
Mayang berjalan dengan anggun didampingi Rully yang kali ini tidak merias Mayang sendiri. Ia meminta salah seorang teman periasnya merias Mayang di hari istimewa ini, dan Rully hari ini akan menjadi kakak yang terbaik untuk Mayang.
Sigit dan istrinya berdiri di sisi kanan, sementara Rully ada di sisi kiri. Mereka berdua terlihat penuh haru kala mengiring Mayang. Irama musik gamelan jawa mengiringi langkah Mayang menuju Gian. Tatapan seluruh penghuni gedung terarah pada Mayang yang tampak manglingi dalam balutan kebaya rempel di bagian perut. Perlu beberapa penyesuaian pada kebaya Mayang agar perut Mayang tidak tertekan, sehingga acara ini molor beberapa waktu.
"Paklik harap, kamu akan bahagia dengan pernikahanmu kali ini, Nduk. Kamu bahagia, kan, selama jadi istri dokter nekat itu?" tanya Sigit di sela senyumnya saat melintasi tamu yang memenuhi ruangan ini. Pria itu merasakan gempita kebahagiaan dari suasana indoor gedung yang lembut dan hangat. Sentuhan yang terasa penuh cinta dari setiap perpaduan dekorasi di sini. Seperti disiapkan sepenuh hati dan hati-hati.
Mayang mengangguk, bibirnya tersenyum karena pakliknya selalu menyebut Gian dokter nekat. "Iya, Paklik ... aku bahagia. Apalagi Paklik akan dapat cucu ponakan kembar dariku."
"Wah, bener itu, Nduk?" Sigit menoleh, istri Sigit tampak berbinar dan langsung ikut nimbrung.
"Ini masih rahasia, Paklik, Bulik, tapi doakan kehamilan pertamaku ini."
Sigit manggut-manggut, seolah sudah paham kenapa semua ini masih dirahasiakan. "Tapi perut kamu ndak bisa bohong, sih, Nduk? Kembar tiga, ya? Kok udah kelihatan melendung?"
"Apaan, sih, Pak." Veni, istri Sigit menepuk pelan lengan suaminya, "kembar dua aja udah repot, kok kembar tiga. Namanya hamil kembar ya, mesti lebih gede dari hamil tunggal."
"Ya, sopo ngerti?" Sigit mengusap tangan Mayang yang mengamit lengannya. "Wes, Nduk ... Paklik antar sampai sini, Paklik serahkan kamu sama si Dokter nekat itu. Paklik harap, dia membuat kamu bahagia, atau akan Paklik lempar ke pedalaman Afrika kalau sampe kamu nangis karena dia."
Rully dan Mayang tertawa ditahan-tahan.
__ADS_1
Sepasang mata Gian memandang Mayang penuh kerinduan. Tanpa sadar dia sudah maju beberapa langkah dari posisi yang telah ditentukan oleh fotografer maupun dari pengarah gaya. Seakan Gian tak sabar melihat langkah Mayang yang pelan dan tampak menghindari kontak mata dengan Gian.
"Mas ... tolong jangan jauh-jauh!" Kang foto mengingatkan dengan menahan tangan Gian. Katon juga melakukan hal yang sama. Beberapa kali properti untuk foto dipindahkan mengikuti Gian.
"Aku masih di dalam gedung, belum juga lari ke halaman!" Gian menatap Katon kesal. Padahal Katon tidak berkata apa-apa, sehingga ia mendelik dan bingung mau berkata apa.
"Yang ngelarang kan, Kang Poto, bukan aku!" protes Katon tak terima.
"Ini apa?" Tangan Gian terangkat dan menunjukkan tautan tangan mereka. "Jangan bilang kalau kamu nggak rela aku nikah?"
Katon mendelik. "Wong edan!" umpat Katon seraya menghempaskan tangan Gian. "Sana-sana! Susulin istri yang kamu bucinin itu! Gendong ke sini kalau perlu." Katon kesal. Ia melengos ke arah lain agar Gian tak lagi berkata yang aneh-aneh.
"Aku bakal bahagiain Mayang, Paklik ... jangan khawatir." Gian dengan tidak sabar menghampiri Mayang yang sedang cekikikan dengan Rully. Persetan dengan anggun, elegan, dan hasil foto yang buruk. Gian melangkah lebar dan menempatkan Mayang dalam gendongannya ala gaya pengantin yang akan memasuki peraduan. Di depan orang pasti akan terlihat so sweet. Dan ada juga yang kepanasan.
"Mas—"
"Daddynya Twin kangen sama Maminya Twin. Kamu jalan kelamaan kek siput, Mam ... Daddy dah kangen pengen cium kamu." Gian menatap Mayang datar. Tidak tahu hati dan dada Gian yang sudah bergolak tak karuan.
"Kamu gila, Mas!" Mayang ingin menutup mata dan telinga. Pekikan dan cuitan menggema, belum lagi kamera yang mengarah pada mereka. Tatapan gadis dan mama muda yang memuja, berharap merekalah yang diperlakukan romantis seperti Mayang.
__ADS_1
"Mbakmu itu yang gila, kita udah kawin, May ... bukan perawan dan perjaka lagi saat nikah, masa harus dipingit segala? Sudah kusumpahi kakakmu itu, supaya percintaannya dihantui siksaan kerinduan. Biar tau rasanya jadi aku pas dipisahkan sama kamu."
Mayang tersenyum. "Biar pertemuan kita berkesan, Mas ... tapi bener kan? Kamu melihatku berbeda hari ini?"
Mereka berdua sampai di pelaminan. Bunga-bunga yang seharusnya di tabur di depan Gian dan Mayang saat berjalan, kini hanya teronggok di tangan dua gadis yang sudah bersiap di kaki panggung pelaminan. Tukang syuting melongo karena persiapannya untuk membuat momen resepsi ini seperti pernikahan negeri dongeng kandas sudah. Tim WO kelabakan, Kang Poto sibuk mengambil gambar, apapun momennya, wajib diabadikan, begitu pikir Kang Poto.
"Selama kamu pake baju, semua akan terasa sama saja." Gian mengecup pipi Mayang yang berpoles make up soft and natural.
"Dasar maniak!" Mayang mencubit dada Gian, dimana tangannya belum sempat berpindah. Tapi, kata-kata Gian membuat Mayang panas sebadan-badan.
*
*
*
kurang lebih kek gini make up Mayang, ya😄
__ADS_1