Balas Dendam Istri Gendut

Balas Dendam Istri Gendut
The Power Of Uang


__ADS_3

Pagi ini, semua orang dibuat canggung. Hanya Mayang yang tampak biasa saja. Bahkan senyumnya melebar melihat Lea yang bersungut-sungut karena diperintah Marini untuk bantu-bantu dia di dapur.


"Yang, sarapan dulu." Ferdi menawarkan satu piring lontong pecel yang baru saja ia hidangkan untuknya sendiri. Marini yang makin malas memasak, Ferdi yang enggan ribut, akhirnya memilih beli sarapan di warung tetangga.


Mayang melongok ke dapur sekilas, tangannya sedang sibuk mengirim pesan pada Zahra—temannya yang bekerja di bank. Mayang memang mengcancel pembekuan rekening Lea karena tidak cukup bukti, tetapik Hadyan tiba-tiba datang dan memenuhi kepala Mayang dengan ide-ide lebih brilian. Huft, rasanya spot jantung setiap detik. Tekatnya untuk selangkah di depan Lea selalu memacunya untuk lebih baik.


Lea tampak baru bergabung, Marini masih memakai clemek dan rambutnya berantakan. Tunas-tunas putih melambai, menandakan usia senja telah tiba, selain itu juga menunjukkan bahwa, sudah lama berlalu sejak terakhir kali Marini merengek minta ke salon buat mewarnai rambutnya.


"Kamu udah lama nggak sarapan di rumah, Yang ... sekali-sekali lah, jangan sibuk terus dan mengabaikan kami."


Lea membeliak, kekasihnya mulai perhatian pada istrinya.


Marini tersenyum penuh kemenangan melihat reaksi Lea, lalu dengan gaya dibuat-buat ramah, Marini berjalan ke meja dengan beberapa telur setengah matang di tangannya.


"Ibuk kangen sarapan sama kamu, Yang ... ini udah Ibuk buatin telur setengah mateng kesukaan kamu. Ibuk rebus cuma tiga menit, biar pas sama selera kamu."


Mayang tersenyum, "makasih, lo, Buk ... repot-repot banget. Aku bisa sarapan di warung sebenarnya." Ini seperti memancing keributan makin panas.


Ketika duduk, Mayang langsung menyambar telur di mangkuk yang barusan diletakkan Marini. Bersiap mengupasnya.

__ADS_1


"Eh, jangan ... biar Ibuk yang mengupasnya. Kamu tinggal makan aja." Marini mengambil alih telur ditangan Mayang dan buru-buru mengupasnya meski masih panas. Tak ada raut masam keberatan, tak ada suara tajam menyindir.


Mayang memasang wajah sungkannya, tetapi dalam hati terkekeh geli. Ferdi dengan telaten menyiapkan sendok dan air putih di depan Mayang.


"Habisin, Yang ... ini banyakan sayurnya. Seperti kata Pak Dokter kemarin," ujar Ferdi seraya menggeser piring ke depan Mayang.


"Ini juga usaha agar kamu cepetan hamil, Yang ...." Marini menimpali dengan meletakkan sebutir telur yang sudah ia belah jadi dua di piring Mayang. "... biar rumah tangga kalian kuat, ndak mudah goyah, dan ndak ada pengganggu yang sok baik datang."


Mayang tak tahan untuk melihat ke arah Lea. Wanita itu tampak masam, menyuapkan makanan dengan kasar. Matanya tampak merah dan basah. Mungkin keselek.


"Makasih, perhatiannya, ya, Mas ... Ibuk." Mayang mengusap tangan ke dua orang itu dengan lembut. Tatapan Mayang selalu meyakinkan, sehingga dua orang itu juga tersenyum, bahkan Ferdi mencuri satu ciuman di bibirnya.


Mayang tersedak. Bukan karena salah tingkah, melainkan karena jijik. Ferdi bicara sedikit keras, Lea dan Marini pasti bisa mendengar dengan jelas.


"Aku berangkat!" pekik Lea seraya bangkit dari kursinya.


Marini mendelik, "kemasi bekas makanmu sendiri! Kamu ini udah numpang, tapi ndak tau diri. Kamu pikir aku pembantumu apa?!"


Lea menelan sisa makanannya susah payah, matanya melirik Ferdi, seolah minta perlindungan atau pembelaan, tetapi pria itu abai, dan terus melanjutkan makannya.

__ADS_1


"Biar aku saja, Buk—"


"Ndak bisa, Yang ... meski dia sodaramu, tetap di sini dia harus tahu adab orang numpang. Masih bagus dia kami tampung, kalau ndak, dia pasti lontang lantung di jalan." Marini masih menghardik Lea melalui tatapan matanya.


Sejenak hening dan Lea tetap diam terpaku. Hatinya sakit. Kenapa bisa jadi begini? Padahal niatnya mau membuat Mayang kolaps dengan menggelar perselingkuhannya tetapi malah dia yang menggelepar tak berdaya.


Lea merasa bodoh dengan melemparkan diri ke dalam pertempuran. Rencananya menjadi tidak berarti ketika melihat Mayang sudah begitu siap dengan amunisi.


Mayang membalas tatapan Lea dengan sebuah senyuman yang manis dan lembut. "Maaf, aku ndak bisa bantu kamu, kali ini, Le ... Ibuk benar, kamu di sini hanya karena aku jadi istri Mas Ferdi, jadi kamu yang tahu diri, ya."


Lea benar-benar kesal, Mayang begitu menyebalkan, pintar mengambil muka. Akhirnya Lea melakukan apa yang diperintahkan Marini sembari terus melihat keakraban dan kemesraan kekasihnya.


Sial!


*


*


*

__ADS_1


*


__ADS_2