
Ferdi dan Lea sepakat untuk menjalani hidup sendiri-sendiri dulu untuk sementara waktu. Jika Lea tak bisa hidup tanpa Ferdi, lain halnya dengan Ferdi, yang mencoba ingin tahu perasaannya yang sesungguhnya untuk Lea. Benarkah itu cinta? Atau hanya nafsu belaka.
"Hati-hati di jalan, Mas ... Aku harap Mas masih terus beri kabar aku." Lea melepas suaminya yang katanya ingin pulang ke rumah ibunya. Ia khawatir pada sang Ibu yang sudah tua. Kendati demikian, ia akan memberikan jawaban secepatnya jika kepastian itu telah di dapat.
"Kamu jaga diri, Le ... Jangan terlalu banyak berpikir. Yang ragu itu aku, jadi kamu tidak usah melakukan apa-apa untuk kita."
"Aku ngerti, Mas ... salam buat Ibuk. Kapan-kapan kasih tau aku biar aku bisa mohon ampun sama Ibu kamu." Lea tersentuh dengan kepedulian Ferdi. Harusnya itu saja sudah cukup untuk menjawab semua pertanyaan Ferdi soal perasaannya sendiri. Tetapi Lea membiarkan saja, mungkin jalannya harus seperti ini dulu.
"Aku berangkat, Le." Ferdi tampak berat meninggalkan Lea. Namun langkahnya tetap saja membawa Ferdi meninggalkan Lea.
Ferdi sebelum pulang berkeliling mencari pekerjaan terlebih dahulu. Beruntunglah, ada lowongan sebagai penjaga toko sepatu kenamaan yang butuh tenaga pria. Ferdi akan mulai bekerja besok.
Langkahnya kian ringan untuk minta ampun pada ibunya setelah pekerjaan di dapat usai menganggur beberapa waktu lamanya.
"Buk ...," panggil Ferdi yang melihat pintu rumah terbuka lebar tetapi tidak ada penghuninya. "Buk?"
__ADS_1
Ferdi melangkah masuk dengan perlahan. Rumah yang seumur hidup tak pernah ia tinggalkan. Rumah di mana ia tumbuh besar dan menikah. Mata Ferdi mengarah ke dinding, dimana ada foto pernikahan Ferdi dan Mayang berada. Namun tampaknya, Marini sudah menurunkannya. Padahal dulu, jika sampai foto itu bergeser posisinya, Marini akan memarahi siapapun orang itu, sehingga kadang sikap kasar Marini yang galak itu seperti tak meninggalkan bekas. Marini sayang pada Mayang. Hanya terkadang emosi Marini tersulut jika Mayang membuatnya malu.
Sayup-sayup terdengar suara dari dapur, dimana ada Nungki sedang mengobrol dengan Marini. Kedengarannya obrolan itu tidak berlangsung dengan semestinya.
"Iyalah, Mbak Yu ... Mayang itu sekarang cantik banget, sampai aku pangling dan sungkan menyapanya. Uh, apalagi dia jalan sama Dokter Ganteng favorit di kota ini. Aku makin malu, loh, Mbak."
Marini terdiam, ingin. menangis dan menjerit tidak terima juga tidak mungkin. Mayang itu sudah bukan menantunya lagi. Tapi kok ya, tidak rela kalau Mayang jadi milik orang lain. Marini bahkan jauh lebih dilema ketimbang Ferdi. Lebih merasakan kehilangan dari pada anak lelakinya itu.
"Mbak merasa kan, bagaimana dampak perceraian Ferdi? Aku sih, merasa ya, Mbak ... dulu apa-apa Mayang sigap membeli, mencarikan, mengusahakan, kini apa? Kita mau belanja-belanja biasa aja sulit, apalagi mau yang mewah ke mol di luar kota itu. Hah ... rasanya mimpi, Mbak."
Marini menghela napas beratnya, ia tak mampu bereaksi dengan detil yang diberikan Nungki. Semua itu benar, mereka tinggal minta sama Mayang, maka uang belanja aman. Pokoknya harta Mayang yang tidak habis tujuh turunan delapan tanjakan itu yang jadi tumbal. Prinsipnya, cukup tanpa harus keluar uang.
"Ibuk ada di sini?" Ferdi menghampiri ibunya, lalu menyalami dengan takzim.
"Loh panjang umur!" Nungki berkata cerah seolah tidak ada yang salah dengan ucapannya sebelum ini. "Kamu kemana aja tadi, Fer? Aku cari kamu di kantor kok nggak ada?"
__ADS_1
Nungki memang sumber malapetaka, perkataannya sontak membuat Marini melebarkan mata. "Kamu dipecat, Le?" tanya Marini yang seolah sudah menduga kalau ini yang akan terjadi. Tetapi ia tahan karena ia masih takut kalau ucapannya berubah jadi doa yang diijabah.
"Iya, Bu ... Ferdi dipecat karena gagal dapat nasabah." Ferdi jujur.
"Lalu kamu pulang kemari karena kamu ndak ada uang lagi? Terus kamu mau tinggal sama Ibuk bareng sama gundik kamu itu?" tuduh Marini.
"Nggak gitu, Buk ... Ferdi hanya ingin minta maaf sama Ibuk karena nyakitin hati Ibuk selama ini." Ferdi meraih tangan Marini dan berniat menciumnya. Bahkan Ferdi sudah bersimpuh di kaki Marini. "Ampuni anakmu ini, Buk!"
"Ibuk terlalu sakit hati sama kamu, Fer. Jelas kamu milih Lea di sana, padahal kamu tau kalau Lea itu hanya benalu dalam hidup kita. Tapi kamu maju terus seakan omongan Ibuk ndak berarti." Marini sewot, benar-benar marah karena ulah Lea yang dianggapnya habis manis sepah dibuang.
"Tunggu, jadi setelah sama Mayang, kamu sama Lea, Fer?" Nungki menyela. "Pantes kalian akrab jadi Mayang kamu selingkuhin dulunya?"
Ferdi mengangguk. Begitulah keadaannya. Meski dengan Nungki mengetahui fakta ini, Ferdi akan jadi bahan gunjingan keluarga besar mereka.
*
__ADS_1
*
*