Balas Dendam Istri Gendut

Balas Dendam Istri Gendut
Rindu Sepihak


__ADS_3

Lea dan tiga orang temannya akhirnya mendirikan gerai usahanya di ruko kawasan wisata pantai. Tak jauh dari rumah makan Mayang. Besar? Ya, tentu saja besar dan mewah. Ramai? Iya, tentu saja sangat ramai.


Lea tersenyum puas melihat grand opening gerainya yang memakai sebagian besar uang darinya. Tentu keuntungan terbanyak akan masuk ke rekeningnya sesuai perjanjian. Ia mengenali satu dua orang yang menjadi langganan di rumah makan Mayang. Lea menyapanya.


"Ibuk ... selamat datang di toko oleh-oleh saya." Lea mendatangi segerombolan ibu-ibu yang melihat-lihat tak kurang sepuluh freezer yang berada di sini.


"Oh, Mbak Lea." Mereka mengenali Lea dengan sekali pandang. "Jadi keluar dari rumah makan Mbak Mayang untuk buka toko oleh-oleh, to? Hebat, yo ...."


Lea tersenyum manis, puas sekali rasa hatinya dikenali dan dipuji sedemikian rupa. Rasanya melambung ke angkasa. "Iya, Buk ... saya ingin usaha sendiri, lelah dipandang sebelah mata. Padahal saya di sana bekerja sepenuh hati."


"Masa Mbak Mayang begitu?" tanya salah satu ibu itu, dan diiyakan oleh yang lain.


"Nggak bermaksud umbar aib orang, Mbak Mayang itu saudara saya, Ibu-Ibu, tapi memang kenyataannya demikian." Lea menyentuh lengan salah satu ibu itu dan mengusapnya. "Ibu-ibu semuanya, akan saya beri bonus sebagai pelanggan pertama saya."


"Oh, benarkah?" Ibu yang paling depan antusias, lalu mengisyaratkan dengan kepalanya untuk mengajak teman-temannya kembali berburu makanan olahan di sini.


"Silakan Ibu pilih-pilih lagi." Lea menyilakan. Senyumnya terkembang manis. Yang penting ramai dulu, perkara untung dipikir belakangan.


"Le ... kamu kok gitu?" tegur Arista.


"Kenapa?" Lea tak mengalihkan perhatiannya dari para pengunjung yang memenuhi tokonya. "Ini trik promosi, Ris ... biar toko kita ramai dengan mereka yang membagikan informasi soal diskon ataupun bonus untuk pembeli."


Arista keberatan, ini diluar rencana mereka. "Tapi kalau gini, kita akan merugi di hari pertama. Lagian ini kita beli produk secara random di pengusaha kecil, belum produksi sendiri kan kita?"


"Udah, kamu tenang aja. Ini bisa aku handle dengan baik. Kamu cukup perhatikan saja penjualan hari ini untuk menentukan jumlah pesanan esok pagi." Lea tersenyum menenangkan Arista. Sejauh ini, Arista lah yang kesana kemari mencari produk olahan ini. Dia lelah, tetapi bisa apa, dia hanya menyumbang sejumlah kecil uang sebagai modal.


Meski ragu akan keputusan Lea, Arista menurut saja apa kata Lea. Dia segera berlalu dari sana. Namun langkahnya terjegal oleh kedatangan bapak-bapak yang berpakaian sedikit kotor. Arista menghampiri karena bapak itu terlihat kebingungan mencari seseorang.


"Ada yang bisa saya bantu, Pak?" Arista bertanya.

__ADS_1


Bapak itu mundur selangkah, seakan takut kalau bajunya yang kotor mengenai lantai. "Saya mau cari pemilik tempat ini, Bu ... saya ada perlu sama beliau," jawabnya sopan.


"Oh, bisa bicara sama saya saja, Pak ... kebetulan saya juga pemilik tempat ini." Arista kemudian memberikan perhatian penuh pada pria itu.


"Saya ini pembuat makanan olahan seperti yang dijual di sini, Bu ... tapi punya saya nggak terlalu laris karena kalah dalam kemasan dan juga kecepatan produksi, juga tempat penyimpanan yang terbatas. Jika boleh, saya ingin menjual produk buatan saya ke Ibuk," terang Bapak itu sopan.


"Oh, begitu—"


"Ris, biar bicara sama saya saja, bapaknya!" Lea muncul dan memangkas ucapan Arista begitu saja.


"Tapi, Lea ...."


"Kamu kerjakan saja tugas kamu," ujar Lea menyakinkan.


Arista terkejut dengan sikap Lea yang sok ngebos, padahal mereka berjanji untuk bekerja bersama-sama, tapi nyatanya, Lea dari kemarin tidak menyentuh satu pun pekerjaan. Arista patuh, lalu meminta izin pada bapak itu untuk pergi.


