
Lea ambruk dan jatuh bersimpuh di kaki Mayang. "Jangan lakukan itu, Mbak!" pinta Lea. "Aku tidak akan ganggu Mbak Mayang lagi."
"Kamu pernah lebih parah dari ini saat memohon padaku, Lea ... Aku membiarkanmu, tetapi kamu masih begini jahat sama aku. Untuk kali ini, aku tidak bisa lepasin kamu begitu saja." Mayang berkata tegas, lalu dia menoleh kepada karyawannya yang sedari tadi menyimak penuh perhatian. Seakan takut ada kebenaran yang terlewat dari permusuhan ini.
"Mbak ... periksa apa yang dilakukan Lea tadi," perintah Mayang.
Lea meraih tangan Mayang, menggenggamnya erat. Itu sudah terkerat, dan mungkin sudah hampir putus. Jika Mayang melihat, Lea bisa dipenjara. Bagaimana nanti nasibnya. Tidak-tidak! Dia harus memohon pengampunan Mayang. "Mbak, ku mohon beri aku kesempatan memperbaiki diri, Mbak ... Aku janji nggak akan ganggu hidup Mbak Mayang lagi."
Mayang menepis tangan Lea dan menjauh dari jangkauan Lea. "Aku tak takut dikatakan kejam jika tidak memaafkanmu, Lea. Perbuatanmu sungguh tidak termaafkan. Jangan mencari simpati di depan banyak orang. Kamu tahu persis bagaimana kamu terus-terusan mencoba berbuat jahat padaku."
"Kabelnya seperti ini, Bu," sela karyawan Lea seraya menunjukkan kabel yang terkelupas, nyaris putus.
Gian sedari tadi terdiam, melihat Mayang dengan tatapan memuja. Hatinya yang penuh dengan perasaan bangga, tergerak untuk melihat kerusakan di toko istri tercintanya. Dengan menyentuh pundak Mayang, Gian mencegah Mayang mendekat.
Gian memeriksa kabel tersebut, lalu karena dia juga lupa mengamankan kabel-kabel itu saking sibuknya dengan berbagai persiapan resepsi, Gian menyuruh karyawan memutus aliran listrik ke freezer tersebut. Ia takut kabel itu akan menyebabkan konsleting mengingat tempat ini juga kerap basah.
"Ini guntingnya, Pak ...." Gunting yang dipakai Lea ketemu, dan diserahkan pada Gian.
__ADS_1
"Aku terserah sama kamu, Sayang." Gian menggoyangkan kedua bukti yang berhasil ditemukan. Meski tidak menimbulkan efek apa-apa, paling Gian hanya perlu membeli kabel baru.
Mayang membuang napas, menimbang sejenak baik buruknya keputusannya kali ini.
"Mbak ... Aku janji, Mbak. Aku bersumpah nggak akan ganggu Mbak Mayang lagi! Aku—"
"Mas, aku pinjam hapemu. Biar aku hubungi Mas Ferdi."
Gian buru-buru merongoh sakunya untuk mengambil ponsel dan menyerahkannya pada Mayang.
"Mbak—ku mohon, jangan hubungi Mas Ferdi, Mbak!" pinta Lea dengan air mata berderai. Beneran kalang kabut kalau Ferdi mengetahui ulahnya lalu menceraikannya. Lea tetap tidak bisa hidup tanpa Ferdi meski berulang kali dia bilang tidak butuh pria itu lagi.
"Jangan Mbak, saya akan ganti rugi semuanya, Mbak! Saya akan bertanggung jawab atas kerugian yang Mbak Mayang derita."
"Apa jaminannya?" tantang Mayang.
"Aku-aku ...." Lea sejenak berpikir. Dia tidak punya apa-apa, lalu apa jaminannya. "Aku jaminannya, Mbak. Kalau aku tidak menepati janji, silakan Mbak Mayang laporkan aku ke polisi. Iya—aku menjamin diriku sendiri."
__ADS_1
"Baik!" Mayang membuang napasnya kasar. "Semua yang ada disini saksinya. Rekaman video kali ini, akan menjadi bukti semua kejahatan kamu, Lea. Jika kamu mengingkari janji kamu, video ini akan membludak di media sosial. Kamu tidak akan pernah bisa selamat dari kecaman banyak orang."
"Iya, Mbak ... iya, aku janji nggak akan ganggu Mbak Mayang lagi." Lea meraih tangan Mayang dan menciumnya. "Makasih atas kebaikan Mbak Mayang."
"Sekarang kamu pergi dari sini, jangan sekalipun kamu menginjakkan kaki di tempat ini!" usir Mayang.
Lea berdiri terburu-buru, lalu dengan wajah tertunduk, ia meninggalkan tempat yang memberinya pelajaran yang tak akan dilupakannya seumur hidup.
"Kamu ngga apa-apa, kan?" Gian di belakang Mayang mengusap pelan lengan istrinya itu.
"Aku kayaknya butuh vitamin tambahan biar nggak suka marah-marah," jawab Mayang seraya merebahkan kepalanya di dada Gian yang bidang.
Ah, senangnya rasanya punya sandaran senyaman ini.
*
*
__ADS_1
*