
Marini mengomel sembari berjalan, lalu saat tiba di hadapan Mayang, Marini langsung mengait tangan wanita yang dipikirnya masih jadi menantunya.
"Itu lihat, Yang ... mereka semena-mena sama aku! Kamu pecat mereka saja, ya ... Ibuk ndak suka sama orang kaya mereka. Makan gaji buta saja." Marini melirik Gian san Asminah yang berjalan pelan mendekati Mayang.
"Nanti uangmu habis buat bayar mereka!" Marini menambahkan. Ekspresi tidak rela muncul begitu jelas di mata Marini.
"Ibuk dah makan?" Mayang menatap ibu mantan suaminya ini dengan iba. "Mas Ferdi kemana emangnya, Buk? Kok ndak jagain Ibuk?"
Barusan Marini mengadu, mengadukan suami dan pembantunya seperti anak kecil yang habis dijahili teman mainnya. Tetapi ketika Mayang menanyakan makan, Marini langsung ingat, dia belum makan hari ini. Awalnya dia sudah ingin memarahi Mayang karena sama sekali tidak menanggapi aduannya, tapi ingat kalau Mayang punya restoran dengan makanan enak, Marini segera mencebik dan mengangguk.
"Ibuk pengen soto, Yang ... yang dikasih perasan jeruk nipis dan kerupuk udang yang banyak." Kepala Marini menoleh ke pintu ruang tamu rumah Mayang, "Ibuk makan di dalam, kan, Yang?"
Mayang mengikuti tatapan Marini, tetapi dia menggeleng. "Makan di rumah Ibuk saja, ya, Buk ... nanti sotonya Mayang kirim sekuali."
Ya, bukan apa-apa sih, dia takut Marini makin melunjak. Di dalam banyak pekerja, dia takut kalau Marini akan mengomel dan membuatnya sungkan. Ya, gimana ... Marini hanya bekas mertuanya saja. Ini rumahnya, dia punya hak. Dibilang sombong ya, nggak apa-apa, toh dulu mereka juga semena-mena.
"Tapi kalau ini rumahmu, artinya ini rumah Ferdi juga, kan?" Marini seperti merasa pilu karena tersisihkan, matanya mengiba.
"Ini rumah Mayang sendiri, Buk ... Mas Ferdi sudah bukan suamiku lagi." Mayang masih tersenyum, seraya mengusap perutnya. "Dan, kalau aku sama Mas Ferdi, aku ndak bakal hamil begini."
Marini menatap perut Mayang. Dia seperti ingat sesuatu, lalu menangis. "Apa dosa Ibuk ke kamu sangat ndak bisa dimaafkan, Yang? Ibuk dihukum Gusti Allah, yo? Ibuk bakal sujud di kaki kamu supaya Ibuk ndak dihukum Gusti Allah, dan ndak dibuang sama kamu, Yang. Ibuk susah sejak kamu jauhin Ibuk. Ferdi juga. Dia jarang nengok Ibuk."
Marini sudah duduk dan menyentuh kaki Mayang. Tetapi Mayang menghindar. "Dosa dan hukuman itu hanya Ibuk yang tahu. Aku ndak pernah minta Ibuk jadi begini. Cukup aku keluar dari rumah Ibuk saja, aku udah seneng."
__ADS_1
Marini menjadi sangat ingat saat dirinya memaki-maki Mayang. Menjadi ingat semuanya secara utuh. "Maafkan Ibuk, yo, Yang ... Ibuk salah sama kamu."
"Saya udah maafin Ibuk, sekarang Ibuk berdiri, dan biar diantar supir ke rumah Ibuk. Sekalian sama sotonya."
Mayang mengedip ke arah Gian, memberi isyarat agar dirinya mencarikan supir dadakan untuk mengantar Marini pulang. Gian membuang napas. Tentu dia tidak punya pilihan, apalagi Marini tampak patuh pada apa yang diucapkan Mayang.
Gian barusan mengangkat kaki saat dari luar pagar, datang dua orang yang tergopoh-gopoh mendekat.
"Ya ampun, Mbak yu di sini, toh." Itu suara Bulik Nungki dan suaminya. Bulek yang begitu nyinyir mulutnya pada Mayang. Yang mengatakan Mayang itu musibah bagi Ferdi.
"Wah, kebetulan sekali." Gian berterus terang saat Nungki mendekati Marini dan menarik wanita tua itu dengan kasar.
