Balas Dendam Istri Gendut

Balas Dendam Istri Gendut
Nunggu Jatah


__ADS_3

Sekitar jam tujuh malam, ketika Djarot hendak menyudahi pekerjaannya, Riska datang dengan setumpuk surat yang membuktikan dia adalah pemilik resmi sebidang tanah dekat pasar besar kota ini. Sudah lama sekali tanah itu menjadi masalah pemda, Riska bisa ikhlas jika saja beberapa pihak tidak menyudutkannya, termasuk Mardian, mantan suaminya sendiri.


"Urgent, ya, Mas Djarot." Riska masuk ke dalam ruang tamu kantor Djarot dengan seorang asistennya.


Djarot bisa apa, dia harus profesional, kan? Walau dia nanti akan mendapat tatapan kesal dari Rully. Malam ini dia sudah janji untuk kasih jatah setelah dua hari off.


"Saya rasa ada unsur balas dendam pada masalah ini, Mas." Riska menunjukkan selembar sertifikat atas nama ayah Riska, "Mantan suami saya sepertinya mendalangi gugatan beberapa orang yang merasa tanah itu adalah hak milik mereka."


Riska juga menunjukkan surat resmi yang keluar dari notaris perihal penyerahan warisan tersebut dan surat jual beli ayahnya dengan pemilik sebelumnya. "Saya minta Mas Djarot periksa surat-surat ini beserta keasliannya, saya takut kalau nanti di persidangan saya kalah dan Mas Djarot akan malu."


Djarot tersenyum setelah memeriksa surat-surat tersebut. "itu--kalah menang, sudah hal biasa, Bu. Tapi kalau Ibu kalah, yang kasihan adalah Ibu. Sejauh ini bukti yang Ibu berikan selalu akurat dan saya tidak ragu sama sekali mengingat bapaknya Ibu punya tanah yang banyak di beberapa tempat."


"Ya, tapi saya kan tidak paham darimana Bapak dapet tanah itu, Mas. Jadi saya khawatir, kalau mereka menang gugatan, dan Mas Mardian yang akhirya beli tanah itu dari mereka. Padahal sebelum-sebelumnya Mas Mardian adem-adem saja ketika saya kasih lihat tanah itu."


Djarot memeriksa berkas-berkas tersebut sekali lagi dibantu oleh asisten Riska. Di kaca mata Djarot, semua surat itu asli dan terbit dari pemerintah. Mengenai beli dari mana, itu tidak penting selama ada surat-surat jual beli yang disaksikan oleh perangkat desa setempat. Riska seharusnya tidak usah kuatir, kan?


"Bu Riska tidak perlu khawatir, kita bisa maju melawan tuntutan mereka." Djarot belum memeriksa semuanya, dia sudah sangat lelah hari ini, tapi Djarot bisa menjamin keaslian surat tersebut. Maklum sejak Rully hamil, dia jadi sedikit loyo dan mudah lelah. Dia juga menjadi pria mageran, jika weekend dia biasa jogging, sekarang lebih banyak di rumah, selain malas, Rully juga selalu mengerjainya.


"Ya, saya khawatir, Mas ... itu kan masa depan saya yang paling menjanjikan. Apalagi kalau pemda jadi melakukan perluasan pasar, kan saya juga untung besar." Riska berkelakar, yang diangguki Djarot.


Sepadan sih, harganya sangat tinggi, jadi jika sekarang dia harus membayar Djarot 100 juta juga tidak masalah. Dan wajar jika Mardian menginginkan sekarang, sebab dulu dia pernah merasa memiliki tanah tersebut dan bergaya jika dibercandai betapa kaya seorang Mardian.


Pintu kantor Djarot didorong dari luar, menampakkan Mardian yang berekspresi tajam. Namun ketika melihat Riska, wajahnya berubah menjadi pucat dan pias. "Maaf, saya lancang masuk kemari tanpa mengetuk dulu."


