Balas Dendam Istri Gendut

Balas Dendam Istri Gendut
Lebih Berpengalaman


__ADS_3

Gian tidak bisa membantu, kepalanya masih pusing, tetapi ia memposisikan dirinya duduk. Meraih botol air agar Mayang bisa melegakan tenggorokan usai muntah yang amat parah.


Mayang bergegas kembali ke kamar, tenggorokannya panas dan nyeri, tetapi ia sudah terbiasa. Ini bukan lagi soal rasanya bagaimana, tetapi Mayang lelah. Muntah dengan sepenuh hati seperti ini, rasanya menghabiskan tenaga. Tak heran Mayang selalu ingin segera tidur setelah muntah.


"Maaf, Mas ... aku bukan benci kamu yang bagaimana, tapi sungguh ... aku sebel lihat kamu." Mayang mengelap mulutnya usai minum satu botol air mineral yang ada di meja dekat kamar Gian. Dia menjaga jarak, agar tidak terlalu dekat dengan Gian. Kalau tidak, dia akan muntah lagi. Melihat Gian, Mayang agak merasa tidak enak hati. Sungguh, Gian adalah pria tampan dengan aroma tubuh yang wangi. Tak ada yang salah pada pria itu, tapi dialah yang mendadak sensitif.


Tanpa dijelaskan pula, Gian tentu lebih mengerti. Mayang seketika terdiam mengingat hal ini. Yang hamil memang Mayang, tapi Gian mempelajari ilmu tentang hamil dan seperangkat keribetan soal hamil. Mayang memang baru pertama kali merasakan kehamilan, tapi Gian sudah ribuan kali melihat kehamilan bahkan membantu melahirkan. Jadi apa yang tidak diketahui Gian soal itu?


Gian terbahak melihat wajah Mayang yang tertekan. "Nanti mereka bakal mirip aku, loh, May."


"Kata orang sih, seperti itu ... tapi nggak apa-apa, kan malah cakep-cakep anaknya." Mayang duduk, diujung tempat tidur. Ia mencoba untuk hanyut dalam ucapan Gian. Memompa pikirannya ke arah itu. Setidaknya, hal itu membuatnya tersenyum dan terus terbayang wajah anak-anaknya nanti.


"Kamu juga cantik ... nanti yang satu mirip kamu." Gian menghibur.

__ADS_1


Mayang tertawa, "kamu orang pertama yang bilang aku cantik dengan tulus, Mas ... meski bentuk badanku tidak beraturan kayak kaleng penyok. Aku tau kamu cuma mau bikin aku seneng."


"Nggak juga ... aku yakin kamu tau secantik dan semenarik apa dirimu sendiri. Kamu tau kekurangan dan kelebihan kamu, hanya kamu menutup mata soal kelebihan dan fokus pada kekurangan." Meski lemah, kata-kata Gian membuat hati Mayang mekar bak habis direndam dengan fermipan.


"Itu benar, tapi emang aku nggak punya kelebihan yang berarti lah, Mas ... sebagian besar wanita punya sikap yang sama seperti aku."


"Rendah hati boleh, tapi rendah diri jangan. Tetaplah jadi kamu, kamu yang banyak senyum dan kalem, untuk galaknya tolong dibuang, ya." Gian menggoda. Dari posisinya, Mayang tampak bersinar. Wajahnya cerah seperti sinar matahari pagi ini.


Alis Mayang mengerut, saking tak mengerti kenapa Gian bisa bicara begitu. Bayi mereka bahkan belum bergerak, mungkin seperti kecambah atau ubur-ubur saja sekarang bentuknya. Eh, bukan tapi kuda laut. Imut dan menggemaskan.


"Kamu cantik soalnya. Cantik banget. Dan aku harap, anak kita nanti, lebih mirip kamu. Semuanya."


Jika biasanya Mayang akan tersipu, tetapi kini Mayang malah tertawa lebar. Gian memang jago mengobral gombalan. Mayang baru sadar dengan benar sekarang.

__ADS_1


"Kenapa bisa gitu, Mas? Aku serakah nanti, udah mengandung, udah menyusui, eh, masih harus mirip aku. Kan kita buatnya berdua. Pasti komposisinya dari darah dan gen kita berdua lah."


"Kalau mirip aku serem, Mai ... katanya aku ini kaku dan galak. Kamu mau anak kamu nanti susah dapet jodoh kaya aku. Mana dapet jodohnya pake berliku lagi." Gian mengeluh.


"Semua yang terjadi di hidup kita udah diatur sama Yang Kuasa, Mas ... susah mudahnya sudah rangkai. Bukan tanpa maksud juga kalau harus melalui sebuah kesalahan untuk mendapatkan kebenaran yang hakiki."


Mayang merasakan itu. Bagaimana hidupnya yang sempurna, jadi kacau dan sempurna lagi seperti sekarang. Itu mungkin membentuk roda kehidupan. Yang dirasa Mayang mirip jalur rollercoaster ekstrem.


"Itu juga benar, tapi kalau boleh request, anakku jalan hidupnya yang lurus-lurus aja." Gian sungguh-sungguh berharap kehidupan mereka lebih mudah ke depannya. Cukup Gian saja yang mengalami namanya kesusahan dan sakitnya diduakan.


"Enakan yang ada bengkoknya, Mas. Lebih menantang." celetuk Mayang.


Gian, "...."

__ADS_1


__ADS_2