"Lain kali dijagain, dong. Ini bikin repot orang saja." Gian menyindir. Dia sedikit mengerti dari tatapan Mayang yang mendadak tajam saat Nungki masuk ke halaman. Mungkin mereka pernah terlibat insiden sakit hati yang berlebihan.
"Mayang itu mantan mantu Mbak Yu, mau kaya apa Mas nya menyangkal dan bilang merepotkan? Dulu Mayang juga pernah merepotkan Mbak Yu, jadi apa salahnya sekarang saling bantu dan balas kebaikan Mbak Yu?" Nungki menatap Gian dengan galaknya. Dia tidak takut sama Gian. Toh dia hanya suami Mayang. Dan dia tau, ini rumah kepunyaan Mayang.
"Bulek jangan asal. Aku ndak pernah merepotkan Ibuk, tapi Ibuk dan kalian yang selalu merepotkan saya. Suami saya bilang apa adanya, dan itu benar. Ibunya Mas Ferdi sudah mengganggu ketenangan kami. Ketenangan yang kalian semua dulu selalu bicarakan." Mayang tampak emosi.
Nungki dan suaminya terdiam. Tidak disangka Mayang akan berkata begitu.
"Kamu ini emang ndak punya hati, Yang ... untung aja kamu dan Ferdi udah cere! Kalau ndak, kamu akan jadi petaka di keluarga kami!" Nungki balas menatap Mayang, tak kalah sengit. Walau yang dikatakan Mayang itu benar, tetapi mana boleh Nungki kalah saat berdebat dengan orang lain?
"Justru aku yang merasa keberkahan berjauhan dari kalian! Aku merasa dijauhkan dari keluarga penuh trik licik semacam kalian! Kalau ndak, aku pasti ketiban bencana seumur hidup dengan nanggung gaya hidup kalian yang sok elit!"
__ADS_1
Gian tercengang. Mayang bukan lagi mengomel tatapi sudah masuk dalam kategori war. Mayang tampak keren. Gian sampai kesengsem sendiri. Duh, Mayang ... si imut udah naik nih hanya karena lihat kamu begini.
"Kami memang keluarga yang elit dan berharga! Kamu ndak boleh merendahkan kami, Mayang!" Nungki menuding Mayang tepat di hidungnya, lalu tangannya yang kurus dan panjang-panjang itu menarik Marini dengan kuat.
Tatapan tajam Nungki belum beranjak dari muka Mayang yang terlihat tenang dengan senyum meremehkan muncul di bibirnya.
"Yah ... seharga baju sama tas KW kalian itu, kan? Saking elitnya bahkan sampai tega morotin mantunya, tega nyuri uang istrinya. Haha, aku baru sadar betapa gaya elit kalian tak sebanding dengan ekonomi kalian yang sulit!"
Mayang mencebikkan bibirnya, lalu mengatakan keras-keras apa yang menjadi keinginannya selama ini.
"Bulek Nungki, kalau Bulek lupa, biar saya ingatkan! Itu cincin dan gelang di tangan Bulek, suratnya ada di saya! Harusnya Bulek malu loh, kesini buat maki-maki aku tapi masih pakai barang yang aku kasih? Masih mau bilang elit dan berharga lagi di depan saya?"
Nungki terdiam, pun dengan suami Nungki. Tangan wanita itu mengepal. Apa demi gengsi dia harus melemparkan semua itu ke depan Mayang? Atau biarkan saja seolah-olah dirinya tuli? Ini lumayan harganya, bisa sampai sepuluh jutaan. Dan modelnya ini sangat klasik juga nyaris tidak bisa ditemukan perhiasan lain yang sama. Ini adalah kebanggan Nungki satu-satunya.
"Tolong Mbak Yunya di jaga, ya, Bulek. Ini nanti akan saya kirimkan soto sesuai apa maunya Mbak Yunya Bulek! Perhatikan makannya, Bulek. Kalau mau, aku bisa suplay makanan setiap hari ke rumah Ibuk ...."
Nungki sejenak bimbang, ini tawaran atau jebakan?
"Itu kalau masih punya muka, sih." Gian menyeletuk dengan entengnya. "Abis ngata-ngatain masih juga minta makan."
Nungki terdiam, dengan tubuh gemetar. Astaga ... kenapa dia jadi orang yang diolok-olok? Kan dia hanya ikut-ikutan?
Sekilas Nungki melirik Marini yang tertunduk lesu. Matanya tampak kosong. Jika boleh, Nungki ingin jadi pikun kaya Mbak Yu Marini saja. Kayaknya ndak tahu malu juga sah-sah saja.
__ADS_1