Balas Dendam Istri Gendut

Balas Dendam Istri Gendut
Bu Mai Cemburu


__ADS_3

Gian berpikir dengan perginya Anggi, urusannya telah selesai. Hembusan napas Gian terdengar sangat keras, tampak sekali pria itu lega melihat Anggi kembali ke posisinya. Berharap Anggi memahami posisinya sekarang, berpikir dewasa dan mulai menata hidupnya lebih baik lagi.


"Ndak rela dia menjauh?"


Gian seperti tertohok batu di dadanya. Apa itu tadi barusan? Perlahan pria itu menoleh, tatapannya langsung bersiborok dengan wajah Mayang yang tampaknya cemburu. Bukannya dia tadi ikut mengusir Anggi? Membela suami dan terlihat bersemangat mempertahankan posisinya. Lalu kenapa masih judes begitu?


"Iklas lahir batin, Sayang." Berharap senyum dan sentuhan tangannya membuat Mayang kembali ke mode normal, Gian berusaha tidak membuat suasana hati bumil cantiknya itu kepikiran. Mungkin interaksinya dengan Anggi membuat Mayang terbakar cemburu.


"Lihatinnya sampai gitu banget!" Mayang menyipitkan mata. Dia kesal karena Gian tidak berusaha menyudahi salaman dari Anggi dan menatap mantannya itu sampai duduk kembali ke panggung di mana band berada. Jika saja dalam keadaan lebih personal, Mayang tak segan menyiramkan air pada muka Anggi. Biar saja dianggap lebay, tetapi mereka pernah menjalin sentuhan yang intens, mungkin saja perasaan Gian bangkit kembali setelah diingatkan sentuhan Anggi barusan. Semua berawal dari percikan kecil yang berubah jadi terbiasa, berakhir dengan tuman.


"Bukan gitu." Gian mengusap tengkuk hingga ke belakang telinga. Agak susah menjelaskan apa yang ia pikirkan soal Anggi. "Aku hanya nggak habis pikir, gimana bisa Anggi membohongi Qila selama hampir empat tahun lamanya. Jelas Anggi hamil setelah aku dan dia pisah ranjang. Kurang lebih empat bulan kita nggak ada komunikasi sama sekali, dan kita ketemu pas sidang putusan katanya dia hamil dua bulan. Kira-kira nih, Yang ... apa bibit bayiku punya kaki dan masuk ke rahim dia? Atau hamil bisa ditransfer prosesnya?"


Mayang menyipit tak percaya, tetapi Gian juga pernah bilang soal Qila, hanya tak menyebut sampai detil begini. "Yakin kamu nggak gatel karena empat bulan nggak asah golok? Kali aja kamu mabok, khilaf trus sambil merem datengin dia, gitu?"


Napas Gian terembus kasar. Ini pelaminan, harusnya mereka bicara hal yang menyenangkan, bukan berdebat soal khilaf yang ngaco begini. "Kamu pernah aku galakin kan sebelumnya? Ingat aku pas ngomelin kamu? Bayangkan aku kalau marah begitu, mana ada ruang buat inget gatel atau jatah, Mai ... kamu tau kalau aku marah itu melampiaskannya ke ngamuk, bukan bercinta. Apalagi sampai nyari wanita yang menghina aku seperti barang tak berharga. Ogah tauk! Sakit harga diriku sebagai suami dan lelaki, Mai. Aku dah korban banyak sama dia, tapi apa balasannya. Tidak sabar dan merendahkan aku dengan kata-kata hinaan yang menyakitkan."

__ADS_1


"Ya udah kalau gitu sekarang jangan tatap dia sampai ndak kedip begitu." Pikir Mayang, wajar dia cemburu, tetapi berlarut-larut juga tidak perlu. Gian juga sudah menjelaskan, jadi Mayang merasa lebih baik menyudahi saja. Mungkin benar, Gian tidak bersalah.


"Aku tadi hanya berharap Anggi cepat sadar dan memperbaiki diri, kasihan Qila. Selama ini aku hanya nggak tega sama Qila, makanya aku sering kunjungi dia, tapi pas Anggi nggak di rumah. Kebetulan aku bayar pembantunya buat jadi mata-mataku. Jangan sampai aku ketemu Anggi sehingga aku dimanfaatkan kembali." Gian menipiskan bibir, mengecup tangan Mayang berulang-ulang. Gian bertekat untuk membagi apa yang sudah diketahui Mayang, agar tidak ada masalah berlarut-larut.


"Udah sih, Mas ... malu tauk dilihat orang. Tuh, mantan kamu kebakaran karena sikap nggak tau malu kamu. Sebaiknya kita jaga sikap, biar dia ndak makin menjadi-jadi." Mayang menarik tangannya, tampak sudah lembut dan manja kembali.


Beberapa tamu kembali berdatangan setelah jeda beberapa saat, acara akan berlangsung sampai jam empat sore, dan jam-jam krusial ini agak berdesakan biasanya.


Kinasih yang duduk dipojokan belakang Anggi akhirnya memilih untuk bersalaman dengan Gian dan undur diri saja. Kejadian yang terjadi pelaminan tadi sedikit banyak mempergaruhi jalannya acara. Kinasih malu dan merasa kasihan pada Qila yang sejak tadi menjadi objek tatapan tamu yang melihat tindakan menjijikkan Anggi, bahkan Hadyan dan Sigit sampai maju untuk membuat Anggi menyerah.


"Nggak sopan, Nggi. Udahlah, kamu fokus kerja saja, jangan ajari Ibuk apapun, kayak Ibuk ini anak kecil saja." Asih menggendong Qila, namun tangannya ditahan Anggi hingga Asih kaget bukan main.


"Ibuk pulang!" perintah Anggi disela giginya yang beradu. "Aku suruh pulang ya, pulang! Jangan membantah atau Ibuk bakal kutinggalkan sendiri di rumah. Tanpa aku, Ibuk nggak akan bisa apa-apa buat nyambung hidup!"


Asih menatap anaknya kesal. Memang sejak ada Qila, Asih tidak lagi bekerja, sehingga ia hanya bergantung pada Anggi yang setelah Qila lahir menekuni profesi sebagai wedding singer. Berkecukupan memang, meski Asih bertanya-tanya berapa gaji penyanyi kampung seperti Anggi.

__ADS_1


Asih menghempas tangannya yang dicekal Anggi, "Ayo Qila, kita pulang!" kata Asih kesal.


"Tapi, Nek ... kata Ayah Qila mau dikenalkan sama mama baru Qila." Gadis kecil itu meronta dari neneknya, mata hitamnya beralih ke Anggi yang makin geram dengan ucapan Qila.


"Mama kenapa larang aku salim sama Ayah? Mama nggak sayang Qila!" Qila boleh bukan anak kandung Gian, tapi soal kuatnya pendirian pada keinginan, Qila dan Gian sama.


"Qila!" teriak Asih dan Anggi berbarengan. Namun Qila berlari menerobos tamu yang memadati ruangan ini, membuat Asih kesusahan mengejar. Mata Qila hanya tertuju pada satu titik yaitu ayahnya.


*


*


*


Maaf baru update🙏

__ADS_1


__ADS_2