Riska berdiri dan menatap mantan suaminya marah. "Kamu kalah langkah, Mas!"


Djarot juga ikut berdiri dengan helaan napas berat. Dia menduga mereka akan bertengkar sengit di sini. "Jam kerja saya sudah habis tiga jam lalu, Pak Mardian. Bu Riska tamu pribadi saya untuk saat ini."


Mardian berjengit marah mendapat pengusiran angkuh seorang Djarot. "Cih ... saya bisa kerjasama dengan pengacara lain yang lebih hebat dari kamu."


"Bagus ...! Silakan pergi dan cari pengacara itu!" Djarot tersulut. Dia membuang napas karena merasa ini juga akibat kehamilan Rully. Dia menjadi sangat sensitif dan mudah marah.

__ADS_1


"Mas ... sebaiknya kamu berhenti dan membuang-buang uang. Kamu punya anak yang harus kamu nafkahi, dan punya istri muda yang butuh perawatan spesial darimu." Riska menyindir. Ya, karena Anggi sedang di rawat di rumah sakit jiwa, sebab dia tak mengenali siapa-siapa selain Gian.


Mardian membuang muka setelah menatap penghuni ruangan dengan penuh kemarahan.


***


Sudah jam 10 malam dan Djarot belum juga pulang. Entah bagaimana menyebutnya, karena tempat kerja hanya berbeda lantai saja dari kamarnya. Jujur saja, sejak dinyatakan hamil, Rully jadi lebih banyak menginginkan suaminya dari biasanya. Dan tampaknya, Djarot sedang sibuk sekali dengan adanya kasus yang harus ditangani.


Perut Rully hanya menonjol sedikit saja meski usianya sudah 4 bulan, hanya mirip seperti orang kekenyangan atau orang yang dua hari tidak buang hajat. Tidak ada yang istimewa dari kehamilannya. Walau dia senang, tapi dia kasihan pada suaminya yang harus muntah pagi-pagi sekali, tidak bisa makan makanan tertentu, dan benar sekali, Djarot yang tidak suka rujak, sekarang suka sekali dengan yang namanya rujak. Bahkan dia menyediakan bumbu rujak di kulkas agar jika sewaktu-waktu ingin makan, tinggal mengupas buah saja.


Derap langkah terdengar, Rully segera membuka pintu kamar lebar-lebar. Menyambut suaminya pulang. Djarot tampak lesu dan kusut. Berat badan pria itu turun banyak sebulanan ini. Ya ampun ... jangan sampai jatah yang udah dua hari ditunda ini gagal.


"Kenapa, Mas?" Rully dengan perhatian mendekati Djarot, lalu membawa suaminya duduk di sofa depan tivi. "Ada masalah?"


"Bu Riska urusannya belum selesai soal tanah sengketa itu, lalu ada sedikit masalah di pembangunan rumah sakit Gian. Tadi kita bicara soal itu." Djarot mencium pipi Rully yang tampaknya sudah diberi krim malam. Pria itu mengerutkan kening, tidak suka.


"Jangan pakai krim itu ... pahit kalau kejilat." Djarot protes.


"Pakainya kalau aku abis cium kamu aja." Djarot menjatuhkan kepalanya di sandaran sofa yang sudah diberinya bantal. Dia pasrah setiap kali Rully membuka bajunya. Ya, awalnya cuma endus-endus tak jelas yang bikin dia geli dan berdiri, lalu turun kebawah, dan berakhir dengan bercinta. Tapi hari ini, bolehkah mereka tidak melakukannya? Ayolah, dia sangat lelah.


Rully menggigit bibir saat mulai merangkak naik ke pangkuan suaminya. "Mas ... kok diem aja?"


"Mas capek, Sayang." Djarot mencoba memberi penjelasan selembut mungkin agar Rully tidak tersinggung atau terluka harga dirinya jika ditolak. "Besok pagi saja gimana?"


