Balas Dendam Istri Gendut

Balas Dendam Istri Gendut
Gerakan Cepat


__ADS_3

Jangan tanya bagaimana perasaan Mayang. Chaos. Kacau. Pusing. Rasanya kepala mau botak memikirkan bagaimana menjual produk ini. Belum lagi kemampuan freezer Mayang yang terbatas. Kalang kabut sendiri mencari pinjaman freezer, bahkan ia beli empat unit yang langsung ia tempatkan di masing-masing satu tempat usahanya.


Mayang ingin menangis. Tapi ia tahan di depan Wita dan karyawan lain. Tidak ... dia tidak akan kalah. Secepatnya Lea akan dia beri pelajaran.


"Wit, kita ambil untungnya banyakan dikit. Terus berikan promo beli lima gratis satu. Bisa kan?" Mayang menghadapi Wita yang tengah memasukkan barang-barang itu ke dalam freezer.


"Untung kita dikit dong, Bu ... cuma lima ratus rupiah aja per paknya." Wita langsung tanggap setelah berpikir sejenak dan mengawang kisaran harga jual yang dipintakan Mayang.


"Jangan lima, sepuluh aja. Enak banget kalau lima gratis satu, meski ndak semua pembeli belinya lima." Darmi menimpali.


"Banyakan atuh, Mbok ... mending kalau mau dijual kasih harga beda aja, Buk ... jangan diobral, kaya kalah kita jatuhnya, Buk. Toh pengunjung kita banyak, ini—freezer, ditaruh di depan, pasti mereka penasaran apa isinya," saran Wita.


"Ya, sudah kamu atur saja gimana enaknya. Kepala saya pusing." Mayang memang terlihat pucat, kurang tidur, dan lupa makan juga. Gila memang hari ini.


Wita mengangguk, lalu membuat rencana harga jual dan perhitungan laba secara kasar. "Ini bagaimana, Buk?"


Mayang menerima sodoran sobekan karton yang digunakan Wita untuk menggambarkan rencana penjualan. "Bolehlah, kita coba pakai cara kamu ini dulu, Wit ... setelahnya kita pikir lagi bagaimana baiknya."


Wita tersenyum senang. Mayang kembali bekerja, membantu karyawan lain yang dipaksanya lembur.


Mayang berjalan keluar sebentar untuk melegakan pikirannya sejenak. Ia mengusap wajah saking berat cobaannya kali ini.


"Yang ...."


Mayang menoleh, wajahnya langsung mengerut seketika kala menjumpai seraut wajah yang muncul dari kegelapan malam.


"Aku kebetulan lewat, kok tumben jam segini belum tutup." Ferdi menghampiri Mayang. Bisa dikatakan Ferdi sengaja mengawasi Mayang dari jauh setiap hari sejak ia berjumpa pertama kali setelah berpisah. Benar, semua baru terasa setelah tidak lagi bersama.


"Lagi ada kerjaan sedikit, Mas ...." Mayang menjawab sekenanya. Haih, tak jadilah dia melonggarkan sesak, malah tambah beban otak.

__ADS_1


"Biar aku bantu, Yang." Ferdi jelas tahu kesibukan Mayang. Dia melihat sejak tadi, tetapi ia terlalu sungkan dilihat banyak orang.


"Nggak usah, Mas ... sudah hampir selesai kok." Mayang menghadangkan tangannya, tetapi langsung diterabas oleh Ferdi.


"Aku hanya ingin membantu, nggak ada maksud lain!" Ferdi tersenyum. "Itung-itung sebagai permintaan maafku, Yang."


Ferdi berlalu begitu saja, ia segera membaur dengan karyawan Mayang yang langsung kaku melihat mantan suami bosnya ikut membantu. Kebanyakan mereka tidak tahu bagaimana harus bersikap. Hormat seperti dulu, atau biasa saja, sebab dia bukan lagi siapa-siapa di sini.


Jam sebelas malam, Mayang baru saja selesai mengemas semuanya. Menyisakan beberapa yang ia bagi pada karyawannya dan ia bawa pulang. Tak lupa ia ingat untuk membagi pada Hadyan. Ya, biar Gian ikut mencicipi jualan dadakannya ini.


Pun dengan Gian yang malam ini juga baru menyelesaikan operasi dadakan. Selalu begini jika rumah sakit daerah sedang tidak ada dokter, klinik Gian jadi tujuannya, meski ada klinik milik dokter lain, tapi Gian selalu jadi pilihan utama.


