Balas Dendam Istri Gendut

Balas Dendam Istri Gendut
Pak Dokter Baper


__ADS_3

"Kamu kalau suka cewek kenapa selalu begini, sih, Yan?" Katon menepuk pundak sahabatnya, ikut Gian menatap kepergian Mayang. Gian terdiam, tertegun, tertohok, dan tidak bisa berbuat apa-apa. Mayang berani menyudutkan Gian. Terpojok hingga benar-benar mati kutu.


"Kata Mayang itu benar, daripada kamu panas lihat dia sama orang lain, mending kamu ajak kencan. Jajaki hatinya, kaya apa maunya. Mayang itu baik, beneran." Katon meyakinkan. "Aku kenal dia dari kecil, anaknya menyenangkan, hanya sejak nikah, aku jarang ngobrol sama dia."


"Memangnya kamu SPG-nya dia, apa? Pake dipromosikan segala? Kamu pikir aku bakal tertarik gitu, hanya karena kata-katanya tadi?" Gian sewot.


Gian selalu begitu. Katon tahu. Cara mencari perhatian pada gadis yang disukainya memang beda dari sebagian besar cowok. Gian cenderung posesif dengan menyasar dan menggali sisi lemah cewek yang membuat cewek terkesan mudah tertindas. Ini—sifat Gian, membuat istrinya tak tahan karena terus dicerca dan dituntut Gian menjadi wanita yang kuat, mandiri, dan tidak manja, sehingga membuat istri Gian menuntut cerai.


Atau mungkin, memang itu cara Gian mengusir Anggia—mantan istri Gian—dari hidupnya. Katon iba pada Gian, sebab Anggia selalu membuat Gian kerepotan dengan sikapnya. Gian diberhentikan dari pekerjaannya terdahulu demi Anggia yang mengatakan dirinya pendarahan, nyatanya Anggi hanya ingin Gian menemaninya semasa hamil muda.


Katon ingat waktu itu, Gian nyaris gila. Pekerjaan itu dengan hati-hati Gian tekuni, hingga dialah yang diajukan untuk mendapat beasiswa untuk melanjutkan ke jenjang spesialis. Namun, karena Anggi, Gian gagal mendapatkannya.


Gian berlalu, moodnya untuk tetap di tempat ini sudah hilang. Katon mengejar dengan bibir masih melebar penuh tawa.


"Soal Mayang aku nggak main-main kalau kamu suka." Suara Katon tertelan riuh suasana siang di luar gedung. Gian menoleh, tetap datar setengah malas menanggapi.


"Sering-sering aja datang ke restoku, kamu bisa puas memperhatikan dia untuk membuktikan ucapanku nggak bohong." Katon masih memburu Gian yang melangkah ke arah Civic-nya terparkir.


Gian berbalik ketika sudah sampai di sebelah pintu mobilnya. Menatap kesal ke arah Katon yang masih setia nyengir. "Aku bisa melihat bahkan dari kamarku." Gian menyembur ketus.

__ADS_1


Katon terperangah, "Tetanggaan?" Kenapa Katon tak pernah berpikir, Mayang tinggal dimana setelah bercerai. "Jadi dia punya rumah dekat rumahmu?"


"Kelihatannya?" tanya Gian dengan mata menggantung malas.


"Jadi kenapa kamu tadi terpesona ketika dia nyalamin kamu?" cercar Katon kepo.


Gian membuang napas, apa dia harus menjelaskan ini? Tak tahukah kalau dia sedang galau? Gian ingin meneruskan perasaannya, ucapan Mayang barusan adalah angin segar yang patut diperjuangkan, tetapi dia harus bersaing dengan bapaknya, yang dari ke hari terus membicarakan Mayang. Sejauh apa hubungan mereka, Gian tak pernah tahu. Gian enggan mencari tahu, buat apa? Tiga bulan sejak pertemuan itu, hanya Mayang yang ada di kepalanya. Entah apa sebabnya.


Gian mencoba mencari cara mendekati Mayang, tetapi Gian tidak punya keberanian. Ya, dia masih takut menjalin hubungan dengan wanita sejak bercerai empat tahun lalu. Gian masih takut sifat kerasnya membuat wanita tak nyaman. Meski maksudnya baik, tetapi itu tidak berlaku untuk setiap wanita. Hanya wanita tertentu yang bisa mengerti apa yang menjadi maksud dari tindakannya.


Gian pikir, Mayang orangnya. Entah, itu hanya sugestinya atau memang jodohnya adalah Mayang.


"Bapak kenapa?" Katon semakin penasaran.


Gian membuang napasnya, perasaannya penuh. "Mayang itu calon ibu tiriku—puas?!"


Katon hanya menaikkan alisnya, meski dia sungguh terkejut. "A-apa kamu bercanda?"


Gian serampangan membuka mobilnya. Ocehan Katon sungguh menyebalkan. Tidak tahukah Katon kalau hatinya sedang patah?"

__ADS_1


"Menurutmu? Wajahku sedang bercanda? Apa aku pernah bercanda soal perasaanku?" Gian masuk ke mobil, dan dengan kasar menekan pedal gasnya kuat-kuat.


Katon hanya bisa melongo. "Pak Hadyan akan menikah lagi? Dengan ... Mayang?"


*


*


*


*


Jadi Pak Dokter ini salah paham atau memang Bapaknya Pak Dokter beneran suka sama Mayang sampai mau bantuin Mayang segala?


Selamat leyeh-leyeh, selamat siap-siap masak, atau selamat siap-siap berburu menu bukber😄


Dearly


Misshel😘

__ADS_1


__ADS_2