Balas Dendam Istri Gendut

Balas Dendam Istri Gendut
I N V U


__ADS_3

"Bapak kemana saja, sih? Lama banget?" Lea membentak Haryadi yang baru sampai di kos Lea. Anak kandung Haryadi itu bersedekap, menatap galak sang bapak yang tengah membendung luka juga rasa malu.


Usai berjumpa dengan Mayang, Haryadi kembali menemui Kinanti dan menanyakan kebenaran perbuatan kurang ajar Lea. Tinggi harapan Haryadi bahwa apa yang dikatakan Mayang hanyalah fitnah belaka. Sayangnya, Haryadi harus mengubur harapannya secepat harapan itu datang. Kinanti dengan sungkan membenarkan ucapan Mayang berikut bukti-bukti kejahatan Lea.


Plak!


"Bapak!" bentak Lea. "Apa-apaan, sih, pake nampar segala! Sakit tau, Pak!" Pipinya terasa panas.


Gatal tangan Haryadi melihat Lea yang sama sekali tidak menunjukkan etika sopan santun saat menyambutnya, lebih lagi sikap memalukan Lea yang membuatnya tak punya muka. Rasanya tamparan ini hanya secuil rasa sakit dari orang-orang yang di sakit Lea. Haryadi bahkan merasa kalau hukuman paling berat dijatuhkan, tidak akan pernah bisa menggantikan rasa sakit akibat perbuatan Lea.


"Itu belum seberapa, dari pada sakit yang dirasakan orang-orang yang kau sakiti, Lea!" Amarah Haryadi memuncak, sampai napas pria itu terengah-engah.

__ADS_1


"Mayang yang nyakitin aku, Pak!" sanggah Lea. "Mayang yang merebut kebahagiaan aku. Mayang yang menghancurkan mimpi-mimpiku, Pak. Bapak nggak tau bagaimana perasaanku, Bapak nggak ngerti menderitanya aku karena ulah Mayang. Aku anakmu, Pak ... bukan Mayang. Harusnya Bapak ngerti in aku, Pak."


Ekspresi Lea histeris frustrasi, seakan kepenatan dalam hidupnya tak pernah usai. Seperti dia tak pernah menjumpai ujung kebahagiaan yang dia mau. Sederhana keinginannya, yaitu menjadi seperti Mayang. Iya, sama seperti kehidupan Mayang yang sempurna. Tak ada cela dan noda. Apa yang diinginkan Mayang selalu didapatkan.


Sementara Lea? Apa bedanya dia dan Mayang? Lahir dari sepasang orang tua, yang sama-sama bekerja, yang sama-sama mengasihi anaknya, tapi kenapa saat Lea mulai ingat, semua hanya Mayang yang terlihat. Dia tidak pernah. Satu dua orang tersenyum dan bilang dia cantik, tetapi tiga empat dan sepuluh yang melihat Mayang langsung terpikat. Hanya karena Mayang memberinya mainan? Permen? Atau bando yang kembaran?


Lea jelas lebih unggul segalanya, Mayang hanya kebetulan baik hati karena hartanya berlebihan. Itu saja. Jika saja Lea punya kekayaan yang sama dengan Mayang, dia pasti akan melakukan hal yang sama dengan yang Mayang lakukan.


"Yang Bapak tidak mengerti hanya bagaimana pikiranmu sampai mampu merencanakan sesuatu yang bahkan orang jahat tak mampu pikirkan." Haryadi perlahan melunak, tetapi masih dalam nada kemarahan yang sama. Haryadi tidak akan membiarkan Lea terus tersesat dalam ambisinya yang mengerikan.


"Kenapa tidak mampu, Pak ...? Kenapa ini terasa sulit bagi kalian? Ini sangat mudah karena kebodohan Mayang." Lea menantang Haryadi seakan dia tidak pantas disalahkan, seolah hal kecil yang dilakukannya merupakan hal luar biasa merugikan negara.

__ADS_1


"Mayang itu naif! Dia menyerahkan semua padaku, menyuruhku melakukan ini dan itu, tetapi dia yang mendapatkan muka. Aku yang bekerja, dia yang kaya raya. Aku yang susah, dia yang bahagia." Suara itu bukan lagi sebuah teriakan, tetapi cukup menggambarkan betapa putus asanya Lea sekarang. Sudut tembok selalu dingin dan gelap, menjadi tempat persembunyiannya dari cahaya matahari di sisa hari. Disanalah dia biasa menuntaskan rasa lemahnya.


"Itu bukan alasan, Lea." Haryadi mencoba menyadarkan Lea akan pentingnya menjaga amanah. "Sebenarnya, kau tahu kalau kau salah, tetapi kau tidak mau mengakui."


Lea terhuyung mundur dan terkesiap mendengar ucapan ayahnya. Tepatnya omongan ayahnya benar.


Dia hanya sedang iri pada nasib Mayang saat ini. Memang benar dia salah, seharusnya minta maaf sudah cukup. Tetapi, Lea terlalu meninggikan diri.


*


*

__ADS_1


*


__ADS_2