Dulu, Gian lah yang dianggap bisa menjadi dokter tetap di rumah sakit ini, tetapi karena Gian dianggap kurang profesional, rumah sakit memilih dokter lain. Yah, Anggia hamil muda, adalah penyebabnya. Gian menikah diusia dua puluh tujuh, dan setahun kemudian bercerai. Tahun lalu, klinik Gian beroperasi, sudah satu setengah tahun berjalan sampai sekarang. Gian sudah lebih baik taraf hidupnya. Setidaknya, ekonominya tak lagi ditopang oleh ayahnya. Gian tidak mau menyusahkan orang tuanya itu, makanya dia bekerja tak kenal lelah.


"Pulang lagi, Yan?" Dokter Ella yang merupakan partner Gian, bertanya usai memastikan semua dalam keadaan baik. Mereka berada di ruang kerja yang terdiri dari beberapa meja. Gian sudah siap dengan tas dan kunci mobilnya.


"Nggak ada, hanya heran saja. Nggak biasanya kamu pulang tiap hari." Ella tersenyum ringan. "Punya pacar?"


Tampak dimata Gian, kalau Ella sebenarnya tahu alasan kenapa Gian memilih pulang ketimbang di mess bersebelahan dengan Ella dan keluarga kecilnya.


"Aku ini jomlo ... kalau tiap hari denger ranjang berderit, ya, otakku—aww!"


Gian meringis akibat cubitan Ella di lengannya.


"Bicaramu ngawur!" Ella memerah karena malu. "Mana mungkin sampe kedengeran ke kamar kamu! Aku nggak semengerikan itu, ya?" Senyum Ella jelas tersungging malu dan sungkan. Telinganya panas.


"Silakan mengelak, tapi itu faktanya, makanya tiap tahun brojol kek kelinci." Gian terus menggoda Ella yang makin kesal dibuatnya.


"Kulempar sendal kapok kamu nanti!" Ella melebarkan matanya dengan sempurna. Gian diluar jam kerja, selalu ramah dan suka bercanda, berbeda sekali saat menghadapi pasien. Dia tegas dan menganggap semuanya serius. Dan Ella suka sekali dengan anak muda satu ini, seperti moodbooster sebelum kembali ke rumah dan, yah—Gian benar, menghadapi anak kelincinya yang berjumlah lima orang. Pantaslah Gian menyebutnya anak kelinci, mereka paling besar berusia hampir sepuluh tahun dan yang paling kecil satu tahun lebih beberapa hari.

__ADS_1


Gian hanya terkekeh melewati Ella yang marah, "malam ini stop produksi, ya, Buk ... soalnya lagi shift malem." Gian terbahak-bahak meninggalkan Ella yang manyun. Suka sekali Gian menggoda seniornya ini.


Gian melihat jam ditangannya, lalu berpikir untuk melihat Mayang di Tiga Dara. "Udah deket tapi belum punya nomer hape Mayang ... ngapain aja, sih, aku selama ini?" gumam Gian, mengatai dirinya sendiri lelet. Ia menggeleng lalu menaiki mobil meninggalkan halaman parkir Klinik Gian.


Honda Civic hitam keluaran tahun 2010 milik Gian berhenti di seberang tempat parkir Tiga Dara. Dimana Mayang sedang bersama dengan Ferdi di tempat parkir, Mayang tampak memberikan bungkusan plastik kepada Ferdi.


"Cepat juga si mantan pdkt lagi sama Mayang?" Gian bergumam. Hatinya mendadak panas. Sialan, ini tidak bisa dibiarkan.


Mata Gian mengawasi setiap gerakan Mayang, gestur tubuhnya, dan juga ekspresi Mayang yang tak terlalu tampak dari posisinya kini.


Tangan Gian bergerak mencari ponselnya. Sungguh ia ingin marah dan menghampiri mereka berdua, memisahkan dan marah-marah. Namun, Gian sekuat tenaga memenjarakan sifatnya yang satu ini, ia takut Mayang akan kehilangan feel padanya.


"Please, Mai ... jangan balikan sama mantan suamimu," gumam Gian. Tangannya bergerak cepat menghubungi seseorang.


"Pak, tolong tanyakan sama teman Bapak, kapan idah Mayang selesai. Lalu agedakan penghulu sesegera mungkin ditanggal sesudah idah itu berakhir."


Gian tidak boleh kalah, atau dia bersumpah tidak akan mau menikah lagi setelah itu.


*


*


*


*


*


Maaf, baru update, tadi kena senggol dewa bahadur, jadi oleng seharian😄

__ADS_1


__ADS_2