Balas Dendam Istri Gendut

Balas Dendam Istri Gendut
Salahku Opo, Gusti?


__ADS_3

Nungki menyeret Marini sambil mengomel panjang lebar, tanpa berpamitan dengan Mayang. Wanita yang menjunjung tinggi tindak tanduk dan kesopanan itu seakan lupa segalanya.


Mayang sebenarnya iba melihat hal itu dan ingin mencegah Nungki berlaku kasar, tetapi karena Gian mendadak menghadang pandangan Mayang, jadi Mayang kembali merapatkan bibirnya.


"Ngomong sekali saja, bakal tak cium sampai napasmu habis, bibirmu bengkak!" kecam Gian. Sorot mata pria itu nampak sungguh-sungguh.


Mayang berdecak, "Kasihan Bu Marini, Mas."


Gian menghela napas, tentu saja dia tahu betapa lembutnya hati Mayang. Sama siapa saja dia tidak tega sebenarnya.


"Udah tua, pikun, tapi diperlakukan kaya gitu." Mayang melanjutkan, "kalau—"


"Kalau masih seger dan muda juga waras, mau kamu ajak gelud apa?" Gian menukas dengan cepat.


"Iya ...." Mayang tertawa. "Ibuk udah dihukum, Mas ... walau dia galak ke aku, tapi Ibuk bela aku pas hubungan Mas Ferdi dan Lea kecium. Aku masih menghargai itu, sebenarnya, tapi kalau emang harus begini ... ya sudah, aku hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk mereka."


"Lebih baik nggak usah ada hubungan apa-apa sama mereka, May ... nanti kamu kesusahan sendiri." Gian menyarankan, dan Mayang mengangguk. Setelah itu keduanya masuk ke dalam rumah, sementara pembantu Mayang malah sibuk melihat Nungki yang masih bertengkar dengan Marini dan suaminya.


"Tapi Mas tadi kelewat nyinyir sama Bulek Nungki! Ndak takut kalau di review jelek sama dia kalau tahu Mas punya rumah sakit nantinya?" Mayang menggandeng tangan Gian saat berjalan menuju sofa. Nungki biasanya begitu bahkan dulu terhadap restoran Mayang juga.


"Kalau kelewat ya aku mundur! Namanya bis kadang suka los rem nya! Apalagi kalau sopirnya ugal-ugalan!" Gian menjawab dengan wajah datarnya yang menyebalkan.


"Mas ...." Mayang merengek kesal. Bukan itu tanggapan yang dia mau. Gian selalu begitu kalau diajak bicara serius olehnya. Beda cerita kalau Gian yang berbicara, dia hanya mau jawaban yang patuh dan jelas.

__ADS_1


Gian mencium kening Mayang. "Udah, ya, Bumil Quadruplet. Sekarang Ibu istirahat saja, duduk manis, dan jangan banyak pikiran. Anggap saja tadi intermezzo. Ingat kalau sewaktu-waktu perutmu bisa kontraksi dan lahiran sebelum waktunya."


Mengingat itu, Mayang hanya bisa pasrah. Dia hanya bisa menurut. Baginya, bayi-bayi ini lebih berharga dari apapun di dunia.


Melihat kepatuhan Mayang, Gian tersenyum lega, lalu ikut duduk dan makan buah di mangkuk Mayang. Ah, Gian jadi ingin hamil juga. Enak kalau hamil di layani begini. Apa-apa ditawari, capek dipijitin, lah kalau laki, ngeluh capek ya ditampol. Boro-boro dipijitin ...!


Muka Gian langsung jutek seraya melirik Mayang.


Sementara ketika tiba di rumah, Nungki masih terus mengomel. Berteriak dan memaki Marini yang malah bermuka memelas sekarang. Nungki makin kesal saja.


Sejak tinggal di rumahnya, karena Ferdi tidak bisa mengurus ibunya sendirian, Marini selalu berulah. Memanggil Mayang adalah hal biasa. Bahkan Nungki hafal jadwal Marini memanggil Mayang.


"Mbak Yu berhenti berpura-pura seperti orang yang patut dikasihani begitu! Kita sudah sampai rumah. Jangan merasa paling ndak bersalah, Mbak Yu! Ini semua ulah Mbak Yu! Coba Mbak Yu ndak ngilang tadi, pasti aku ndak jadi bahan ejekan Mayang kaya begini!" Nungki meledak, membuat suaminya langsung meringis dan menutup telinga.


