Balas Dendam Istri Gendut

Balas Dendam Istri Gendut
Pak Dokter ... Oh, Pak Dokter


__ADS_3

Sepanjang jalan menuju Arumndalu, Mayang berpikir. Mungkin lebih baik dia berterus terang soal pembelian Arumndalu yang merupakan kebohongan belaka. Rasanya tidak enak membohongi orang tua sampai dia rela menjual harta warisan yang tersisa. Mayang masih punya nurani, meski Marini selama ini sering bersikap kurang baik padanya. Namun, mendengar Marini membelanya dan meminta putranya untuk mengakhiri hubungan dengan Lea, membuat Mayang tersentuh, yah, meski semua tidak merubah apapun yang telah ia putuskan.


Menurut Mayang, yang akan hidup dengannya adalah Ferdi, bukan Marini, jadi ketika Ferdi masih tetap menginginkan Lea, lebih baik dia yang mundur. Marini akan tetap bisa berhubungan baik dengannya meski bukan lagi sebagai mertuanya.


"Nduk, rasanya kalau udah mau jadi milik kita, kok, beda ya? Kaya gimana gitu, loh, Nduk ... ada rasa bangga, bahagia, dan opo, yo? Semacem dada Ibuk ini penuh dengan bunga yang mekar, gitu loh, Nduk." Marini mendeklamasikan isi hatinya. Gesturnya tak membohongi apa yang dia rasakan. Wanita tua itu benar-benar bahagia.


Mayang menghela napas, rasanya tak tega memusnahkan kebahagiaan Marini, tetapi jika Mayang tidak bicara terus terang, itu juga akan menyakitkan nantinya. Mayang juga akan kesulitan dan terbebani pada akhirnya. Sungguh Mayang tidak apa-apa dimaki dan dibenci, bahkan diusir sekalipun, malah dia akan senang karena proses perceraiannya jauh lebih mudah nantinya. Tetapi dia akan mulai dari mana? Tentang Ferdi kah? Mungkin tentang pencurian hartanya saja, Marini pasti akan kecewa dengan Ferdi jika sampai hal itu sampai ke telinganya.


"Nah, nah ... kita ke kursi kosong itu, Nduk ... karena kita masih pengunjung, kita ndak boleh sok. Biar saja nanti para pelayan itu syok melihat kita jadi bos mereka nanti. Jadi kayak di sinetron-sinetron iku, loh, Nduk."


Tangan Mayang ditarik paksa oleh Marini, sampai mereka duduk berhadapan di sebuah meja tepat ditengah-tengah ruangan, Mata Marini jelalatan mengagumi interior dan juga desain klasik rumah makan khusus olahan kambing dan domba ini. Mayang masih terpaku, sedang menyusun kata-kata yang tepat untuk mengatakan semuanya pada Marini.


"Pesan apa, Buk?" Suara pelayan lelaki membuat mereka berdua sama-sama terkejut. Mereka terhanyut dalam pikiran masing-masing.


"Em ... Ibuk pesen wedang ronde saja, soalnya ndak makan daging kambing, Yang." Marini gugup, tetapi dia dengan cepat menguasai diri.


"Eh, saya-saya ...sama dengan Ibuk saja, Mas."


Beruntung pelayan itu tersenyum dan tak keberatan dengan pesanan tersebut. Ke rumah makan hanya beli minuman saja? Kalau di tempat lain tentu akan diomeli, di sini beda tampaknya.


"Baik, Buk ... mohon tunggu sebentar," ucap pelayan itu seraya membungkuk sekilas, sebelum berlalu meninggalkan mereka.


Mayang menarik napas, menguatkan hati untuk memulai percakapan. "Buk ...," kata Mayang, seolah meminta perhatian Marini yang kembali memandangi rumah makan ini dengan senyum lebar.


"Yang, ada Pak Dokter." Marini menepuk tangan Mayang keras-keras, sebelah tangan yang lain dengan tidak sopan menunjuk pria yang merupakan Dokter Gian sedang menerima pesanan makanannya. "Konsultasi di sini ndak bayar, kan? Ibuk mau nanyain sesuatu ...." Marini bangkit tanpa aba-aba, menghampiri Dokter Gian.

__ADS_1


"Buk ... jangan! Itu ndak sopan," cegah Mayang, namun terlambat, Marini hanya berjarak dua langkah dari Dokter Gian, "Astaga, Ibuk!" Mayang kelimpungan. Bingung mengatasi keadaan yang Marini ciptakan.