"Oke aku mengerti ... aku aja yang bekerja, Mas diam saja." Rully mengangguk paham, lalu mendekati telinga Djarot. "Meski lelah, dia tetap tegak dan keras, Mas. Jangan sampai aku berakhir dengan timun atau terong, ya, atau lebih buruk, aku beli karet buat gantiin kamu!"


Djarot membeliak. "Yang lelah kan badan sama tangan yang diajak kerja sama dengan dia. Dia sendiri seharian diam saja, tidur kaya terong dikukus, jadi kalau kamu pancing-pancing ya tetap bangun dan keraslah."


Rully terkekeh geli sekaligus kesenangan ketika ancamannya bekerja dengan baik. "Aku bisa atasi ini, Mas."


Rully segera turun dari pangkuan Djarot dan mengunci pintu. Dia berniat melakukannya di sofa saja, tidak ke kamar. Dia takut kalau Roni masuk kapan saja ke kamar paling luas di rumah ini, bahkan lantai atas ini nyaris hanya berisi kamar Djarot dan ruang berolah raga saja.

__ADS_1


"Oke ... lets play, Baby." Rully menurunkan resleting celana suaminya, lalu menikmati sesuatu di antara kaki suaminya itu dengan mulutnya. Dia tahu, cara ini paling efektif jika ingin permainan cepat tetapi tetap memuaskan.


Dan meski Djarot sedang lelah, tetap saja bibirnya dengan tenang melenguh dan meracau. Rully memang terbaik untuk urusan membuatnya keenakan. "Cukup, Sayang!"


Rully segera menarik dirinya dan menaikkan baju tidur yang dikenakannya. Dia menggigit ujung bajunya agar tidak mengganggu ketika mereka bersatu.


Djarot terpesona melihat ulah Rully, gerakan menggigit ujung gaun itu sangat seksi sekali. Djarot menelan ludah, sambil mengarahkan pinggang Rully dengan benar. Matanya tak lepas menatap gerakan bibir Rully yang sedikit tertutup oleh renda baju.


"Dia bisa membuatku gila." Djarot membatin, seakan apa yang dilakukan Rully di depannya ini selalu berhasil menyulut energi baru ditubuhnya.


"Mas ... jangan dalem-dalem. Kayaknya bayinya udah gede, jadi berasa gimana gitu kalau kamu kedaleman." Ujung kain itu jatuh, tetapi Djarot segera mengangsurkan lagi ke bibir Rully.


"Gigit dengan kuat!" Djarot tidak peduli, "Ayo, mulailah pekerjaanmu!"


Rully melebarkan matanya saat Djarot malah mendesakkan barangnya lebih dalam. Dia susah mengeluh saat bibirnya penuh. Perlahan dia mulai bergerak.


Mata Rully berair, kepalanya menggeleng, ya ampun dia tidak kuat. Tetapi meski Djarot tidak mengubah temponya yang cepat dan keras, bayinya baik-baik saja. Rully bersyukur, dia hanya perlu periksa sebulan sekali dan Gian akan menjadi tempat pertamanya bertanya, bahkan hal paling memalukan sekalipun.


Djarot tidak bisa sedikit saja lebih lembut meski katanya dia lelah. Semuanya masih sama hanya saja mereka tidak sesering dulu melakukannya. Dia takut bayinya syok karena diguncang terus. Mungkin lemas dan rasa cepat lelah yang dialami Djarot ini ada hikmahnya juga, setidaknya dia tidak menyerang Rully berlebihan.


"Mas ...." Bibir Rully memang berisik kalau keenakan, jadi Djarot membungkamnya. Biasanya, Rnanti ully sudah akan sampai kalau sudah memanggil namanya.


"Mas, nanti nambah lagi, ya."


Djarot membeliak, menatap istrinya tidak percaya. Astaga ... ini saja belum keluar Rul! Djarot menepuk keningnya kuat-kuat.


*


*


*

__ADS_1


Halo, maaf baru update lagi.


__ADS_2