haru karena uangnya kembali.
__ADS_1
"Ya, aku lakukan semua ini demi masa depan kita, Yang! Udah, nggak apa-apa. Kamu bayarkan saja, aku percaya sama kamu." Ferdi menggenggam tangan Mayang dan memeluknya—Rully mengeluarkan gestur ingin muntah.
"Mas, tapi—"
"Aku buru-buru, Yang ... demi dapat uang ini, aku ninggalin kantor, dan Saira udah nelponin aku dari tadi." Ferdi mengecup kening Mayang. "Aku percaya kamu, Yang."
Mayang terperangah, senang dan merasa lucu, sekaligus kasihan. "Hati-hati, Mas." Mayang tersenyum saat Ferdi meninggalkan ruangannya dengan ponsel yang berdering nyaring.
"Mencari nafkah untuk istri sampai sebegitunya, ya?" Rully bersedekap seraya menggelengkan kepala.
"Yah, apa boleh buat." Mayang menghempaskan bahunya turun. "Ini gunakan untuk melunasi rumahku, aku ambil sedikit buat kenang-kenangan dan santunan untuk suamiku yang tampan itu. Yang penting carikan aku pengacara yang paling hebat, agar aku bisa lepas tanpa banyak bicara dari Mas Ferdi."
*
*
*
*
*
__ADS_1