
Rupanya kejadian itu tak luput dari tatapan anak tunggal Hadyan, Estu Giandra Hadyan yang sedari tadi duduk di balik meja kasir. Gian begitu marah, dan tak mengerti jalan pikiran sang bapak.
Bapaknya itu tampak masih memandangi kepergian Mayang dengan senyumnya yang aneh. Apa itu? Umur berapakah bapaknya? Puber terlambat kah? Bahkan meski sudah sampai di depannya dan wanita itu sudah pergi, Pak Hadyan masih tetap memandang sisa udara yang ditinggalkan Mayang.
Gian mendesah, tak mampu lagi menahan kesal. "Sudah tua mbok nyebut! Itu masih istri orang, mau-maunya Bapak bantuin sampai sebegitunya! Cinta ya cinta, Pak ... tapi ingat batasan!"
Hadyan sontak menoleh, terkejut dengan ucapan anaknya yang sangat panjang dan penuh amarah. Sedetik kemudian, Hadyan terkekeh, tanpa menanggapi omelan sang putra.
Gian melirik sinis bapaknya, "Aku izinin Bapak nikah lagi, tapi bukan dengan istri orang, apalagi yang umurnya jauh di bawahku! Yang benar saja, aku manggil orang yang lebih muda dengan sebutan Ibu?! Ibu tiri lagi!"
Terdengar nyolot dan menggelikan ucapan Gian, tetapi Hadyan senang. Perhatian Gian tak pernah berkurang padanya, meski anaknya itu lebih banyak diam dan jarang memiliki waktu untuk bersama.
"Dia cantik, pintar, dan berani, Bapak suka. Dan ...." Hadyan menggantung ucapannya, matanya melirik Gian yang sudah mengepulkan asap amarah di atas kepalanya. "... Bapak ingin membantunya lepas dari jerat suami yang merugikannya. Nanti, setelah itu, Arumndalu akan diurus olehnya. Bapak lelah, kamu sibuk, siapa lagi kalau bukan dia yang menjadi nyonya di sini?"
Gian menatap lurus Hadyan. "Terserah Bapak! Kalau terjadi apa-apa, Bapak jangan minta saya untuk menyelesaikannya. Bapak selalu saja bikin ulah yang membuat saya jungkir balik, dan Bapak hanya tertawa."
Gian bangkit, menekan kantung plastik di sebelahnya dengan geram. "Ini diminum, biar staminanya kuat pas malam pertama. Biar Bapak ngga ditinggal mendua sama istri muda Bapak!"
Hadyan tertawa, sangat keras sampai ketika Gian pergi, dia tidak melihatnya. Hanya saat melihat mobil Gian mundur, dia berteriak. "Makasih perhatiannya, Nak ...!" Ia melambaikan kantung obat itu, dan pastinya Gian melihat, lantas Hadyan sambung tertawa kembali.
__ADS_1
"Ya Allah, ini anak kok lucu sekali. Jarang ngomong, sekalinya ngomong nylekit dan mbanyol." Hadyan mengusap matanya, tawanya masih lebar sampai ke telinga. "Ternyata godain Gian itu menyenangkan."
**
Sementara Mayang, langsung ke tempat gym yang dikatakan Rully kemarin. Hari ini, dia akan di beri keistimewaan oleh trainer yaitu dilatih secara privat. Jam nanggung antara jam tiga sampai jam empat, tidak banyak peminatnya, sehingga ini dimanfaatkan Mayang untuk datang. Sebenarnya, Mayang malu jika terlalu banyak yang melihatnya. Apalagi memakai pakaian presbodi begini.
"Okey, Mbak Mayang pemanasan dulu, ya, ikuti gerakan saya." Sang trainer profesional itu—kedengarannya, bernama Akston, atau Axton—entahlah. Sangat ramah dan murah senyum meski otot-ototnya menyembul tak karuan.
Mayang kesusahan mengikuti, namun ia terus berusaha menyelaraskan apa yang diinstruksikan Axton—itu pasti nama samaran. Sesekali Mayang memejam, bukan karena berat atau lelah, melainkan malu melihat tampilan dirinya di cermin yang memenuhi ruangan ini. Astaga bentukanku, keluh Mayang dalam hati.
"Oke, cukup ya, Mbak ... sekarang kita mulai pelan-pelan dengan—"
Gian melengos ketika bertatapan dengan Mayang yang sibuk menutup dadanya.
Axton terkejut bukan main, merasa tak enak hati dengan Mayang yang sudah memesan dirinya secara privat. Lantas ia menegur Gian.
"Hei, kamu tidak ada jadwal hari ini, Bung!" Menahan langkah Gian dengan tubuhnya, Axton tegas sekali akan ucapannya.
Gian menatap Mayang, lalu beralih ke Axton. "Aku sudah bayar mahal kamu, jadi suka-suka aku datangnya kapan!"
__ADS_1
Gian melanggar Axton hingga tubuh pria itu bergeser. Namun Axton tetap sigap menahan Gian yang sudah selangkah menjauhinya. "Tetap ngga bisa, Gian ... aku ada jadwal sore ini. Kamu masih besok—jadwalnya."
Gian berbalik, memandangi Axton yang tampak sungguh memohon pengertiannya. Namun sekarang, hati Gian sedang penuh. Ia ingin melampiaskan, menyalurkan, tetapi kepada siapa? Selain pada alat-alat yang ada di sini. Gian hanya berdecak, terlalu egois jika dia memaksakan diri dan membuat Axton dalam kesulitan.
"Thanks, Bro ...," kata Axton cerah seraya menepuk pundak Gian. "Ngopi di ruanganku, selagi nunggu aku selesai."
Axton melewati Gian, tetapi suara Gian tak menyerah mendahuluinya. "Bapak tidak peduli sama bentuk tubuh dan kebugaran, dia hanya ingin wanita yang bisa jalanin usahanya, jadi yang kaya begini itu tidak penting kalau mau jadi istrinya Bapak!"
Axton menoleh, Mayang membeku. Keduanya bingung akan maksud dari ucapan Gian. Namun Axton segera paham. "Bibirmu bisa nyinyir sama cewek juga, Gian!" Axton tertawa penuh arti. Sahabatnya ini mungkin sedang cemburu dan merasa kalah. Biasanya begitu.
*
*
*
*
*
__ADS_1