
Mayang dibuat tak bisa berkata-kata melihat stok sayurnya membusuk sebagian. Daging juga bukan kualitas yang nomor satu seperti biasanya. "Ini yang anter pedagang sayur dan daging biasanya, kan, Mbok?"
Mbok Darmi sedikit ketakutan melihat Mayang yang tampak syok. "Mobilnya iya, Nduk ... tapi yang antar udah beda. Katanya sopir baru."
Mayang menghela napas dalam-dalam. "Kalau ngurusin ini terus, kita ndak bisa kerja hari ini, Mbok ... udah, biarkan saja ini begini dulu ... biar saya hubungi penjualnya saja. lagian barang masih utuh dan ndak ada yang nyentuh kan?"
Darmi mengangguk. "Ndak ada, Nduk ... kami emang sengaja nunggu kamu datang buat cari pertimbangan langkah selanjutnya."
"Udah sekarang kita kerja lagi aja, Mbok ... biarkan saja ini begini." Mayang memegang bahu Darmi dan membawa wanita berumur itu kembali ke dapur.
"Ngomong-ngomong, Mas Ganteng itu tadi siapa?" Darmi menyenggol Mayang. Tatapan wanita itu begitu penuh arti dan terlihat menggoda Mayang. "Tiga bulan lepas, udah dapet ganti aja, Nduk ... lebih ganteng pula. Mbok kalau masih muda aja kesengsem sama yang modelan begitu, murah senyum dan ramah sama Mbok."
Mayang memajukan bibirnya. "Dia hanya tetanggaku aja, Mbok ... kebetulan mungkin mau makan di sini." Mayang enggan menanggapi perkataan Darmi. Bisa panjang ceritanya nanti.
"Calon suami juga ndak apa-apa, Nduk ... kamu berhak dapet yang lebih baik, dapet suami yang bisa bahagiain kamu." Darmi mengusap lengan Mayang. "Sudah sana, temenin tetangga kamu itu."
Mayang memang ingin ke dalam, tapi bukan ingin menemani Gian. "Kan saya mau nelpon Pak Bakul sayur dan daging, Mbok ... buat apa saya nemenin dia? Orang udah gede, mana siang begini, jadi ndak mungkin dia takut kan, Mbok ... lagian ndak ada hantu yang bakal nyulik dia."
"Haduh, kamu ini, Nduk ada-ada saja, mana ada hantu yang bakal nyulik orang, apalagi yang seganteng dia, yang ada diculik emak-emak buat dijadiin mantu." Darmi menyilakan Mayang meninggalkannya, ia tahu Mayang sibuk sekali hari ini, jadi dia tidak berniat menggodnya berlebihan.
Mayang segera berlalu dari sana, ia segera menghubungi penjual daging dan sayur, melalui telepon di sebelah Wita. Mayang menjelaskan kondisinya, dan penjual daging bersedia menggantinya, dengan bukti yang diberikan Mayang. Berbeda dengan penjual sayur yang agak sewot melihat kondisi sayuran yang dikatakan Mayang, dia tidak mau mengganti sayuran yang dikirimnya.
"Baiklah, Pak ... tidak apa-apa kalau bapak ndak mau tau kondisinya dan menggantinya dengan yang baru, tapi saya juga ndak mau bayar penuh. Selanjutnya, saya ndak usah dikirimi sayuran dari Bapak sampai yang ini habis, nanti akan saya hubungi Bapak lagi." Mayang memutuskan begitu. Tidak perlu pakai emosi, cukup kasih pelajaran sedikit saja. Bagaimanapun, Mayang adalah pelanggan besar penjual itu, agak rugi jika penjual itu tidak mau tahu pada keluhan Mayang. "Selamat siang, Pak."
__ADS_1
Mayang bertanya-tanya siapa pelakunya, namun selintas pandang ia melihat Marini duduk tepat di seberang meja kasir ini. Untuk apa lagi dia datang? batin Mayang. Apa mungkin pelakunya mantan ibu mertuanya? Apa untungnya buat dia?
Mayang memutuskan untuk menuju meja itu, sopan ia menyapa Marini. "Ibuk apa kabar?"
Uluran tangan Mayang sepi sambutan, malah Marini menatapnya dengan mata berkaca-kaca. Wanita sepuh itu menubruk Mayang alih-alih menyambut uluran tangannya. "Nduk, Ibuk kangen kamu." Marini terisak di bahu Mayang.
Mayang hanya bisa diam mendengar tangisan Marini. Tanpa membalas pelukan maupun menanggapi ucapan mantan ibu mertuanya yang terkenal sadis dalam berkata-kata.
"Ibuk ingin ikut sama kamu aja, Yang ... rumah Ibuk mau diambil Lea, kalau Ferdi ndak bisa memebli kembali tanah Lea."
Mayang sedikit tertohok, tanah itu kini berada di tangan Mayang karena oleh penggadai ditawarkan pada Mayang. "Ibuk ... apa Ibuk lupa, kalau aku ini udah jahat sama Ibuk dan Mas Ferdi? Aku udah bohongin Ibuk loh? Masa Ibuk ndak benci sama aku?" Mayang akhirnya bersuara.
