
Lea tak bisa berkutik lagi dalam cengkeraman Gian. Jika dulu Lea sempat berharap dia disentuh Gian, kini ia mengutuk keinginannya itu. Bahkan Lea ingin menjauh sejauh-jauhnya dari Gian sekarang.
Wajah Lea berubah-ubah seiring jalan pikirannya menerka. Dia berubah pucat pasi jika ingat kemana Mayang akan melemparkannya, tetapi ketika mendapat tatapan dari orang-orang yang ada di sini, Lea menjadi semerah darah. Perasaannya sangat campur aduk, sehingga ia ingin muntah rasanya.
Gian menghadapkan Lea pada istrinya yang terlihat murka. Meski meronta, namun delapan Gian bukanlah tandingannya.
"Apa mau kamu sebenarnya, Lea?" tanya Mayang. Ia mencoba menepis umpatan kasar yang menurutnya akan membuat dirinya malu. Gian juga.
Lea menatap Mayang sarkas, kebencian memenuhi garis wajah Lea yang tirus. "Mau tau apa mau ku?" geram Lea teredam.
__ADS_1
"Kamu mau tau apa mau ku, Mayang?" ulang Lea dengan teriakan yang menggema di toko Mayang yang tertutup, namun di luar banyak kepala yang menyaksikan. "Aku mau semua yang ada padamu, pindah ke aku! Aku mau kau yang mendapat hina karena merebut kekasihku!"
Sontak tatapan semua orang beralih ke Gian. "Eh, aku bukan kekasihnya!" protes Gian tak terima. "Kenal saja enggak!"
"Aku tidak merebut Mas Ferdi, Lea ... tapi Ibunya Mas Ferdi yang menjodohkan kami. Mas Ferdi mau dan mendatangiku, aku sama sekali tidak pernah menawarkan diri padanya. Dia datang, memberiku perhatian, kata-kata manis, dan janji menikahi. Aku sama sekali tidak tahu kalau kalian ada hubungan, Le! Kamu juga tahu bagaimana aku dulu, kan? Kamu jangan mengarang cerita kalau aku merebut Mas Ferdi dari kamu, Lea."
"Jangan membela diri, kamu, Mayang! Pasti kamu tahu kalau aku pacar Mas Ferdi. Dan kamu pasti tidak suka dengan hubungan kami dan kau merebutnya! Jangan mengelak hanya agar aku terlihat salah di mata semua orang!" Lea ini memang sedang menyanggah keadaan. Dia tentu tidak akan mau jatuh malu begitu saja.
"Kamu tetap bersama Mas Ferdi meski aku sudah dan menjadi istrinya, benar kan? Lalu kalian berdua bersekongkol untuk menjatuhkan usaha-usahaku. Apa aku masih jahat jika memecat pencuri di tempat usahanya?" sambung Mayang lagi. Meski marah, dia tetap terkendali.
__ADS_1
"Tapi kamu mengambil uang itu kembali, dan membuat kami miskin sekarang!" teriak Lea. Entah apa yang ada di pikiran wanita itu.
"Itu artinya, kalian tanpa aku bukan apa-apa, Lea. Aku adalah tandem hidup kalian berdua. Gaya hidup kalian berdua, berasal dari jerih payah wanita yang kalian pecundangi. Apa ada manusia yang tidak tahu malu dan tidak punya perasaan seperti kamu?" sodok Mayang dengan telak. Dan Lea benar-benar pucat sekarang.
"Aku bicara fakta yang ada, Lea. Ku harap kamu berhenti sampai di sini, jika tidak kejahatanmu akan aku bongkar semua disini bersama bukti-buktinya. Jika hukum penjara tidak membuat mu takut atau jera, maka hukum sosial media yang bekerja. Lihatlah, semua orang sedang merekam. Aku bisa memberikan mereka uang, agar terus menaikkan video ini ke seluruh lini media!"
Lea menelan kembali ucapan yang muntab di ujung lidahnya, menelan kembali dalam-dalam jauh ke dalam perutnya. Sial!
*
__ADS_1
*
*