
Lea kembali memasang target, siapapun yang memarkir kendaraan di depan toko, harus belanja di tokonya. Ini berhasil menjerat beberapa orang yang tidak tahu apa-apa.
Wanita itu berdiri bak tukang palak, namun justru pemandangan yang membuat momen galak Lea rusak justru melayang di depannya.
"Ngapain Mas Ferdi ke toko Mayang?" Lea bergerak maju. "Kapan dia masuk? Kok aku nggak lihat?"
Lea mendenguskan napasnya. Padahal tokonya ada di sebelah, tetapi Ferdi tidak terlihat memiliki niat mampir ke tokonya. Sekadar menyapa, atau mengenalkan tokonya pada teman kantor Ferdi. Siapa tau mereka ada yang mau beli, kan? Itung-itung bantu memajukan usaha istrinya.
"Mas!" panggil Lea.
Ferdi yang sibuk menata berkas dengan wajah berbinar itu menoleh. Ferdi jelas tidak tahu apa yang dialami Lea pagi ini.
"Ada apa?" Ferdi hanya sekilas menatap Lea, lalu kembali menata berkas yang barusan di tanda tangani Mayang. Ya, Mayang akhirnya mau mengambil kredit darinya. Ini berharga sekali untuk kemajuan kinerja Ferdi. Dia sedang diawasi, hutangnya banyak, orang-orang di kantor Ferdi takut jika Ferdi menilap uang kantor untuk keperluannya sendiri. Bahkan kini Ferdi seperti mengulang masa awalnya bekerja, yaitu mencari nasabah baru.
Lea memutar bola matanya jengah. Dia marah karena diabaikan Lea. Dia cemburu karena wajah ceria Ferdi berasal dari pertemuannya dengan Mayang. Bukan darinya lagi. Kenapa sekarang terbalik? Dulu, Ferdi akan tersenyum sepanjang waktu karena belaiannya. Lea menggigit bibir ingat bahwa sekarang semuanya tak lagi sama.
"Aku sibuk kalau nggak ada yang penting," kata Ferdi yang sudah selesai mengemas berkas-berkasnya, bersiap memasukkan berkas itu ke tas kerja yang tersandang di bahu Ferdi.
Lea mendengus melihat betapa cuek dan tidak pedulinya Ferdi padanya. "Jadi sekarang mesti harus ada yang penting, ya, kalau aku nyamperin kamu?"
__ADS_1
Ferdi menghentikan gerakannya, memalingkan wajah sejenak, untuk membuang sebal yang tiba-tiba mengumpul di ujung hidungnya. Berkas yang awalnya akan di masukkan ke dalam tas, dihentakkan ke atas kok motor.
"Aku lagi kerja, Lea!" Ferdi menatap Lea kembali, "Kalau memang nggak penting, nanti kita bicara di rumah. Aku sedang buru-buru, Saira menungguku."
"Ck, gaji seuprit aja kamu bela-belain, Mas," cibir Lea. "Kalau aku udah resign cari kerjaan lain yang menguntungkan."
"Jangan ngaco kamu, Le ... kamu pikir cari kerja itu mudah apa?" Ferdi merengut kesal. Dia lelah ditekan sama sini, beban pekerjaan yang berat, masih ditambah punya istri yang kekanak-kanakan dan menuntut.
"Kamu usahanya kurang, bukan sulit cari kerja di sini. Kaya di kota besar aja, kamu ini, Mas."
Ferdi berdecak, lalu memasukkan berkas itu ke dalam tas, namun belum sempat berkas itu masuk, suara teriakan terdengar dari depan toko Mayang.
"Aduh!"
"Mayang!" Ferdi berlari menuju Mayang tanpa ingat kalau ada Lea di depannya. Wanita itu langsung mendelik jengkel.
"Kamu nggak apa-apa?" tanya Ferdi sok peduli.
"Ndak apa Mas, hanya meleset air." Mayang menunjukkan ceceran air sisa belanjaan pengunjung. Benar, Mayang terburu-buru keluar sampai tidak lihat kalau ada air yang bisa mencelakakan dirinya. "Aku permisi, Mas ...."
__ADS_1
Mayang terlihat enggan berdekatan dengan Ferdi bahkan ia menghindari sentuhan Ferdi. Dia tidak mau tercemar lagi oleh mantan yang tinggal kenangan.
Mayang benar-benar berlalu mengenakan sebuah motor milik karyawannya. Mengabaikan Ferdi dan Lea. Bertegur sapapun tidak.
Lea jelas merasa cemburu, ia berjalan mendekati Ferdi yang masih terpaku menatap kepergian Mayang sampai tak terlihat.
"Jadi kerjaan jadi alasan buat mengunjungi mantan!" tanya Lea dengan gaya santainya. Ia merebut lembaran kertas yang terangkum dalam sebuah map berwarna biru, lalu merobeknya.
"Ini biar kamu, nggak punya alasan lagi buat datang kemari!"
"Lea!" Amarah Ferdi memuncak, melihat semua berkas itu hancur berantakan. Ia hanya punya waktu sampai sore ini untuk mendapatkan kredit dari Mayang.
"Biar saja kamu dipecat, lebih baik jadi pengangguran dari pada kamu banyak alasan deketin mantan istri!" teriak Lea kesal. Kakinya menghentak penuh amarah.
Astaga Lea. Tangan Ferdi gemetar menahan dirinya untuk tidak menampar Lea.
*
*
__ADS_1
*
Maaf, hape kentangku abis dikasih pamol,biar gak panas dan ngeblankš¤