"Nduk, sini!" panggil Marini yang membuat Dokter Gian memberi Mayang tatapan malas dan tidak suka. Entah apa masalah dokter jutek itu pada Mayang, sampai-sampai dia bersikap seolah Mayang telah membuat sang Dokter terkena masalah.


Mayang berjalan dengan enggan, mau tak mau dia akhirnya bergabung. "Buk, jangan ganggu orang lagi makan, ndak sopan," lirih Mayang. Ekor matanya mencuri-curi lirikan pada Gian yang melanjutkan makannya tanpa menghiraukan Mayang.


"Kata Pak Dokter ndak apa-apa, kok." Marini meyakinkan, lalu dia menghadap dokter tampan itu dengan senyum bak abg kasmaran.


Haih, Mayang menepuk keningnya saking jengah melihat tingkah itu.


"Dokter makan torpedo juga? Apa itu bisa meningkatkan kekuatan laki-laki, Pak Dokter? Jadi ndak bohong kan Ibuk, Yang, ini buktinya Pak Dokter dhahar juga ...." Marini bertanya, beralih-alih dari Gian ke Mayang. Heboh sendiri.


"Ferdi harusnya makan itu juga, Yang ... yang banyak biar kamu cepat hamil dan punya anak."


"Buk, udah ...." Mayang tak tahan lagi, "ayo kembali ke meja kita."


"Ndak mau," tolak Marini, "Ibuk mau nungguin Pak Dokter selesai makan."


Gian akhirnya mengelap bibirnya, mungkin telinganya penuh dengan ocehan Marini. Usai meneguk air putih di sebelahnya, Gian tersenyum dan berkata lambat-lambat.


"Bu ... anak Ibu tidak usah dikasih makanan yang aneh-aneh kaya begini secara berlebihan. Itu hanya mitos ... apa iya, biar jantan harus makan kejantanan hewan? Trus kalau jantungan, juga harus makan jantung hewan juga? Apa kalau sakit paru-paru juga harus makan paru-paru hewan? Lah kalau panuan? Kudisan? Apa coba yang mau dimakan?" Gian menggelengkan kepala, seolah menekankan betapa tidak related-nya semua itu. Mayang malu sekali dibuatnya, sampai-sampai dia tidak berani mengangkat muka.


"Anak Ibu ... cukup makan makanan yang sehat, gaya hidup yang sehat ... seperti tidak minum alkohol, tidak merokok, tidak begadang, dan jaga kebugaran dengan berolahraga rutin." Gian melanjutkan.


"Lalu Dokter makan makanan ini untuk apa? Suka saja atau punya tujuan?" Marini sedikit tidak suka dengan ucapan Gian.

__ADS_1


"Saya hanya suka saja, Bu ... ini hanya akan membuat perut saya kenyang," jawab Gian santai. Pria itu mungkin sengaja bicara menyebalkan agar Marini cepat pergi darinya.


"Udah, ya, Buk ... itu minumannya udah siap." Mayang kali ini memaksa, dia menyeret tangan Marini dan membawanya kembali ke meja. Hasilnya, Marini merengut karena tersinggung.


"Dokter, sih, dokter, tapi namanya juga usaha, itu kan kata orang dulu-dulu. Buktinya ada Ferdi juga karena bapaknya sering makan makanan kaya gitu." Marini mencebik sinis dengan lirikan tajam penuh dendam pada Gian. "Ibuk mau ke toilet sebentar ...." Marini bangkit dan berjalan dengan kibasan sinis ketika melewati meja Gian lagi.


Mayang hanya menggelengkan kepala seraya menghembuskan napasnya yang semula sesak. Aroma wedang ronde ini sungguh membuat Mayang ingin menikmatinya, tetapi ia sayang pada lidahnya yang mulai terbiasa dengan makanan yang tidak manis.


"Hei, Bro!" Mayang menoleh ketika ia mendengar suara Axton, pelatihnya. Mayang hendak menyapa namun urung kala melihat pria itu menghampiri Gian.


"Wah ... dokter yang nggak percaya kalau torpedo menambah stamina, akhirnya makan juga setelah loyo saat sparing denganku," ledek Axton. "Jangan banyak-banyak, nanti kerepotan sendiri, apalagi belum punya istri," sambungnya seraya terkekeh.


Mayang tertawa sampai menutup mulutnya, entah mengapa melihat ekspresi muram dan kesal Gian, Mayang merasa senang dan puas. Pak Dokter letoy juga ternyata, batin Mayang tanpa menghentikan tawanya.


*


*


*


*


*


Pernah dengar mitos kaya gini, ngga?

__ADS_1


__ADS_2