Balas Dendam Istri Gendut

Balas Dendam Istri Gendut
Namanya Juga Terlalu Gembira, Mas!


__ADS_3

Apa yang terjadi di depan sana?


Mata Djarot dibuat melebar sampai nyaris jatuh saat melihat Rully melompat ke pelukan dokter. Apa dia se-humble itu pada orang lain? Pada pria juga? Jauh-jauh datang, mengemudi secepat yang dia bisa, menahan sesuatu yang terus-terusan berdiri jika ingat pesan dan foto sialan yang dikirimkan Rully ini sepanjang jalan, tetapi malah melihat hal ini? Apa Djarot masih tidak bisa disebut pria dengan kendali diri yang kuat, karena tidak membanting pria yang dipeluk Rully ke lantai?


"Eh, Mas!" Rully menjauhkan dirinya dengan senyum bodoh yang menghiasi bibir. Sumpah mati, jantung Rully pasti jatuh dan menggelinding jika saja tidak berpegangan dengan benar pada urat nadi buatan Tuhan. Mungkin akan kain ceritanya jika arteri manusia berlabel made in China.


"Anu, Mas ... aku kelewat gembira bayinya Mayang udah lahir dan sehat semua."


Djarot tidak terlalu menggubris, dia masih melangkah agar sedikit lebih dekat dengan istrinya itu. Semua orang juga bergembira, tapi tidak seheboh itu.


Tangan besar Djarot yang berkeringat itu menarik tangan Rully kuat-kuat. Membuat Rully meringis saking sakitnya. Tapi dia tidak berani mengeluh. Malah mendesah, sampai membuat dokter itu menelan ludah dan mengedipkan mata.


"Apa dia lebih panjang dan lebih kekar sampai kamu nggak sabar nunggu aku datang?" Mata Djarot yang tajam itu menghujam Rully tanpa ampun dan kejam.


"Apa?!" Rully memerah seluruh wajah sampai ke telinga dan leher. Ini kan ada orang, masa bicarain barangnya sendiri sampai seterbuka ini?


"Kelihatan sekali dia tidak seberapa dibandingkan aku." Mata Djarot melirik dokter yang bingung itu lalu membawa Rully menjauh.

__ADS_1


"Mas ... jangan begini lah! Malu dilihat orang. Kaya aku ini udah selingkuh saja?"


Djarot menghentikan langkah, lalu memutar badan menghadapi Rully. Tatapannya masih tajam saja.


"Kalau aku nggak datang, kamu pasti udah kemana-mana!"


"Nggak mungkin lah." Rully cemberut, lalu mendekati Djarot untuk mengusap lengannya. Untung lorong ini cukup sepi. Jadi Rully bisa tetap sok manis membujuk Djarot.


"Aku nggak tahu arah di sini, Mas ... jadi aku nggak mungkin kemana-mana." Rully tersenyum menggoda. Sengaja membuat Djarot makin kesal, dengan begitu akan ada sesuatu yang dahsyat terjadi setelah ini.


Sayangnya, Djarot selalu masuk dalam jebakan Rully. Sekarangpun demikian. Djarot langsung menarik tangan Rully kuat-kuat hingga sampai di parkiran rumah sakit. Suasananya cukup sepi mengingat ini sudah malam sekali. Hanya ada satu dua orang yang berada di sana dan jaraknya tidak terlalu dekat. Lagipula, Djarot tidak akan peduli mau ada orang atau tidak, dia hanya ingin membuat Rully selalu ingat untuk jaga jarak dengan makhluk berjenis kelamin pria.


Djarot peduli memangnya. Dia sudah menguatkan diri sejauh ini, dan Rully memancingnya.


Ciuman yang memang terkesan brutal. Sangat brutal sampai bibir Rully terasa ngilu. Bahkan dia menyentak pakaian Rully hingga bagian kakinya terbuka. Djarot melepaskan ciuman untuk mengarahkan ujung tubuhnya menumbuk wanita kurang ajar ini.


"Mas ... sakit." Rully membelalak saat merasakan benda tumpul itu seakan memiliki ujung yang tajam dan runcing. Di sana, dia merasakan sakit yang luat biasa.

__ADS_1


Djarot mendengarkan? Tidak ... dia punya seribu cara untuk membuat Rully basah dan mudah menerima dirinya, tapi kali ini, Djarot menikmati kesakitan di wajah Rully. Berasa masih perawan setiap hari.


"Mas ...!" Rully kelabakan sendiri saat Djarot terus saja mendesak tanpa memikirkan bagaimana dirinya yang kewalahan memuluskan benda itu memasukinya.


Djarot kembali mencium Rully, sebelum kembali menggila. Pria ini lepas kendali. Satu sisi yang dulu membuat Djarot takut memulai hubungan. Djarot pencemburu akut dan dia tidak bisa mengendalikan sifat dirinya yang seperti itu.


Anehnya, Rully malah mengatakan sesuatu yang mendukung kegilaan Djarot yang ini. Setelah kesakitan beberapa saat, wanita itu tidak bisa menolak kenikmatan yang Djarot berikan.


"Don't stop, Mas ...."


"As you wish ... tentu saja!" Senyum Djarot yang begitu licik muncul begitu saja saat mendengar itu.


Djarot mengencangkan lajunya menusuk Rully, membuat Rully tersentak-sentak keenakan. Mungkin cara seperti ini memang disukai oleh wanita berkarakter ceria seperti Rully. Wanita ini punya kesukaan yang unik dan Djarot menyukainya.


Mungkin, jika bukan Rully ... Djarot tidak akan segemas ini. Bahkan pada saat tertentu, Djarot ingin menelan Rully bulat-bulat, atau meremukkan tubuh ramping itu dalam sekali tekanan. Rully di mata Djarot mirip seperti squezee berukuran jumbo. Selembut slime bertabur gliter. Sekenyal yupi dengan rasa stroberi, sehingga gigi Djarot terasa gatal jika tidak mengunyahnya sampai *****.


Djarot menggigit kemejanya hingga tersingkap ke atas, menampakkan buku-buku perutnya yang luar biasa menawan dan tegang. Dia tidak bisa bertahan lebih lama jika dalam kemarahan yang membuncah, tetapi cukuplah keringat yang membasahi mereka berdua membuktikan betapa kerasnya percintaan mereka.

__ADS_1


Untung mobilnya punya kaki dan daya pantul yang prima, kalau tidak pasti sudah terbalik.


__ADS_2