Balas Dendam Istri Gendut

Balas Dendam Istri Gendut
Sisi Lain Pak Dokter


__ADS_3

Kawasan sekitar Tiga Dara bagai surga bagi pecinta kuliner. Di kawasan itu restoran berdiri bak jamur yang memiliki jam buka bervariasi. Gian duduk di sebuah resto yang berseberangan dengan Tiga Dara. Tempatnya duduk menghadap sisi dimana pintu keluar masuk karyawan Tiga Dara berada. Secara teknis, ini adalah ruang pribadi pemilik dimana tamu-tamu khusus dijamu.


Gian dengan jelas melihat Mayang memberikan instruksi kepada karyawannya agar mencarikan ojek untuk ibu mertuanya. Gian tak habis pikir.


"Tampaknya, bos sebelah sedang mengalami masalah dengan orang kepercayaannya." Katon, anak dari pemilik restoran ini adalah teman kuliah Gian. Mereka bersahabat kala sama-sama menjadi mahasiswa di kota lain. Sejenak pemuda itu mengikutkan pandangannya ke objek yang sedang diamati Gian, mungkin itu agak mirip dengan hewan mikroskopik, sehingga Gian perlu menatapnya lekat-lekat, mengamatinya dalam-dalam. Gian tak pernah serius memerhatikan orang, kecuali saat ini. Pada wanita bersuami bernama Mayang. Ada yang salah mungkin pada pria itu.


Gian memutuskan tatapannya dari Mayang yang kembali masuk ke dalam restorannya. "Aku nggak tanya." Gian cuek. Menekan puntung rokok di tangannya ke asbak beling lebar yang tersedian. Kopi yang dihidangkan istri Katon sudah habis, mereka juga sudah menyelesaikan apa yang menjadi bahan diskusi sore ini. Secara praktis, Gian sudah tidak berkepentingan lagi duduk di sini.


"Yah, kupikir kamu melihat ke arah sana karena jatuh hati pada Mayang yang menurut gosip anak-anak sini, akan menjanda sebentar lagi." Katon terkekeh, lalu memandang Gian yang tampak cuek tetapi tekun mendengarkan.


"Setidaknya tunggu sampai bercerai dan masa idahnya habis, Bro ... Mayang itu cantik, baik, dan humoris, kenal baik sama istri saya, jadi nanti kita bisa doble date atau sekedar liburan keluarga bareng."


Apa sih, maksud Katon ini? Gian tak mengerti. Tetapi ada sesuatu dihatinya yang senang mendengar ucapan Katon. Seperti air hujan yang dinantikan oleh sebidah tanah yang gersang.


"Sepertinya aku sudah menyalahartikan keramahan kalian, sampai berlama-lama duduk di sini, padahal kalian sibuk." Gian mengemasi barangnya, wajahnya tetap datar dan kaku. Dia siap berdiri saat melihat parkiran restoran depan kembali ramai. Gian mencoba abai, lalu menyalami Katon.


"Makasih, Bro ... kopinya enak." Gian mengguncang tangan sahabatnya, "aku pamit."


Katon tersenyum, "kalau kesini nggak usah bawa mainan, hampir semua mainan anakku kamu yang belikan." Sahabatnya ini baik sekali, sampai Katon tak enak hati dibuatnya.


Gian terkekeh, menepuk pundak Katon ringan dan cepat-cepat keluar. Yah, dia suka robot, tapi agak aneh kalau pria tiga puluh dua tahun memainkan mainan anak-anak sendirian, dan anak Katon adalah patner main terbaik yang dia punya.

__ADS_1


Parkiran seberang tampak panas, Gian melirik. Suami Mayang terlihat berang, berdebat sangat sengit.


"Itu uangku, Mas ... kamu mencurinya!"


Kalimat itu membuat Gian menoleh. Ini tidak sopan, tapi dia penasaran. Seburuk itukah nasib wanita ini?


"Lea mencurinya, kalian berselingkuh saja seakan tak cukup untuk menyakitiku, Mas ... kalian berdua bersekutu merampokku. Aku nyaris bangkrut, dan jika itu terjadi kamu akan membuangku? Begitu liciknya kamu, ya, Mas?"


Suara itu penuh luka, Gian merasakannya.


"Tapi tetap saja, di sana ada uang yang bukan milikmu, Yang ... aku hanya minta kembalikan uangku!"


Gian menghela napas, pria macam apa yang dinikahi Mayang ini?


Plak!


Gian membelalak, kakinya berlari menuju mereka. Meski terlambat, tetapi pukulan kedua, berhasil Gian cegah. Gian menangkap tangan Ferdi dan melemparkan tubuh Ferdi ke belakang.


Kepala Mayang terantuk tiang penyangga emperan tempat parkir. Ia meringis dan memegangi pipinya.


"Jangan main tangan sama wanita, Bro!" Gian berkata seolah Mayang adalah miliknya yang wajib di lindungi, sampai-sampai dia menghardik Ferdi keras-keras.

__ADS_1


Gian tidak berkata apa-apa, ketika matanya jatuh pada Mayang yang sepertinya sudah lemah dan roboh pertahanannya. Tidak, mata itu tampak haru, menatap Gian layaknya seorang pahlawan.


"Kamu siapa ikut campur urusan rumah tanggaku?" Ferdi mendorong Gian, tidak suka melihat cara Mayang menatap Gian. Dia saja tidak pernah membela Mayang sampai sebegitunya.


Gian mengibaskan Ferdi dengan santai, lalu setelah memastikan Mayang baik-baik saja, ia menghadapi Ferdi.


"Maaf, bukan maksudku ikut campur, tapi jika ada wanita yang disakiti, aku berhak mencampuri." Gian menatap Ferdi lekat-lekat. Mungkin dia baru ingat siapa Gian, sehingga wajahnya langsung kecut dan ciut.


"Selesaikan masalah tanpa main tangan!" Gian memperingati.


Ferdi bergantian menatap Gian dan Mayang, seolah menekankan kalau urusan mereka belum selesai, setelah itu, tanpa berkata lagi, Ferdi meninggalkan tempat itu.


Gian membuang napas pelan, lalu menoleh ke arah Mayang. "Ada yang bisa aku bantu?" Gian mengulurkan tangannya.


Mayang terperangah beberapa saat. Dia bingung dan malu. Perlahan, ia menyambut uluran tangan Gian.


"Makasih ...."


*


*

__ADS_1


*


*


__ADS_2