"Saya bisa membuat sampai sekwintal bahan, Bu ... nggak banyak karena cuma dikerjakan oleh keluarga sendiri."


"Baik, Pak ... nanti Bapak buat saja lalu antarkan ke Bu Mayang di rumah makan Tiga Dara. Kalau bisa, buat yang banyak sekalian, ya, Pak ... soalnya bos saya itu memang butuhnya banyak sekali." Lea tersenyum manis.


"Baik, Bu ... saya akan buat secepatnya. Makasih atas kerja samanya, ya, Bu ... saya permisi dulu." Bapak itu segera pamit dan meninggalkan Lea yang tersenyum penuh makna.


"Rasakan kamu, May ... setelah kiriman sayuranmu berhenti, kamu juga akan mendapat kejutan lain yang bakal bikin kamu rugi banyak." Lea bergumam dalam senang.


Rasa senang juga dialami Dokter Gian setelah beberapa hari tak sempat menemui Mayang, hari ini, tampaknya Mayang akan ke rumah makannya. Gian yang sedari tadi menunggu di halaman rumah Mayang, tersenyum kesenangan melihat Mayang berjalan ke arahnya.


"Sibuk, Bu?" tanya Gian basa basi. "Sibuk mana sama aku yang berhari-hari menahan rindu karena nggak jumpa Bu Mai?"


Mayang menghela napas dalam-dalam, dan membuangnya perlahan. Beberapa hari tanpa Gian, tidak terlalu mengganggu Mayang, meski Gian memang tak pernah pergi dari pikirannya selama itu.

__ADS_1


"Kalau saya cuma sibuk sama pekerjaan, Pak ... ndak kaya Bapak sibuk lebay dan ngarang cerita. Kita ndak terlalu dekat untuk saling merindu, bukan?" Mayang menjawabnya santai tapi harusnya membuat Gian malu.


"Siapa bilang rindu itu harus dekat? Bukannya rindu ada karena jauhan? Jadi aku pengen mendekat terus sama Bu Mai?" Gian memang tebal muka kalau sama Mayang.


"Pak Dokter ini udah saya tolak, udah saya suruh jauh-jauh, udah saya bilang kalau saya ndak punya perasaan apa-apa, tapi kok masih ngeyel deketin saya? Apa Pak Dokter ini ndak punya malu?" Mayang akhirnya berkata apa adanya, Gian bukan tipe orang yang peka terhadap sindiran.


"Sama calon istri itu nggak boleh malu, toh nanti kalau udah nikah, kita akan melihat masing-masing kita kaya apa, kan Bu Mai?" Alis Gian terangkat-angkat naik dan turun berulang-ulang. Senyum di bibirnya yang sedikit menghitam karena terlalu banyak merokok, terlihat manis.


Mayang membeliak tajam, gila beneran nih, dokter satu!


"Pak Dokter ngomongnya ngeres, jorok ... jijik, Pak! Masa sama saya ngomong begitu? Ndak malu apa?" Mayang benar-benar jijik dan bersiap pergi. Ah, kenapa juga Mayang meladeni dokter gila ini. Harusnya kan dia berangkat ke rumah makan. Astaga!


"Apanya yang jijik, Bu?" Gian menghadang Mayang yang sudah siap membuka pintu mobilnya. "Saya bilang kita bisa saling kenal, saling memahami, saling terbuka setelah nikah, karena sekarang, Bu Mai saya rindukan sepihak aja nggak mau, apalagi kalau saya mengajukan pendekatan. Pasti lebih nggak mau. Jadi lebih baik saya nggak tahu malu untuk mendatangi Bu Mai sekadar membiarkan Bu Mai melihat kesungguhan saya. Biar saya yang berusaha sepihak, Bu ... nanti Bu Mai tinggal acc aja."


Mayang menatap dua bola mata Gian yang gelap itu bergantian. Ya, Gian memang santai, tak terkesan memaksa. Tapi jahilnya bikin Mayang selalu jumpalitan. Dia baru bercerai tiga bulan, lalu apa kata orang jika dia langsung menikah setelah idah selesai? Bisa dikira Mayang punya selingkuhan, nanti?


"Bu Mai buru-buru, kan? Jadi biar calon suami Bu Mai yang mengantarkan. Bu Mai cukup duduk dan menikmati perjalanan." Gian mengarahkan Mayang ke sisi mobil yang satunya.


"Mohon jangan ditolak niat baik saya, Bu ... itung-itung menyengangkan jomlo ngenes empat tahun ini, Bu." Gian melanjutkan ketika Mayang mengeluarkan gestur untuk menolak.


*


*


*


*


Masih dalam rangka even crazy up, ya, gengs ... kita main kereta 3 bab hari ini🤗

__ADS_1


__ADS_2