Marini melepas pelukannya, mengusap sisa air mata di pipinya. "Ndak ... kamu ndak jahat, Nduk. Yang ada Ibuk yang merasa bersalah padamu. Ibuk yang harusnya malu dengan kelakuan anak Ibuk itu. Ferdilah yang bodoh. Nduk ... Ferdi yang matanya ketutupan rayuan Lea sampai dia selingkuhin kamu. Sekarang Ibuk ndak peduli lagi sama Ferdi, Nduk ... biar saja dia mau melakukan apa sama istrinya itu."
"Mas Ferdi ajak Mayang balikan, Buk ... tapi saya ndak mau." Mayang berkata setengah melamun, tatapannya kosong mengingat lagi perselingkuhan Ferdi di depan matanya. Mata Mayang kemudian perlahan beralih ke arah Marini. "Saya ndak mau sakit hati lagi, Buk."
"Ya, Nduk ... sebaiknya kamu ndak usah mau sama Ferdi. Ibuk ndak mau kamu disia-siakan lagi." Marini kembali emosional. Namun hal ini menjadi sangat janggal bagi Mayang. Biasanya ibu-ibu akan mendukung anaknya kembali pada istri yang sah, ini kenapa malah tidak boleh? Ada apa dengan Marini? Apa dia sudah tidak terpesona pada kekayaan Mayang? Yang kini sudah berlipat-lipat jumlahnya.
"Saya juga pikir begitu, Buk ...." Mayang sementara membiarkan semua berjalan seperti apa yang mereka mau. Toh, sekarang mereka melihat yang baik dan yang buruk ketika mereka sudah berpisah.
Sementara Gian yang sudah selesai makan, bersiap pulang. Tetapi ia dikejutkan dengan rombongan berisi Anggia di dalamnya. Gian menghindar sebelum ketahuan, namun sayang, mata Anggia terlalu canggih dan teliti untuk mendeteksi keberadaannya.
"Gian!" Anggia berteriak, sehingga membuat pengunjung memperhatikan kemana tangan Anggi melambai. Gian mencoba abai, tetapi Anggia tampaknya belum menyerah. Wanita seumuran Gian itu berlari kecil mengejar manta suaminya.
__ADS_1
"Kita emang berjodoh kembali, Yan ... setelah kemarin itu, lalu sekarang." Leher Anggi mengendik genit, pun dengan senyumnya yang penuh percaya diri itu. Padahal Gian sama sekali tak melihatnya. "Aku senang dengan pertanda-pertanda yang indah ini, Yan."
Gian mendengus kesal, matanya melirik tajam ke arah Anggi tanpa ada niat untuk menyambut apapun yang ditampilkan Anggi. "Jodoh yang kamu buat dengan sengaja, kan? Seolah ini kebetulan, padahal kamu mencari tahu keberadaanku mati-matian." Gian berkata sangat sarkas dan kejam. Kegalakan pria itu kembali muncul setelah karantina Mayang longgar.
"Siapa bilang?" Mata Anggi jelalatan kemana-mana, menghindari tatapa Gian yang seolah bisa merobeknya kapan saja.
"Ana, perawatku yang bilang!" jawab Gian tanpa babibu.
"Bo—" Anggi seperti tidak bisa berkata-kata dengan jawaban Gian. Perlahan-lahan Anggi menelan ludahnya, terbongkar sudah tingkah laku Anggi yang mematai-matai Gian selama ini. Matanya lekat memandang wajah Gian yang keras dan dingin. Benarkan Gian yang cinta mati padanya telah berubah? Kenapa? Anggi hanya ingin berhenti dari hubungan yang rasanya kurang sehat dan hambar. Gian sibuk mengejar karir, Anggi hanya kesepian dan butuh perhatian.
"Kamu nggak pernah begini sama aku, Gian! Kamu biasanya sayang sama aku. Walau kamu sibuk kejar karir kamu, tapi kamu nggak begini, dulu. Kamu sudah berubah, bahkan kamu nggak pernah menemui Aqila." Anggi enggan menyerah, apapun akan dia gunakan untuk merebut perhatian Gian lagi.
"Sudah kubilang, Qila bukan anakku, Nggi ... dia bukan anakku!" tegas Gian. Sekali lagi Gian menghadiahi Anggi dengan tatapan tajam nan mengerikan.
Mayang melihat semua itu dari luar pintu masuk, Gian tampak begitu terluka. Sama seperti dirinya yang terluka karena pernah mencintai sepenuh hati, tetapi diabaikan. Masih untung si Anggi, suaminya sibuk mengejar karir, bayangkan suami Mayang yang sibuk mengejar kepuasan bersama wanita lain. Rasa simpati pada Gian mulai timbul, tetapi Mayang belum ingin memulai apa-apa. Biarlah rasa itu tumbuh dengan sendirinya, Mayang cukup mengemas rasa pedulinya dengan tidak mengusik apa-apa soal masa lalunya. Kalaupun ada hubungan diantara mereka nanti, Mayang ingin Gian yang terbuka padanya. Tidak menyangka memang, jika Gian pernah begitu terluka karena cinta.
*
*
*
*
__ADS_1
Kedua ya, gengs