"Aku ndak mau tau, pokoknya besok Mbak Yu pulang! Pulang ke rumahmu sendiri! Biar diurus Ferdi sama mantu kamu yang penyakitan itu!" Nungki histeris seraya menghentakkan kakinya. Dia kesal sekali, ingin mencabik-cabik kakak iparnya itu, tetapi dia tidak bisa.


Astaga, dia kesal kepada Mayang yang sekarang makin tak bisa dikalahkan. Atau setidaknya diminta-mintai lagi. Ya Allah, Mayang kalau dipikir-pikir lagi semakin kaya raya setelah cerai dari Ferdi.


Marini semakin sedih jika ingat siapa mantunya sekarang. Terkadang ingatan itu datang tiba-tiba dan begitu jelas, membuat Marini sangat menyesal. Tetapi terkadang dirinya mendapati ingatan yang menyenangkan pada keesokan harinya. Yang menyenangkan selalu berkaitan dengan Mayang, jadi saat ingatannya tertuju pada Mayang, bibirnya tanpa sadar menyebut nama Mayang berulang-ulang.


"Aku sudah capek ngurus Mbak Yu! Mana udah ndak punya warisan apa-apa dari Kang Mas! Kayak ndak guna juga ngurusin kamu, Mbak! Bikin waktuku yang berharga jadi tersia-siakan!"


Usai berkata begitu, Nungki meninggalkan Marini, menuju kamarnya sendiri, lalu melepas perhiasan yang dipakai hari ini. Tindakannya sangat kasar dan brutal.

__ADS_1


"Nyesel pakai perhiasan ini, tadi!" Nungki melepaskan semua perhiasan yang melekat di tubuhnya. Dan memang hanya pemberian Mayang saja yang paling bagus. Astaga. Ketidaksengajaan ini sungguh menyebalkan.


Ini tidak bisa dibiarkan!


Nungki mendengus seraya mengambil ponsel. Dia akan menyuruh Ferdi mengambil Ibunya. Dia sudah tidak peduli bagaimana kehidupan keluarga mbak yunya itu ke depan. Dia hanya mementingkan kenyamanan dan nama baiknya di depan semua orang.


"Gusti Allah, aku salah opo se, kok bisa Si Mayang makin ke sini, hidupnya makin ke sono? Makin cantik, bojone ganteng, sogeh, omah e ... Ya Allah, apik koyo kraton!" Nungki bergumam penuh emosi saat mencoba menghubungi Ferdi. Dari gerakan jempolnya, terlihat wanita setengah baya itu sangat marah.


"Sebenar e, sing musibah iku Mayang opo Ferdi, yo? Gusti, mulutku ketulah kalau begitu!"


Nungki tanpa sadar meneteskan air mata. Menyesal ... karena seharusnya dia baik-baiki Mayang dari dulu. Jadi walau kini mereka bukan lagi saudara setidaknya masih bisa lah deket-deket Mayang untuk berbagai kepentingan yang menguntungkan.


Sebenarnya, Nungki menjelek-jelekkan Mayang dulu karena dia terlalu iri pada kekayaan keluarga Mayang. Jadi karena tidak bisa menyaingi atau bahkan memiliki, sudah ... hujat saja. Kalau Mayang menderita, tertekan, dan—kalau bisa—hancur, Nungki dan saudara yang lain senang sekali.


"Makanya Buk e, kalau mau bikin orang down itu di lihat-lihat dulu!" Suami Nungki masuk kamar dengan suara beratnya menyeletuk. Nungki menoleh dengan helaan napas berat. Wajahnya makin kesal mendengar suara suaminya itu.


"Kalau sudah begini, kamu toh, yang kesel sendiri?" Suami Nungki melanjutkan.


Dan itu berhasil membuat emosi dalam dada Nungki meledak. Wanita itu menjerit histeris, membuat suami Nungki sampai jatuh terjembab.


"Bapak kalau ndak bisa menghibur Ibuk lebih baik diam!" bentak Nungki seraya menghadap suaminya yang terduduk di lantai.


"Atau Bapak malam ini tidur di emperan sama Mbak Yu yang udah ndak waras itu!" ancam Nungki dengan wajah yang kian memerah.

__ADS_1


Suami Nungki membelalak. Astaga ... Jadi begini rasanya hidup diantara orang-orang kehilangan akal karena tindakannya sendiri, ya?


__ADS_2